Buka Mata : Inflasi
Beberapa hari yang lalu, ketika mengajar, mendapati hal yang menarik. Kala itu, adik ajar izin permisi untuk jajan siomay.
âGak ikut jajan?â tanya saya kepada adik ajar yang tidak ikut jajan. âGak ah, mahal.â kata adik ajar itu. âMemangnya, bawa uang berapa?â âDua ribu, A.â âMemangnya gak cukup ya dua ribu beli siomay?â âCukup, tapi cuman dapat setengahâŚâ
Di sinilah saya kaget. Jaman SD dulu, beli siomay dua ribu dapat lima. Eh sekarang hanya dapat setengah. Bukan setengah porsi, tapi setengah siomay!
Beginilah kenyataannya. Hampir setiap tahun harga kebutuhan pokok naikâmengakibatkan harga jajanan ikut naik. Lantas, bisa tidak ya sekali-kali harga kebutuhan pokok itu tidak naikâatau bahkan mengalami penurunan?
Namun sayangnya, selagi uang yang dipakai adalah uang fiat (dolar, rupiah, euro, real, dll), maka akan sangat kecil kemungkinannya. Â
Mengapa demikian?
Dalam rezim uang fiat dunia pasca Nixon Shock 1971, harga barang-barang kebutuhan pokok di tingkat dunia hampir selalu dalam situasi naik.
Ketika ekonomi dunia sedang membaik, terjadi peningkatan kebutuhan yang tidak selalu bisa diikuti oleh peningkatan supply secara proporsional. Hal ini mengakibatkan harga-harga menjadi naik.
Sebaliknya, ketika ekonomi sedang memburuk, pemerintah-pemerintah dunia cenderung mencetak uang secara berlebihan untuk mencegah ekonomi terpuruk lebih lanjut. Maka terjadilah inflasiânilai uang jadi kurang berarti.
Maka, bagaimana solusinya?
Goat & Gold InvestmentâKambing dan emas atau Dinar yang sangat erat dengan syariah Islam. Di sinilah lagi-lagi saya dibuat kagum oleh Islam.Â
Kambing dan Dinar seringkali digunakan dalam pelaksanaan hukum syariah. Misalnya ketika pergi haji. Bila suami dengan istri melakukan hubungan sebelum tahallul, maka dikenakan denda menyembelih 7 ekor kambing atau 1 ekor unta. Adapun dinar menjadi standar nisab zakat, nisab pencuri, uang darah, dsb.
Hebatnya, harga kambing standar qurban bertahan di sekitar 1 Dinar selama lebih dari 1400 tahun. Karena kambing dan Dinar merupakan bagian tidak terpisahkan dari syariat agama, maka pasti keberadaannya dijamin oleh yang membuat syariat itu sendiri sampai akhir zaman.
Selain itu, Dinar tidak pernah kehilangan nilai atau daya beli; appresiasi nilainya mampu mengalahkan inflasi hampir 3 kali angka inflasi. Dinar menjadi proteksi asset yang sangat efektif untuk melindungi daya beli.
Walau demikian, Dinar tidak menjadi growing asset yang sesungguhnya. Satu Dinar tetap satu Dinar bila disimpan berapa lama pun. Ia tidak beranak dan daya belinya tetap setara dengan satu ekor kambing.
Di sisi lain, kambing setiap tahun beranak. Sekali beranak bahkan tidak hanya satu, kadang dua bahkan ada yang sampai empat. Inilah growing asset!Â
Di sinilah kita menemui fakta bahwa memelihara kambing seperti yang dilakukan oleh para nabi ternyata tetap relevan sampai zaman modern sekarang. Dengan kambing kita lawan inflasi.
===
Dan akhirnya, ditutup dengan penawaran kembali :)
alhamdulillah, saat ini @agriquran tengah mendapat amanah mengelola 91 ekor saudaranya kambingâalias domba, he he. Di antara plan ke depan adalah membuka program investasi. Bila berkenan, memohon doanya untuk kelancaran dan keberkahan.
Untuk saat ini, kami menawarkan program kerjasama. Bila ada yang tertarik untuk develop unit usaha berbasis produk turunan domba, boleh sekali berkabar. Silahkan hubungi kami di [email protected]. Barangkali ada kolaborasi yang bisa kita kerjakan bersama.
Yuk kita berperan di pentas perekonomian. Beramal jamaâi agar bisa berdaulat.













