Memberi Atensi Bagian Empat
“Tapi kamu pas baca puisinya lancar, ‘kan?” tanya Pak Bandi usai tertawa.
“Aku sih ngerasa cukup lancar,” Bari merespon.
“Bagus, itu yang penting. Selama kamu fokus, atensi atau perhatian yang kamu curahkan ketika membaca itu lebih berharga sih, daripada perhatian orang lain yang kamu ingin dapatkan. Itu yang disebut ‘Pay Attention’, kamu sudah tahu belum filosofinya?” Pria berusia kepala empat itu memberi pertanyaan kembali pada anaknya itu.
“Aku engga begitu yakin. Ayah jelasin aja, deh!”
“Oke, kamu tahu kan ‘pay’ dalam Bahasa Inggris berarti membayar atau memberikan uang maupun harta. Tapi mengapa attention atau perhatian juga menggunakan pay?” Pak Bandi mencoba memancing nalar putra kesayangannya.
“Karena perhatian atau atensimu itu juga sangat berharga,” Sang Ayah meneruskan.
Bari mulai bereaksi mengangguk-anggukkan kepalanya menyimak ayahnya.
“Karena itu ada media sosial yang bisnis modelnya menjual atensi penggunanya. Tapi itu akan Ayah sampaikan nanti, deh. Ayah mau sampaikan berkaitan dengan yang kamu alami hari ini dulu.”
“Wah, jadi penasaran yang medsos itu. Lanjut, Yah!”
“Nah, dalam hal kreatifitas, berdasarkan pengalaman Ayah, ketika ayah berkarya hanya digerakkan oleh keinginan untuk mendapatkan perhatian, Ayah justru tidak akan terpenuhi secara kreatif.”
“Hah? Maksudnya bagaimana, Yah?”
“Misal, sebagai penulis senang rasanya mendapat perhatian setelah buku Ayah terbit. Namun kalau Ayah berpikirnya sudah ‘bagaimana ya tanggapan orang kalau cerita ini tebit?’ ketika baru akan memulai menulis naskah, itu justru menghambat proses kreatif Ayah.”
“Oooh, itu yang Ayah maksud sejak kemarin. Ketika Ayah bilang mendukung aku selama aku fokus dan mencurahkan perhatian penuh kala menulis, menyusun kata dan membaca puisiku,”
“Karena itu jangan membuat sesuatu hanya ingin mendapat atensi. Berikan atensimu secara penuh dalam berkarya. Curahkan saja perhatian penuh ketika mengerjakan karya itu.”
“Hm, Baiklah Ayahanda,” tiba-tiba Bari menunduk bergaya menirukan ragam formal drama kolosal, “Tetapi tunggu dulu, Ayahanda masih berhutang menjelaskan kepada saya bisnis model dari media sosial.”
“Tenang Ananda Bari,” Pak Bandi tidak ingin kalah, “Ayahanda tidak akan pernah ingkar janji. Tetapi bersabarlah hingga esok hari kita bicarakan kembali. Ayahanda hendak beristirahat.”