Waktu yang akhirnya datang dituju, sedari sang penulis menulis tentang keinginannya berbuka karena dia telah menahan rindu yang sekian lama menetap, mengendap bahkan terlalu sering menginap.
Terlalu lama bermalam, sampai lupa caranya untuk bangun pagi, terlalu lama berantakan, sampai lupa ternyata ada kata rapih, mungkin benar bahwa ātime heals everythingā waktu adalah sebuah faktor terakhir yang akhirnya bisa menyembuhkan, tapi ternyata? Tidak, sekali lagi ditegaskan tidak, bukan waktunya tapi, isi waktunya. Sebelumnya mari kita fahami bahwa senja tak selamanya menandakan tua, senja hanya menandakan pergantian waktu yang memberi tahu kita bahwa kita ini sedang berpuasa dan telah menahan satu hari penuh agar terus dekat dengannya karena waktu ini menandakan dua kesenangan. Kesenangan yang pertama: karena buka puasa tadi, dan kesenangan yang kedua: akan bertemu engkau kelak di surganya nanti. Ternyata, ada kesenangan ketiga, yups, berjumpa denganmu, iya kamu. Bukan hanya perjumpaan yang hanya sekedar melepas senyum lega, juga melepas tawa bersama, namun lagi-lagi bagaimana kejujuran akan arti kehadiran masing-masing berarti tanpa berfikir bahwa waktu ini sudah masuk maghrib sudah atau belum?. Yakin, dan tuhanmu yang akan menyempurnakan keyakinanmu kelak, rencananya jauh lebih indah bukan? Kecewa pada mahluk sama seperti engkau meragukan hasil, yakin padanya walau tak sesuai perkiraan karena keraguan meleburkan bahkan memupuskan usaha yang sudah dibangun.
Ada kebahagiaan tersendiri yang tersirat bahkan mungkin tersurat ketika melihat senyumnya. Dua alasan utama kenapa dia menjadi sosok yang berbeda dan kenapa ingin diperjuangkan, dia manis dan senyumnya, ya senyumnya manis. Bak sebuah gula yang memaniskan rasa, bedanya, senyum yang ia punya memaniskan perasaan yang hampir sekian lama padam sekarang telah hidup kembali. Itās Reborn,, dudeā¦
Waktunya tiba, langsunglah kami memulai sambungan tali yang bingung dan entah harus apa selanjutnya, namun dengan senyum yang diberikan seketika jantung ini pun tertular kebingungannya harus berdetak ataukah hanya menjadi penonton sebuah rindu yang tersalurkan, ternyata indah, sangat indah. Terlalu berlebihan jika penulis menggambarkan seseorang sepertinya dengan kata sangat, akan tetapi hanya kata yang seperti itu yang pantas disematkan untuknya yang manis karena kami sesama hasil, dan kata yang sama untuk sang pencipta hanya maha, Maha Cinta, yang tak pernah bingung dan semuanya telah tertulis sebagaimana mestinya. Kebingungan ini mendasar karena dialah satu-satunya pelipur yang selama ini ditunggu.
Sudahlah jangan terlalu percaya kepada seseorang yang sedang dilanda cinta, karena dia akan jadi pujangga, jika putus, sifatnya hanya mendorong, memberi nasihat tanpa dia ingat itu ajakan atau hinaan, seperti itulah bijaksana. Namun ada hal yang paling penting, jika sesuatu bahkan seseorang tanpa cinta akan merana, tersiksa mungkin sakit yang lupa ada program BPJS, isi tunjangannya lebih sedikit daripada ketika kita harus mendaftar dengan sistem yang ribet dan ruwet, tapi lupakan saja kita sehat bukan karena obat tapi karena sang Maha Cinta memberikan cintanya dalam bentuk obat.
Satu sama lain punya jalan masing-masing, namun disini kami menyempurnakan jalan itu, sekedar berbagi senyum. Sesuatu yang kadang tidak direncanakan bahkan tiba-tiba akan terasa lebih terasa dengan nada yang merdu dan resonansi lebih berisi. Pernah berkata seseorang: āhujan itu 1% cairan dan 99% kenangan, ternyata perkataan itu salah, yang benar adalah hujan 1% curahan dan 99% senyuman. Senyuman yang turun karena cairan dan akan terus terkenang selama curahan itu ada. Tidak usah ditanya apa curahan itu sehingga terus terkenang, justru yang harus ditanya, bagaimana senyuman itu tercurah dan akan selalu tersirat.
Belajar memahami menjadi salah satu proses yang tidak dilakukan dalam hitungan jari, namun dilakukan dalam lipatan angka seri yang terus menerus dilakukan, proses itu bukan satu yang selesai akan tetapi proses itu kelanjutan ini menjadi itu dan terus menjadi. Sulit dan senantiasa banyak halangan namun itulah seni yang pada akhirnya akan menemukan kata indah.
Bagaimana kita memahami saling itu yang akan terus diusahakan sang hujan kepada sang empunya yang dijatuhi olehnya tadi? Akankah subur?, atau justru hanya sekedar melebur, sebagai jawaban dan sapaan sekedar atas datangnya hujan. Semoga tidak, hanya itu yang akan terus diusahakan sang hujan, jangan ketika datang diacuhkan, tapi ketika pergi dirindukan bahkan seakan memberi kesempatan untuk terus memohon dia datang dengan segala bentuk usaha, mental yang kadang berharap akan lenyap tapi mental āakanā menyatakan bahwa ini adalah teriakan yang selalu konsisten melakukan demi perubahan menuju manfaat yang terus dan perubahan terhadap keburukan yang digerus.
Semoga sang Maha Cinta-pun memberikan cintanya pada waktu ini sehingga kami bisa hidup dalam ridho dan naunganmu. Aamiinā¦. ;-)