Day #4 Komunikasi Produktif: Interest dengan Hal yang Ditekuni Pasangan, dan Jangan Lupa tetap Jaga Kewarasan!
Hari ini tanggal 6 September, menulis diatas kereta menuju rumah kami di Jaten Karanganyar. Hari ini Alhamdulillah, menemukan pola komunikasi yang bertumbuh dan poin baru untuk terus dipelajari.
Selain terlihat interest dan sesekali mengamati, bertanya ini itu tentang sepeda atau proses membetulkan bagian bagian sepeda, saya juga mencoba belajar menambahkan kalimat apresiasi/pujian meski seringkali malah saya yang pingin nyaut lagi "ngeselin" melihat respon mas bojo yang kesenengan. Ya gapapa sih soalnya saya juga gitu kalo dipuji kegeeran wakaka. Saya juga belajar tawar menawar dengan win win solution kalau ada kondisi dimana saya ingin A, dan suami minta B. yang penting sama sama nyaman.
Nah ini tantangan yang kuhadapi. Tadi misalnya, kami berencana kembali ke Solo sore hari. Sudah beli tiket bis dari Terminal Pulogebang. Tapi tiba tiba dibatalkan PO siang hari karena bisnya tidak penuh. Kami pun segera berangkat dari rumah jam setengah 3 sore sambil mencari alternatif tiket bis lain atau kereta.
Sesampainya di stasiun Depok Baru untuk naik commuter line, bojo meminta diskusi dulu sebelum masuk peron. "Jadi mau gimana nih, bis ga ada yang bales dan bisa ditelfon. Yang td udah direfund. Adanya kereta malem jam 7 sama jam 9, satu ke Semarang satu ke Jogja."
"Hmm, kalo ke Semarang sampe rumah masih ada spare waktu kan. Kalo ke Jogja nanti kamu buru buru ke kantor atau malah mandi di kantor, aku ga mau.."
Karena suami perlu segera ke kantor, setelah sebelumnya nego supaya kita istirahat dan bersih bersih di rumah karena pulang dari jakarta dan naik transportasi umum.
"Ya atau ngga aku mandi di stasiun, gimana?"
Masih berat hati karena sebagai istri pinginnya kita sama-sama mencegah dan menjaga risiko untuk diri sendiri dan orang lain.
"kalo ada opsi yang lebih cepet sampe rumah, aku pinginnya kita ambil tiket yang cepet sampe. kalo ke jogja sampe sana jam 7an kan, nanti buru buru. semarang aja gimana?"
Demikianlah kira-kira diskusi cukup alot dan panjang sebelum kami bersepakat, namun setelahnya no hard feeling. Karna sama-sama sudah paham risikonya kalau turun di semarang gimana, turun di jogja gimana. Okesip.
Poin nomer 1 dan 2 sudah dijabarkan di atas, poin nomer 3 ini yang sebelumnya sudah saya biasakan sejak menikah. Namun yang kali ini, saya ingin lebih banyak bercengkrama dan lebih dekat. Misal ke adik bungsu bertanya bagaimana sekolahnya, "udah rajin dong up, mantap. udah hafal pelajaran apa aja? kemaren presentasi kangkungnya ema liat loh. kangkung itu gunanya apa aja ya up? yaah kok lupa. nanti rajin belajarnya yaa." ujarku sambil memberikan uang jajan.
Ke adik dibawahku juga, bertanya kegiatannya gimana. Mensupportnya untuk lebih mandiri dan menyemangati supaya adik saya ini mau meneruskan bisnis toko busana milik orang tua. "Mar ayo segera kerja di toko aja, biar mandiri dan waktunya diisi sama hal bermanfaat. Itu instagramnya kan udah kubuatin, tinggal diisi," kataku. Bertanya kendalanya apa, dan kalau butuh bantuan jangan sungkan mengabari supaya bisa bantu.
Ke kakakku bertanya perkembangan anaknya. "Kemaren berarti vaksin tetep ke puskesmas ya?" Karna aku juga lulusan kesmas jadi sering mengamati tumbuh kembang keponakan. "Mau kubeliin minyak aromateraphy ga buat akif? Itu ada banyak varian sesuai kebutuhan bayi." Kakakku pun menyambut dengan sangat baik, "boleh deh!"
Kepulangan dua hari kemarin, mumpung sedang pulang dan entah kapan lagi kami bisa bersilaturahim di tengah kondisi pandemi ini membuat saya ingin banyak memberi, bertanya, mendengar, dan menyemangati saudara saudara serta orang tua. Tak lupa setelah memberikan daster oleh oleh untuk keluarga di rumah dan kakak ipar juga, kami berpamitan. Ketemu lagi insya Allah!
Sekian untuk jurnal Bunsay Hari Ke-4! Semoga esok bisa lebih dan lebih baik lagi.
Salam, di sekitaran Cirebon menuju Tegal di atas KA Sembrani.