Belajar dari Totoro: Kalau Tak Bisa Merawat, Jangan Merusak
Alih-alih mendaku sebagai seorang movie-goer, saya lebih suka menyebut diri saya sebagai seseorang yang jatuh hati pada karya manusia yang sarat dan kuat soal rasa dan cinta ketika membuatnya. Dari mana saya tahu kalau karya itu dibuat dengan kesungguhan batinnya? Biasanya saya akan memeriksa, apakah pada akhirnya saya akan menerima pesan, kesan, pelajaran, kenangan, atau apa saja yang membahagiakan setelah saya menikmatinya atau tidak, baik itu karya berupa film, buku, lukisan, foto, musik, tarian, pentas seni, lakon teater, puisi, dan bakal repot jadinya kalau saya sebutkan semuanya satu-satu sampai lengkap.
Baru saja ke sekian kalinya saya lagi-lagi belajar bukan dari mata kuliah, tapi kali ini dari film. Lebih-lebih film ini datang dari kepandaian Hayao Miyazaki—sang Sutradara legendaris—yang begitu peka pada ihwal nilai dan prinsipnya. Judul film ini Tonari no Totoro atau dalam terjemahan bebasnya “Totoro si Tetangga”. Dari awal saya lihat poster filmnya, saya sudah dibuat penasaran seperti apa jalan ceritanya. Sampai pada tiga puluh menit pertama, seperti biasa khasnya film-film dari studio Ghibli, penonton akan dibiarkan dulu untuk mengenali tokoh-tokoh penting dalam cerita. Ada Satsuki, Mei, Ayah, Ibunya Satsuki dan Me, Nenek, Kanta, Ibunya Kanta, dan tentunya Totoro bersama kawan-kawannya yang menggemaskan.
Waktu pertama kali Totoro muncul dalam cerita, ia sedang tidur siang dan ditemukan oleh Mei yang tersesat di dalam pohon besar, tempat di mana Totoro dan kawan-kawannya tinggal. Dari situ saya sudah menebak, sepertinya kreator film sedang bermaksud mendefinisikan ulang gambaran masyarakat setempat tentang “penghuni pohon” yang gaib itu. Gambaran “dewa” dalam masyarakat Jepang, yang saya tahu, biasanya terlihat tegas dan menyeramkan lengkap dengan mata yang besar dan beberapa bahkan memiliki rupa yang tak beraturan. Lewat film ini, justru isi kepala penonton sedang diajak untuk merevisi anggapannya itu terhadap “dewa-dewa penghuni” dengan gambaran rupa yang lebih lucu dan menggemaskan, tinimbang lebih muncul sebagai sosok demit atau semacamnya. Biarpun begitu, rupa yang menggemaskan dari Totoro dan kawan-kawannya itu tak melepaskan karakter “dewa penghuni” yang tetap memiliki kekuatan super dan hal-hal yang berada di luar nalar manusia.
Oh iya, tulisan ini bukan sinopsis film tapi hanya ulasan singkat tentang pengalaman belajar saya dari film. Jadi, kalau kalian penasaran silakan nikmati sendiri saja ya. Cara nontonnya? Orang Indonesia pasti tahu deh cara-caranya :D. Sepanjang film ini saya mencoba memikirkan titik-titik (dots) yang kiranya perlu disambungkan pelan-pelan. Pertama, ide cerita ini sebetulnya sederhana. Ada satu keluarga pindah rumah ke desa yang dikelilingi tanah persawahan dan dekat dengan sebuah pohon besar. Barangkali dalam perkuliahan Ekologi, Pembangunan Berkelanjutan, dan sejenisnya, pembahasan tentang lingkungan akan disajikan dalam metode analisis yang ilmiah. Tapi, film ini hadir dengan keramaian fantasi dan ide-ide yang cerdas untuk menyampaikan pesan mencintai lingkungan di sekitar kita. Isu lingkungan adalah isu universal sekaligus dapat menjadi landasan etis manusia untuk meneruskan kehidupannya. Persoalan mana yang benar dalam pernyataan ini: manusia yang membutuhkan alam atau alam yang membutuhkan manusia tentu tak perlu didebatkan dalam seminar-seminar yang bikin ngantuk, bukan? Cukup perhatikan saja film ini sampai selesai. Cukup lincah saja memperhatikan ketika Totoro memberikan Satsuki dan Mei hadiah berupa biji pohon yang begitu banyak. Sampai adegan itu saja, seharusnya kita sudah belajar: rawatlah pohon, rawatlah lingkungan. rawatlah alam keseluruhan (eh, atau justru alam yang selama ini merawat kita ya? #mulaiLieur). Kalau tak bisa merawat pohon, jangan ditebang dan dirusak. Kalau perlu, hormati pohon sama besarnya ketika kita menghormati sesama kita. Sampai di sini, saya jadi diingatkan pada salah satu ucapan Nabi Muhammad yang bilang:
“Sekiranya hari kiamat hendak terjadi, sedangkan di tangan salah seorang diantara kalian ada bibit kurma maka apabila dia mampu menanam sebelum terjadi kiamat maka hendaklah dia menanamnya.”
Jadi, nasihat film ini sebetulnya nyambung dengan spirit agama yang sebenarnya begitu revolusioner sekaligus visioner, bahkan bisa ditarik sampai pada persoalan teologis yang panjaaaaaang kalau dibahas di sini mah.
Kedua, saya ingat ketika Nenek, Satsuki, dan Mei sedang berteduh di sebuah pohon sehabis memanen buah dan sayur di kebun punya Nenek. Nenek bilang, “Kita harus beri makan Ibu yang banyak, supaya dia cepat sembuh”. Kita bisa belajar apa? Kita belajar kalau produk alam memang yang terbaik buat tubuh kita, lebih-lebih jika produk alam itu datang dari desa yang biasanya dirawat dengan cara-cara yang alamiah. Hasilnya tentu lebih sehat dari perawatan dengan obat kimia. Kita juga diberitahu oleh film ini, kalau kita bisa makan dan minum karena alam yang disediakan Tuhan. Makan dan minum dari dalam tanah. Sungainya, pohonnya, gunungnya, sawahnya, kebunnya, anginnya, apinya, dan semuanya. Kita belajar untuk tidak angkuh dan gegabah pada alam. Setidaknya, saya pribadi.
Ketiga, yang paling menyentuh ketika Satsuki dan Mei mendapatkan telegram dari rumah sakit tentang kabar ibunya. Mereka segera menduga-duga kemungkinan terburuk yang mungkin menimpa ibunya. Mereka sedih sekaligus sama-sama menahan diri untuk tak kelihatan sedih. Sampai-sampai mereka harus bertengkar karena salah paham. Hingga mereka akhirnya diantarkan ke rumah sakit oleh bus kucing “gaib dan konyol” yang bisa terbang ke sana ke mari. Apalagi ketika Mei menggenggam sebutir jagung mentah yang betul-betul ia ingin antarkan untuk ibunya sambil bilang, “Jagung ini untuk ibu. Agar ibu cepat sembuh dan bisa pulang”. Wah, sampai di sini, dada saya tersekat haru. Gabungan genre fantasi, drama keluarga, dan tema lingkungan ini benar-benar sedap memainkan suasana batin penontonnya.
Betul, kan? Saya belajar banyak. Buktinya saya bisa tuliskan semua “tafsir” saya soal film fiksi ini. Eh, fiksi atau fiktif sih? Ah, ribet ya kayak ILC aja :D
Akhirnya, tafsir yang paling sahih hanya pembuat film yang tahu, saya hanya menerka-nerka. Di dunia ini, kita cuma sedang berusaha sampai pada kebenaran itu. Barangkali, film ini juga jadi wasilah usaha kita untuk sampai pada kebenaran yang mutlak itu, Tuhan Semesta Alam. Aamiin.
Eyang Hayao Miyazaki, karyamu keren euy!
Sumber Gambar: koleksi Pin kaysha zafira di pinterest.com