Things That Makes Me Happy 🍁
Ada banyak hal sederhana yang membuat saya merasa hidup. Bukan tentang kemewahan, bukan juga tentang sorotan maupun validasi. Tapi tentang hal-hal kecil yang pelan-pelan menyentuh hati saya, seperti bisikan lembut semesta yang bilang, “kamu masih di sini, dan itu cukup.”
Saya suka daun maple 🍁 warnanya, bentuknya, cara ia jatuh perlahan seolah tak ingin mengganggu bumi. Daun maple mengingatkan saya pada keindahan yang tak perlu keras-keras membuktikan dirinya.
Saya seorang petrichor, aroma tanah setelah hujan. Ada rasa hangat yang sulit dijelaskan, seolah dunia baru saja selesai menangis dan kini kembali bernapas lega. Itu membuat saya tenang. Kadang, saya diam di dekat jendela hanya untuk mencium udara yang penuh kenangan itu.
Saya suka aroma kopi, meskipun saya tidak meminumnya. Ada sesuatu yang menenangkan dalam wangi kopi yang baru diseduh seperti pelukan hangat di pagi yang sepi. Sama halnya dengan aroma roti yang baru dipanggang, yang mengingatkan saya pada rumah, dapur, dan rasa nyaman yang tidak bisa dibeli.
Saya suka mencoret-coret dengan crayon dan pensil warna. Bukan untuk membuat mahakarya, tapi untuk merayakan inner child yang tak pernah pergi dari diri saya. Ia masih di sini, tertawa saat warna biru saya keluar dari garis, atau saat saya menggambar laut dengan bentuk hati.
Saya cinta ombak dan pantai. Suara deburannya seperti pelukan alam, memeluk tanpa harus menyentuh. Pantai adalah tempat saya merasa utuh dan kosong sekaligus. Tempat saya bisa menyendiri tanpa merasa sendiri. Duduk melihat sunset di pantai adalah bentuk meditasi yang paling menenangkan untuk saya.
Saya selalu menunggu warna sunset. Langit yang perlahan berubah dari jingga ke ungu seperti sapuan kuas pelukis yang sedang jatuh cinta. Sunset membuat saya diam, dan hanya ingin menatap. Kadang saya merasa warna-warna itu berbicara langsung ke dalam hati saya.
Saya senang menonton Doraemon dan Chibi Maruko Chan. Dua kartun yang seolah tahu semua kenangan masa kecil saya. Doraemon dengan kantong ajaibnya mengajak saya bermimpi, sementara Maruko dengan kepolosannya mengingatkan saya pada kehidupan sehari-hari yang biasa tapi bermakna. Inner child saya tidak pernah benar-benar pergi, ia hanya lebih tenang kini tapi masih bernyanyi dan menggambar di dalam hati saya.
Saya suka malam setelah hujan. Udara lembap dan suara gemericik yang tersisa di atap genteng membuat saya merasa... pulang. Bahkan kalau saya sedang tidak di rumah.
Saya suka langit. Melihat awan yang bentuknya selalu berubah-ubah adalah hiburan yang tidak pernah membosankan. Terkadang saya menyebut mereka dengan nama sendiri-sendiri, seperti teman yang lewat di atas kepala saya.
Saya suka perjalanan menyenangkan, bahkan kalau hanya sekadar keliling naik motor tanpa arah pasti. Menyusuri jalanan, menyalip angin, sambil menyimpan detak damai dalam dada. Rasanya seperti membiarkan dunia berjalan, dan saya hanya ikut mengalir.
Saya suka museum. Melihat pameran, berjalan perlahan dari satu lukisan ke lukisan lain, membiarkan waktu melambat dan imajinasi meluas. Setiap karya seperti percakapan diam antara jiwa saya dan semesta.
Saya suka ke Gramedia. Hanya berdiri di antara rak-rak buku, mencium aroma buku baru, membaca sinopsis satu per satu. Saya tidak harus membeli semuanya. Hanya melihat buku yang berjejer rapi saja sudah membuat hati saya senang. Seperti bertemu sahabat lama yang tak pernah berubah.
Saya suka buku, hujan, pohon, malam, dan bulan. Saya suka menulis dan menyanyi pelan saat sendirian. Saya suka keheningan yang tidak hampa, tapi penuh makna. Saya suka hidup yang lembut.
Saya bahagia dengan hal-hal yang mungkin tampak sepele bagi orang lain. Tapi bagi saya, semuanya adalah bentuk cinta. Cinta yang sederhana, yang membuat saya tetap jadi diriku sendiri.
Dan saya pikir, itu sudah cukup. :)
--- TAKALAR KOTA|| 07 AGUSTUS 2025---