Selamat Hari Radio buat radio-radio yang ada di seluruh belahan dunia, dan orang-orang yang berkecimpung di dalamnya. Hari ini juga sekaligus sebagai peringatan sejarah lahirnya radio lho, serta perkembangannya yang bertahan di tengah gencarnya teknologi informasi modern masa kini.
Tapi, disini aku ga bakal mendongeng tentang kenapa 13 Februari ditetapkan jadi Hari Radio Internasional, siapa pencetus radio pertama kali, dan segala titik bengeknya itu lah. Trus mau cerita apa dong? Hmmm……..
Awal masuk kuliah pasti pada bingung dan bertanya-tanya kan mau masuk organisasi apa ya? Masuk komunitas apa ya? Hal serupa terjadi sama aku pada saat masih menjadi mahasiswa baru UMM.
Pada saat UKM ataupun LSO mengenalkan dirinya satu-satu, aku udah mentargetkan UKM atau LSO yang harus aku masukin, photography lah, cinematography lah, sampai pengen masuk ke organisasi diskusi ilmiah gitu deh, kadang emang ga sadar sama kelemahan sendiri.
Singkat cerita, pada saat UKM Radio kenalan, tiba-tiba Dome -yang pada saat itu tempat diberlangsungkannya PESMABA FISIP- serasa kayak ada konser. Wajar sih heboh, UKM dan LSO lainnya kan cuman ngomong gitu aja. Tapi, UKM radio ini beda banget, jadi mereka berdandan ala SuJu, JKT48 dan Miley Cyrus, ya pakai topeng artis-artis itu, nari ala-ala mereka, pokoknya niat banget lah. Mungkin, itu sebagai nilai jual yang mereka tawarkan juga, karena zaman sekarang radio udah jarang banget di dengerin, bahkan orang-orang yang mau berkecimpung di dalamnya pun jarang.
Aku pada saat itu tidak terbersit sama sekali untuk mejadi seorang announcer. Bisa dibilang aku ikut-ikutan lah, tapi dalam hal postif dong. Temanku, sebut saja Dea dan Rani semangat banget buat daftar di Radio kampus, aku langsung terhipnotis pengen ngedaftarin diri juga, ya siapa tau jodoh. Dan memang jodoh, yang kemarin aku kepikiran pengen masuk organisasi ini lah, itu lah, tercancel semua, dan pada akhirnya organisasi yang aku masukin ya cuman UKM Radio ini. Aku yang kemarin tidak ada niat sama sekali buat masuk organisasi ini, tidak ada bayangan sama sekali radio itu seperti apa, tapi here I am, masih bertahan meskipun badai menghadang, ombak besar menerjang *cielah.
Walaupun masih di Radio kampus, ada kebanggaan sendiri sih kalau lagi nyiar. Ngumumin ke teman-teman, “Dengerin frekuensi 93,40mz ya, aku lagi nyiar loh”. Meskipun di belakang layar, penyiar radio dalam pembawaannya harus tetap semangat, apalagi Radio kampus yang ranahnya anak muda. Oiya, dan sebelum naik siar, penyiar itu harus di latih dulu agar saat berhadapan dengan mic, mixer, komputer, dkk bisa lues. Mungkin teman-teman mikir, “Halaah, penyiar itu mah, tinggal ngomong apa yang mau di omongin aja”, eits salah besar.
Artikulasi diperhatikan, speed kamu kecepetan, smiling voice mu ga da, suaramu kok datar, suaramu cempreng, pakai suara diafragma dong, penggalan katanya salah, dan masih banyak lagi, ya itulah komentar-komentar pas latihan untuk naik siar. Kurang lebih hampir sebulan JT (Job Training) itu dilaksanakan, dan itu tentunya masih kurang, masih perlu belajar belajar dan belajar lagi. Note to self, setiap mau naik siar harus minimal senam vocal lah ya :D
Sebagai penutup, aku ngutip dari (at)rj_ekta di Instagram yang pas ngebacanya itu I was like OMG, THIS IS JUST SO TRUE “Agree or Not, but it’s a fact that there has been a time when you tune in the radio and the song or talk on it made your day. Made you smile. That’s the beauty. One huge room filled with thousands of wires, buttons, levels, empty walls, and this single person (may be sick, may be not in a happy face, not in a correct vibe to speak) talks to lacs through that one channel. Connects. Feels. Lives your life too, wipes your tears, makes you strong, wishes you good luck, stands with you – and the best… without any relation. On this #worldradioday lets try and understand your that friend who only has one motto- to make you smile”