Is There Something Wrong with Me?
*warning* please read other post, this one is too personal
Judulnya berat ya? Hehe. Ditulis pas lagi impulsif dan emosional, harap dimaklumi. Sebelum mulai menulis tentang judul diatas, cuma ingin curcol. Jadiii... Ramadhan ini sesuatu. Pengen banget banyak nulis dan share konten, tapi akhirnya terhalang, karena ada ganjalan di hati yang belum dikeluarin. Things that I bury and it become hill, jadi susah kan mau jalan ke depan, harus nanjaak. Jadi aku memutuskan menulis yang mengganjal itu, berharap mengurangi kemiringan tanjakan dengan menuliskannya, meratakannya dalam bahasa yang lebih tertata. Semoga, semoga setelah ini aku bisa lebih banyak menulis, lebih banyak melakukan hal-hal produktif. Ramadan padahal, masa sih nggak mau menggunakan bulan mulia ini untuk mengubah yang buruk-buruk di bulan-bulan sebelumnya? Semangat!
Aku benci harus menulis tentang diri. Tapi jika bukan lewat menulis, lewat apa lagi aku harus membuka diri. Tidak mungkin aku mau berkata-kata panjang menjelaskan tentang diri. Dulu mungkin, tapi sekarang, sudah tidak mungkin. Aku sudah tahu rasa nyamannya menutup diri.
Aku dulu tidak pernah berpikir, bahwa ada yang salah dalam hidupku. Aku tidak pernah berpikir ada masa lalu yang kelam. Atau luka yang dalam. Aku bahkan dulu selalu berpikir hidupku terlalu mulus, ada begitu banyak keajaiban dan kemudahan. Hijrahku mendekat ke islam relatif mudah, meski bukan dari keturunan, bukan pula lulusan sekolah islam, tapi aku terfasilitasi dan bertemu banyak orang yang membuatku belajar islam. Meski pelajaran itu lebih banyak kupahami dengan otak dan mayoritas hanya pelajaran teori.
Sampai suatu saat, aku dihadapkan di sebuah masalah, yang membuatku menilik kembali kepada diri. Masalahnya sederhana, tapi sikapku menghadapi masalah itu, adalah kebiasaan sejak kecil yang memorinya sudah aku lupa. Aku terlalu sering menyimpan semuanya sendiri, berusaha menyelesaikan sendiri, sampai aku tiba di momen saat Allah ingin mengajarkanku cara meminta tolong. Allah ingin melatihku untuk rendah hati dan mengetahui batas kemampuan diri. Tapi belajar minta tolong itu ternyata begitu sulit, aku lebih sering memilih 'lari' atau 'tenggelam'. Masa-masa lari dan tenggelam itu, masa jatuh dan terdiam dalam kubangan di dalam jurang itu, pelan-pelan mengubahku.
Bayangkan seorang yang jatuh di lubang berlumpur, lalu ia berusaha keluar, saat ia sudah bisa bangkit, dan keluar dari kubangan, apakah ia sama seperti sebelum ia jatuh? Tentu tidak kan. Wajahnya, badannya dipenuhi lumpur coklat kotor. Hampir tidak dikenali.
Mungkin perbedaan yang begitu kontras itu, yang membuat orang yang dulu mengenalku begitu heran. Meski dulu aku sudah sering supersensi, tapi kali ini lebih parah. Kalau dulu pintuku terbuka setengah, kini lebih sering ditutup bahkan dikunci. Kalau dulu, pintu tersebut ada gagangnya. Kini gagangnya sudah rusak, menyisakan pecahan sisa yang tajam.
Bayangkan seorang yang jatuh di lubang berlumpur, lalu ia berusaha keluar, saat ia sudah bisa bangkit, dan keluar dari kubangan, apakah ia sama seperti sebelum ia jatuh? Tentu tidak kan. Wajahnya, badannya dipenuhi lumpur coklat kotor. Hampir tidak dikenali.
Mungkin perbedaan yang kontras itu, yang membuat orang yang dulu mengenalku bertanya-tanya, is there something wrong with her? Maybe some jinn.. so they even suggest me to do ruqyah. First of all, ofcourse, my ego come forward. Reaksiku balik menyerang. Tapi lama-lama aku seperti tersugesti, benarkah? Barangkali begitu... apalagi dulu, di sana, ada rumor, bahwa pemilik tempat itu juga diganggu dan dikirimi 'sesuatu'. But we can't actually check that fact. Tapi terlepas dari itu logikaku merasa ini solusi yang nggak pas sebenernya. Tapi ya, aku diemin aja. Dalam hati aku juga nggak ngerasa takut. I mean, I read quran, and I feel it's effect of healing. So even if that kind of comment hurt, I still don't deny the benefit of it.
Years go by. That kind of comment gone. Lalu aku bertemu sosok baru, and I got some similiar comment from someone else. *there you go, I switch to english as this is a very personal topic.
This time not ruqyah, but to go to psychiatrist. Strange, but I don't feel much offended. As if I become numb. It's not the first time. So I reply shortly, "let's go together,"
Konseling dengan psikolog? Aku sudah pernah, jadi mungkin itu juga alasan lain mengapa aku tidak terlalu marah atau tersinggung. Aku ingat betapa sulit mengatasi kekhawatiran yang memuncak saat harus menunggu. Menangis sendiri mengatasi pikiran-pikiran buruk yang menyakiti diriku sendiri. Mengirim pesan ingin menyerah pada ibu, dan mendapatkan balasan menenangkan, memilih pergi untuk shalat dan sejenak menenangkan diri, lalu kemudian kembali dengan timing yang buruk. Tidak jadi bertemu, lalu harus membuat janji pertemuan baru.
Jujur, aku juga bertanya-tanya. Is there something wrong with me? Meski egoku sedikit tersakiti, ingin membela diri, bahwa aku tidak seburuk yang mereka pikirkan. Bahwa aku sudah berusaha untuk menjadi lebih baik hari ke hari. Tapi, tidak ada salahnya untuk meminta bantuan dan bertanya. Barangkali ada kabut persepsi diri yang hanya bisa dilihat dengan bantuan orang ketiga.
Yang aku tahu, aku memang terlalu memprioritaskan diriku dibanding orang lain. Dan prioritas ini membuatnya terluka. Yang aku tahu, aku memang manusia penuh kesalahan dan kekurangan. Dan mungkin ekspektasi tingginya padaku membuatnya kecewa. Sama, seperti ada kalanya aku memiliki ekspektasi padanya, kemudian terdiam saat melihat kenyataan.
People want me to change as fast as I can. As If I'm a power ranger, with a second, change uniform and become a hero. But I'm just a caterpilar, waiting for a long time before turning into beautiful butterfly. Like caterpilar that people look down, and feel disgusted, and scared of. *ralat. No, they mostly think highly of me, because the rahmah of Allah's hijab that cover and hide my sins.
Anyway, I'm not really sure if there's something wrong with me. Kalaupun nanti, suatu hari nanti, jika berkesempatan bisa mengobrol dan bertanya pada dokter ahli. Ada berapa pertanyaan yang ingin aku sampaikan.
Tentang rasa haus ingin sendiri. Rasa ingin bersembunyi dan menutup diri. I have so many times to be alone, but why I still want more? Apa karena aku kurang banyak berkhalwat dengan Allah? Apa karena aku kurang aktualisasi diri? Atau karena apa?
Pindah topik ke mbti, atau introvert extrovert. Aku pernah berpikir aku extrovert, lalu berpindah ke ambivert, tapi akhir-akhir ini.. rasanya aku benar-benar seorang introvert. Nonton fiksi trus ngerasa relate banget sama salah satu karakter. Maybe I'm an infp. watch on reels song about it, and noding along with the lyric.
Things like "always in emotional turmoil", "i love daydreaming", "even the word I heard long ago comeback to haunt me", "i have low esteem" etc..
If I could be brave. I want to say there'll always be something wrong with myself. I am a human after all. I want to keep learning about myself, and not feeling enough that I stuck on the same level or even worst going through the down fall.
I want to busy fixing my broken self, but always remember to be grateful cause every broken piece, I know there's a purpose and hikmah behind it.
Sekian tulisan panjang, tentang diri. I'll publish it, then put it in draft. Then post it in my other anonym blog I guess. It's too personal. I don't want a stranger to read it, and judge other people just because I wrote this in my short and lack of perspective. I mean, it's my pov. And I know I might be clouded by my own judgement.
Terakhir, semoga Allah memudahkanku untuk belajar mengenal diri lagi, dan menyelesaikan masalah yang harus diselesaikan. Semoga setiap tulisan menjadi jalan untuk terus mendekat pada-Nya, mengingatkan diri yang terus menerus lupa. It's Ramadhan, I know I'm at my lowest point now, feels like this Ramadhan is worse than before. but I don't want to give up. So let's pray and take a step.
Allahumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afwa fa'fuanna. Aamiin.