Hati dan Lidah
Dua tahun belakangan, aku tinggal di kolong langit dimana sakit hati adalah kesalahan dan kebodohan besar. Dan bicara semau lekukan lidah adalah hal yang lumrah dan sah-sah saja.
Di kolong langit bagian ini, hati yang rapuh selalu menjadi makanan empuk yang mudah dilumatkan. Jika hatimu terlalu sensitif untuk sebuah kritikan pedas yang langsung masuk ke telingamu, maka kamu akan habis oleh tanggapan senada "berlebihan sekali, tak usah dipikir lah!"
Dan lisan jahat yang mudah berkomentar dengan redaksi semau lekukan lidahnya akan menjadi makhluk paling kuat dan diladeni banyak lidah lainnya. Lalu suasana menjadi sangat cair dan menyenangkan.
Ironinya hidup sebagai hati yang rapuh ditengah gempuran lidah yang lihai sekali mengomentari, menuduh, dan mengambil kesimpulan atas segala yang hanya dipantau oleh kedua mata pada waktu yang singkat.
Oh Tuhan, apakah kolong langit sebuas ini terhadap hati yang rapuh..
Tak adakah ruang baginya untuk menikmati tenangnya duduk di balik jendela. Melihat motor, mobil, truk, bis mondar mandir dengan suara dentuman sesuai dengan besar badannya masing-masing. Tak adakah ruang bagi hati menikmati gemercik suara hujan. Atau bahkan desir angin yang hanya bisa ia nikmati sambil duduk sendiri memejamkan mata, tanpa melakukan sesuatu apapun. Dan bahkan tanpa satu pun pertanyaan yang mesti ia jawab.
Oh Tuhan, tak ada kah yang bisa dilakukan lidah-lidah itu selain menyakiti hati yang rapuh? Tak bisa kah mereka mengatakan sesuatu yang lebih berguna atau diam saja? Tak tau kah mereka bahwa sepotong lidah bisa saja menghancurkan hati seseorang. Menghancurkan jiwa dari hati tersebut. Mencabut kebahagiaannya. Mencabut rasa nyamannya. Melukai hatinya. Menghilangkan kepercayaan dirinya.
Pernahkah lidah-lidah berpikir sejauh itu. Bahwa tak semua hati sekeras hati mereka. Bahwa tak semua jiwa sedatar jiwa mereka.
Wahai lidahku, kau tak perlu membalaskan dendam atas pedihnya yang hati ini rasakan. Kau cukup menjadi lidah yang baik. Yang dengannya banyak kebaikan terucap. Yang dengannya banyak orang merasa berharga dan dicintai. Yang dengannya hanya kesejukan kata yang dirasakan oleh telinga dan hati orang-orang yang keras dan datar.
Wahai hatiku, kupahami sakit dan merananya keadaanmu. Tapi engkau tidak rapuh seperti yang kau katakan. Kau hanyalah hati yang lembut yang penuh perasaan. Yang bisa merasakan kebahagiaan orang lain tanpa mereka berkata. Yang bisa larut pada kesedihan orang lain tanpa mereka bercerita. Yang bisa hanyut pada kisah oranglain tanpa kau mengalaminya. Kau adalah hati yang kuat dan berharga. Perasaanmu adalah jiwamu, yang membuat oranglain nyaman di dekatmu.
Dan lidah-lidah itu hanyalah alat yang Tuhan berikan untuk meninggikan derajatmu, saat mereka merendahkanmu. Yang menguatkan kesabaranmu, saat mereka mencemoohmu.
Semuanya tidak akan sampai kepadamu tanpa Allah yang menghendakinya. Dan tak ada satupun kehendak Allah yang melukai makhluknya. Kamu hanya butuh bersabar dan sedikit lebih kuat dari sebelumnya. Sedikit saja. Hanya untuk kamu bertahan hidup. Itu saja.

















