The precious thing : Learn how my son's learn
Belajar bagaimana anakku belajar. Kalimat yang mungkin tepat untuk menjelaskan proses kuliah di level 4 ini.
Hal pertama yang aku lakukan untuk memulai level 4 ini adalah "mengosongkan gelas". Yes, it means... aku tidak mau "menjudge" terlebih dahulu gaya belajar anakku itu A atau B, karena aku ingin penilaianku terhadap alta itu objektif hasil dari level 4 yang dilalui ini. Dan itu hal pertama yang amat penting dilakukan. Feels like : i want to follow you, son. Aku sebagai ibu di level 4 ini menjadi follower dia, bukan justru memaksa alta mengikuti caraku belajar atau bahkan mengajarkan dia.
Dan yang aku dapatkan justru alta yang mengajarkanku bahwa dia makhluk yang amazing, ciptaan Allah yang sangat amat membuatku takjub.
When i trust him, he can be the amazing kid. The smartest one
I do follow him, so i do trust him to lead me learn. Benar apa kata para pakar fitrah based education bahwa anak dilahirkan bukan selembar kertas kosong melainkan sudah diberikan bekal untuk menjadi "manusia terbaik versi-Nya" yaitu bekal fitrah oleh Allah.swt, yang sesungguhnya anak itu sudah pintar, sudah baik, sudah paket lengkap. Orang tuanya lah yang sesungguhnya menjadi "murid baru" sejak anak itu lahir.
So, i wanna say that...
Setiap orang tua akan menjadi "murid baru" di sekolah peradabannya ketika memiliki anak "baru" yang lahir dari rahim ibunya
Does it make sense? Yes, it does.
Kalau sudah punya mindset seperti itu, seorang ibu atau ayah tidak akan pernah membandingkan anak yang satu dengan lainnya, atau bahkan membandingkan anaknya dengan anak orang lain. Cz, every child is unique. Itulah kesimpulanku setelah melewati level 4 ini.
Thanks IIP Bunda Sayang, Allah perantarakan organisasi ini sebagai tempatku belajar dan mengamalkan basic ilmu parenting :)











