Mungkin Yang Bermasalah Adalah Aku
Aku baru saja membaca sebuah buku, dan buku itu menyadarkanku bahwa yang kualami dulu bukan hal yang aneh. Orang lain juga pernah merasakannya. Aku hanya belum pernah menuliskannya. Kali ini aku ingin menuliskannya.
Saat kuliah, aku adalah anak yang aneh — setidaknya begitu yang kubaca dari tatapan mereka, dari namaku yang dibisikkan di sela obrolan yang tak ingin kudengar, tapi tetap sampai juga.
Aku miskin. Aku memilih jurusan bukan karena mau, tapi karena hanya itu yang terjangkau, dan hanya beasiswa yang bisa membuatku tetap berkuliah. Aku datang membawa harapan tentang pertemanan. Yang kudapat jauh lebih kejam dari yang bisa kubayangkan.
Aku ingat suatu hari membuka pintu bilik kamar mandi, air masih menetes dari tanganku, dan mereka masih di sana. Salah satu dari mereka melihatku langsung. "Ups," katanya, setengah mengejek. "Kedengeran, tuh." Aku balas pandangannya, dan tersenyum meremehkan. Bukan menunduk — menantang. Senyum yang kubawa pulang bukan karena malu, tapi karena marah.
Ada yang memaksaku memilih antara belajar dan seorang teman. Ada yang memperlakukanku seperti batu di ruangan, lalu menangis di depan orang banyak sampai akulah yang tampak bersalah. Ada yang kukagumi diam-diam, yang ternyata paling menyakitkan, yang membandingkan hidupku dengan hidupnya, orang tuaku dengan orang tuanya.
Satu per satu mereka pergi. Dan aku sampai pada pikiran yang paling pahit, kalau hanya satu-dua orang bermasalah denganku, merekalah masalahnya. Tapi kalau hampir semua menjauh, mungkin akulah yang bermasalah. Aku memercayai itu sangat lama.
Perpustakaan jadi tempat persembunyianku. Aku menangis di sudutnya yang sepi. Aku bersepeda dengan headset menjuntai untuk memblokir kebisingan dunia. Aku berlari malam-malam dan berteriak di tempat yang kosong. Aku menjalani hariku hanya untuk hidup sehari lagi. Sehari lagi. Dan lagi.
Tapi bukan hanya luka yang kuingat. Ada yang memelukku saat aku hancur. Ada yang terus mencoba menyapa meski tak pernah kubalas, karena aku memang tak mendengarnya. Ada yang, dengan caranya yang paling tanpa basa-basi, menyadarkanku bahwa hidup memang kejam dan yang bisa kulakukan hanyalah berusaha. Ada yang, dengan lembut, mengatakan bahwa ia mengagumiku dengan segala keanehanku — dan membuktikan bahwa menyayangi berarti berusaha melindungi semampunya, meski pada akhirnya kami tidak berakhir menjadi apa-apa.
Bunga-bunga kecil itu yang membuatku terus berharap ada keindahan lain di depan.
Kini, di masa ini, aku masih mengingat semuanya. Sakitnya, sedihnya, senangnya. Tapi hanya itu — hanya kenangan, meski kadang masih tak ikhlas di beberapa hal. Aku sudah tidak hancur sepenuhnya.
Aku menulis ini bukan untuk menuntut siapa pun. Hanya untuk mengatakan bahwa aku pernah rapuh, dan aku bertahan. Dan kalau ada yang membaca ini lalu mengenali dirinya di dalamnya — sebagai orang yang pernah ‘menemaniku’, atau ‘melukaiku’ atau bahkan aku yang melakukannya — semoga kita sama-sama sudah menjadi orang yang lebih baik.















