Kita adalah Forky, Woody dan Bonnie
Bagi yang mengikuti seri Toy Story, tahun ini menjadi menarik karena cerita Woody, Buzz dkk berlanjut. Dengan premis yang cukup menarik, yang bisa kita tebak-tebak dari trailernya. Saya gak akan bahas filmnya sih pada tulisan ini. Haha Tapi saya senang sekali sama satu karakter baru di film ini: Forky.
Forky adalah ‘mainan’ baru Bonnie. Forky dibuat secara tidak sengaja oleh Bonnie dalam kelas praktik di hari pertama sekolah TK. Namun ada yang unik dari Forky ketika ia hidup. Karena berasal dari barang daur ulang, ia terus menganggap dirinya sampah. Ia selalu ingin membuang dirinya ke dalam tempat sampah. Di kelas Bonnie, di kamar, di jalanan, bahkan di manapun. Karena ia merasa ia bukan mainan, seperti mainan lain. Ia adalah barang daur ulang, yang seharusnya sudah menjadi sampah.
Woody sih cukup sabar menjaga Forky untuk tidak membuang dirinya. Ia juga mau memberikan pengertian kepada Forky, bahwa ia berharga, bahkan sangat berharga untuk Bonnie. Forky boleh menganggap dirinya sampah, tapi bagi Bonnie, kehilangan Forky adalah kesedihan mendalam. Dan Woody, adalah teman terbaik sih dalam hal ini.
Kita semua adalah ‘Forky’. Saat keadaan sedang tidak berpihak. Saat banyak hal yang ingin dicapai tak tergapai. Saat semesta dirasa tidak lagi mendukung. Merasa diri kita sampah, ingin hilang atau mati saja dari dunia. Seperti semua orang juga tidak ada yang akan peduli. Kita lupa kalau kita punya ‘Bonnie’.
‘Bonnie’ yang selalu menerima kita apa adanya, bahkan merasa kita istimewa. Orang tua, keluarga, teman-teman terbaik dalam kehidupan. Yang sedih ketika kita sedih, bahagia saat kita bahagia. Salah satu alasan untuk kita terus berjuang menjalani hidup.
Dan terkadang, kita mesti juga menjadi ‘Woody’, untuk kawan-kawan, atau siapapun yang membutuhkan. Bahkan diri kita sendiri. Mengangkat kita dari jurang kelam perasaan tidak berharga, menyadarkan kembali bahwa di luar sana pasti masih ada ‘Bonnie’ yang menanti kita kembali.
Meskipun ini hanya cerita, cerita mainan pula, (haha) saya yakin pernah ada ‘Forky’ dalam diri ini. Maka sesekali jadilah kita ‘Woody’ atau ‘Bonnie’ bagi yang lain.