Gara-gara membahas doa Nabi Yusuf AS, gue juga jadi teringat dengan makna kata Laṭīf.
Di Indonesia, Al-Laṭīf biasanya diterjemahkan dengan "Maha Lembut". Tapi kalau kita membaca tafsir para ulama, makna "lembut" dalam bahasa Indonesia jadi terasa sempit sekali.
Kata Laṭīf mengandung makna sesuatu yang halus, detail, samar, dan bekerja dengan cara yang tidak selalu terlihat. Ada nuansa gentle sekaligus subtle. Sampai-sampai kebaikan-kebaikan Allah terkadang sampai kepada hamba-Nya melalui cara yang tidak kentara, sehingga kita tidak akan menyadarinya kalau tidak mencoba connecting the dots.
Makanya dulu waktu membaca terjemahan secara literal, gue sempat bertanya-tanya:
"Lah, Nabi Yusuf AS dibuang ke sumur, dijual sebagai budak, difitnah, dipenjara, dan dilupakan. Kok masih mengatakan bahwa Rabbnya Maha Lembut?"
Ternyata setelah membaca tafsir para ulama, baru paham bahwa Nabi Yusuf AS mengucapkan:
إِنَّ رَبِّي لَطِيفٌ لِمَا يَشَاءُ
"Sesungguhnya Rabbku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki."
bukan ketika beliau berada di sumur atau di penjara.
Beliau mengucapkannya setelah seluruh perjalanan hidupnya tersambung. Setelah beliau melihat bagaimana Allah mengeluarkannya dari sumur, membawanya ke rumah Al-Aziz, memasukkannya ke penjara, mempertemukannya dengan raja, mempertemukannya kembali dengan keluarganya, dan menjadikan semua luka itu tidak sia-sia.
Maka ucapan itu seolah bermakna:
"Sesungguhnya Rabbku mengatur semuanya dengan cara yang begitu halus, begitu detail, dan begitu rapi."
Ada jalan-jalan yang dahulu tampak seperti musibah, tetapi ternyata merupakan bagian dari pertolongan-Nya. Ada sebab-sebab yang dahulu terlihat acak, tetapi ternyata berada dalam pengaturan-Nya yang sangat teliti.
Kadang keterbatasan bahasa memang membuat kita ikut terbatas dalam memahami.
Dan mungkin memang sebagian kelembutan Allah baru bisa dikenali ketika kita sudah cukup jauh berjalan dan menoleh ke belakang.
Lalu berkata seperti Nabi Yusuf AS:
"Sesungguhnya Rabbku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki."