Dramanya Butai Fandom Kemarin…
Jadi kemarin pagi menjelang siang, timeline twitter tiba-tiba rame. Masalah butai, lebih spesifiknya 2.5-D fandom. Dari dulu juga suka ribut sih, dan biasanya gue selow aja nontonin dari pinggir kalau lagi rame begitu, tapi ribut kali ini bener-bener bikin emosi jiwa. Apalagi setelah tahu salah satu ‘kompor’ yang berani-beraninya melabeli fans lain sebagai ‘elitis’ itu sama-sama orang Indonesia. Duh makin sensi aja jadinya! (untung gue lagi nggak puasa kemarin… www)
Sebetulnya sih siangnya nemu postingan yang isinya persis dengan apa yang gue pikirin. Bisa di cek di sini:
http://kuragenouta.tumblr.com/post/145640507512/nice-to-meet-you-all-i-am-the-butai-fandom
Gue cuma mau nambahin beberapa hal, sebagian udah dilepehin di twitter dari siang juga. Ini pertama kalinya gue bikin tulisan yang panjang di tumblr buat ngeluarin semua unek-unek. Spesial buat si kompor dan kawan-kawannya.
Mungkin kalian-kalian yang sepaham dengan si kompor itu belum bener-bener paham bahwa 2.5-D fandom itu nggak sama dengan fandom lain yang lebih mainstream. Asal tau aja, 2.5-D fandom beserta aktor-aktornya (kecuali beberapa nama) itu nggak terkenal di luar fandom itu sendiri. Ini serius. Waktu gue training di kantor di Osaka sekitar tahun 2013, orang kantor yang sekaligus penanggungjawab gue nanya, ada nggak seleb Jepang yang gue suka? Gue (yang waktu itu belum kesengsem Isedul sampe ke ubun-ubun) nyebut Yanagi Kotaro. Terus dia bengong, mukanya kebingungan gitu dan malah balik nanya ke gue itu siapa. FYI, penanggungjawab gue itu cewek, usia 20-an awal dan gaul, jadi dia familiar dan cukup update dengan selebritis-selebritis Jepang. Tapi dia nggak kenal Yanagi Kotaro. Padahal siapa sih fans Tenimyu, apalagi yang udah kecemplung dari lama, yang nggak tahu Yanagi Kotaro? Setelah gue jelasin sedikit, dia bilang dia mau cari tau dulu. Sorenya dia datengin gue lagi setelah gugling sana-sini, dan kita ngebahas soal Yanagi, Tenimyu dan butai/myu. Ternyata dia pernah denger soal Tenimyu, tapi cuma sekedar denger aja. Dia nggak tahu kalau Tenimyu segitu terkenalnya, bahkan kaget waktu tahu bahwa gue yang (sebelum training) seumur hidup tinggal di luar Jepang bisa tahu tentang Tenimyu dan suka. Endingnya gue dibilang sugoi, karena dia yang orang Jepang, tinggal di Jepang seumur hidup bahkan nggak tahu ada aktor 2.5-D butai yang bernama Yanagi Kotaro. Ini kejadian nyata yang gue alamin sendiri. Dan ini yang kalian perlu tahu dan pahamin. Bahwa 2.5-D fandom beda dengan fandom lain yang lebih mainstream. Bahwa orang-orang Jepang umumnya cuma ngenalin selebritis-selebritis yang sering muncul di film/dorama/iklan. Kalian tahu AKB48? Bahkan AKB48 yang segitu terkenalnya di seantero Jepang, yang pasti dikenal sama non-fans cuma yang sering wara-wiri di tivi/film/iklan.
Mayoritas dari aktor-aktor 2.5-D itu belum punya nama di luar dunia butai/myu. Nggak sedikit juga yang memulai karir di dunia hiburan dari butai. Postingannya kuragenouta ngejelasin lebih detail, tapi intinya adalah satu-satunya cara supaya mereka bisa terus eksis dan (hopefully) bisa tembus ke media mainstream ya dengan membuktikan kalau mereka punya banyak fans. Dengan begitu, perusahaan yang akan hire para aktor itu (entah untuk film, dorama atau iklan) tahu bahwa mereka bisa kasih profit. Nah, gimana cara membuktikan kalau mereka punya banyak fans? Ya pake duit. Salah satunya dengan beli official goods mereka. Sebenernya sih tiket pertunjukan dan fan meeting juga punya pengaruh, tapi untuk kita fans internasional yang memungkinkan ya cuma goods. Kalian-kalian yang berani melabeli fans-fans lain yang menolak untuk share hasil rip dvd atau scan bromide sebagai ‘elitis’ tadi sadar nggak bahwa kalian sendiri sebetulnya salah satu penyebab lahirnya para ‘elitis’ itu? Kalian tahu? Nggak sedikit dari mereka yang dulunya adalah fans baik hati yang selalu share apapun ke sesama fans. Mereka paham bahwa ada fans-fans internasional di luar sana yang nggak punya akses ke official goods. Tapi lama kelamaan mereka muak harus selalu nurutin kemauan para fans yang rewel dan nggak punya manner. Dibayar juga nggak, tapi direpotin terus, dibawelin terus. Mending kalau dapet ucapan terima kasih, lebih seringnya mereka makan ati. Udah dikasih tau jangan repost tetep aja repost (nggak ngasih credit lagi!). Udah dikasih tau jangan share link, tetep aja share link. Gimana mereka nggak muak coba? Mereka bahkan nggak punya kewajiban untuk share loh, itu 100% hak mereka sepenuhnya. Pilihan mereka. Lantas, apa salah kalau mereka akhirnya memilih untuk nggak share lagi atau cuma share ke orang-orang yang mereka percaya? Paling ironisnya kalau menurut gue, kalian-kalian yang berani melabeli itu nggak sadar bahwa salah satu yang bisa bikin aktor-aktor idola itu tetep eksis di jagat 2.5-D butai, ya karena orang-orang ‘elitis’ ini! Mereka yang rela ngeluarin duit untuk beli segala macem goods demi aktor-aktor dan butai yang mereka suka, bukan kalian-kalian yang cuma bisa melabeli orang lain. So what kalau mereka nggak mau share? Nggak ada aturannya kan kalau masuk ke 2.5-D fandom harus share?
Ada yang nggak mau beli bromide dan bilang sia-sia, buang-buang duit. Adaaaa~
Tapi kalau bromide aja emoh beli dan sampai bilang gitu, apalagi kalau beli cd/dvd? Bakal merepet sampai tahun depan kali..
Terus ada beberapa postingan di media sosial yang bikin gue gerah. Bilang katanya sih mau support idola nya. Tapi pas dibilangin caranya dengan beli cd/dvd malah marah, yang ngebilangin malah dibilang kasar dan nggak sopan. Laaaah emang kenyataannya gitu kok marah? Segala sampai bawa-bawa kondisi keluarga, ngeluh karena tinggal di Indonesia itu susah, semuanya terlalu mahal untuk dibeli, dsb. Percaya deh, kalian nggak sendiri kok. Sesama fans 2.5-D butai dari Indonesia juga pernah ngalamin hal yang sama. Serius. Ada yang butuh waktu bertahun-tahun sampai akhirnya bisa cukup mapan untuk beli goods official. Gue sendiri pun butuh waktu lebih dari 6 tahun untuk bisa mulai beli. Pertama kenal Tenimyu gara-gara dijerumusin sahabat jaman kuliah. Gue yang saat itu masih berstatus mahasiswa, mau banget support aktor-aktor idola gue. Tapi jangankan beli dvdnya, beli bromidenya aja masih nggak mungkin. Jadi selama 6 tahunan itu gue cuma bergantung dari link yang di share orang-orang baik hati di internet. Tapi gue selalu berusaha mematuhi ketentuan mereka, dan kalau nggak dikasih ya nggak bakalan ngerajuk kayak anak kecil. Toh gue juga nggak bakalan mati kalau nggak nonton kan. Dan emang dasarnya murah, kalau nggak bisa nonton videonya, baca reportnya aja juga udah girang hahaha
Sampai akhirnya mulai kerja dan punya penghasilan sendiri. Barulah gue mulai berani untuk beli. Itupun masih sedikit banget, bisa dihitung pakai jari. Gue sadar bahwa sampai sekarang pun daya beli gue masih terbatas. Tapi gue tetep mau dukung. Terus gimana? Ya bikin prioritas dong. Mana yang bakal berpengaruh besar buat karir idola gue, itu yang gue utamakan. Sisanya ya nanti, kalau (mudah-mudahan) ada rejeki lain.
Intinya semuanya butuh proses. Dan kalau memang niat, pasti ada jalan kok. Untuk hemat ongkir dari Jepang ke Indonesia yang lumayan mahal (kadang bisa ngalahin harga barangnya sendiri lol) misalnya, bisa titip cd/dvd ke kawan atau saudara yang mau ke Jepang (tapi jangan jadi ngerepotin loh ya..). Atau bisa juga gabungan beli barang supaya ongkirnya bisa patungan. Gue pernah ngelakuin cara ini sama temen-temen di kantor. Semua bisa kalau ada usaha.
Ngomong-ngomong, tulisan gue yang panjang lebar sampe sini nggak pernah bilang (dan maksa) kalau sebagai fans kalian harus beli ini dan itu ya. Coba aja scroll lagi ke atas dan baca ulang kalau nggak gumoh. Reply dan komen di media sosial juga bagian dari support yang bisa dilakukan fans. Tapi cuma sebatas itu aja NGGAK BISA MENJAMIN aktor idola kalian bisa selalu eksis di dunia butai, apalagi sampai tembus ke media mainstream. Follower aktor A di twitter sampai ratusan ribu, jutaan, ratusan juta pun nggak ngaruh juga kalau goods-nya nggak ada yang laku satupun. Inget ya, Jepang tuh punya sistem sendiri, jangan main pukul rata sama Indonesia. Rata-rata menjadikan tolak ukur kepopuleran salah satunya dari goods. Nah loh, lagi-lagi kembali ke goods kan?
Makanya yang dilakukan sama ‘elitis’ itu sebenernya baik loh. Coba kalau semuanya dari hasil download, terus yang beli goods siapa? Gimana caranya si aktor bisa eksis? Kalau dari kalian ada yang bilang, “Kami melabeli ‘elitis’ini karena dipandang rendah sama mereka! mentang-mentang mereka bisa beli goods mahal”, dan semacam itu, jawaban gue cuma: ah masa sih? Coba mana buktinya? Kok gue gak pernah liat yang macam gitu?
1. Industri hiburan Jepang nggak pernah minta (apalagi maksa) fans internasional untuk suka sama artis-artis mereka.
Kitanya aja kan yang kejeblos naksir ikemen-ikemen itu? Hayo ngaku~ Kalian perlu tahu mereka itu bisa bertahan dari fans domestiknya aja. Karena fans-fans Jepang tentunya paham sistem disana, paham apa yang bisa mereka lakukan untuk dukung idola mereka. Kasarnya mereka lebih pilih punya satu fans Jepang yang pasti beli goods, daripada punya 1000 fans internasional yang cuma komen di blog/twitter. Terus jangan dikira jadi fans Jepang nggak berat loh ya. Perjuangannya itu malah nggak tanggung-tanggung dan fans Jepang terkenal loyal (dan royal!). Coba bayangin kalau dalam sebulan idolanya ngeluarin banyak goods secara bersamaan, berapa banyak duit yang harus mereka keluarin? Mereka punya segala akses, jadi nggak bisa lagi tuh ngeles-ngeles bilang nggak bisa beli. Justru gue malah kasian sama mereka kalau udah begitu mah.
2. Sekali lagi semuanya adalah BISNIS.
Dunia hiburan = showbiz -> bisnis = duit
Mungkin kedengerannya kasar ya? Apalagi lewat tulisan yang nggak punya emosi (adanya emoji sih tapi tetep..). Masa sih fans cuma diukur dari uang? Tapi kenyataannya emang gitu kok. Ujung-ujungnya bakal ngarah ke uang. Karena semuanya pada prinsipnya adalah bisnis. Pake apa mereka bayar aktor-aktor itu kalau bukan pakai uang? Emang jumlah follower mereka di twitter bisa dimakan? Emang komen-komen kalian bisa buat bayar gaji karyawan di agensi-agensi mereka? FYI, agensi sebesar Johnny’s aja sampai sekarang masih pakai goods macam bromide buat support idol-idol mereka lho..
Intinya dari postingan gue sih gini ya, kalau kalian nggak rela (inget, beda loh dengan nggak bisa) bayar, jangan malah jadi bitter sama fans-fans yang rela bayar dong! Reply dan komen-komen kalian di twitter pasti dihargai kok. Asal juga tetep sopan loh ya. Lagian siapa sih yang nggak seneng kalau disemangatin? Tapi akan lebih berguna lagi bagi para aktor itu, kalau kalian juga beli goods mereka. Jangan nunggu sampe idol kesayangan kalian sampai mundur dari dunia hiburan karena kurang support. Jangan sampai nyesel, karena udah kejadian lebih dari sekali. Dan persaingan di dunia butai juga nggak main-main loh. Setiap harinya ada banyak ikemen lain yang siap menggantikan idola-idola kalian yang kurang dukungan dan akhirnya tersisih, padahal punya banyak potensi.
Terakhir, kalau habis baca segini panjangnya tulisan tapi kalian masih keukeuh ngedukung si kompor yaaa, terserah aja sih. Suka-suka kalian aja sebagai fans lah ya. Toh dengan marah, musuhin, dan melabeli fans lain, kalian juga tetep nggak dapet share muahahahahahahaha
(sori, emang settingan defaultnya gue jahat sih, untung bulan puasa XD)