Prolog .
Maka malam pun menunjukkan kegelapannya, begitupun rinai hujan yang ikut mewakili semua gundah gulana, keresahan, isi kepala. Di sudut kamar, lanang jalang itu berteman dengan buku dan pena, di atas kertas kosong itu, jarinya menari - nari bak seorang tokoh teater yang sedang memainkan perannya, lewat tulisan ia berdiskusi dengan dirinya sendiri, serunya, ini belum selesai, belum usai, jangan berhenti di sini, lisan yang diam dan tidak bergumam namun begitu riuh di pikiran, masih banyak yang harus di sampaikan, rasa dan karsa, aksara - aksara. Demi masa, ia masih amatir an dalam banyak hal, semacam agama, hubungan, perjalanan, kopi, potografi, sosial, budaya, sastra dll.

















