Lubang Hitam dalam Kepala
Secangkir kopi kuletakkan di atas meja kaca tak berkaki. Mengambang di suatu tempat yang tak kutahu di mana persisnya. Mungkin di antara nebula keunguan dan tepi Event Horizon.
Aku bisa sampai di sini karena aku hampir selalu membayangkan ujung semesta sebagai tempat yang sunyi, sebab badai di kepalaku selalu lebih berisik daripada tabrakan dua galaksi.
Saat kuangkat kepalaku, kudapati sesosok bayangan tanpa wajah di seberang meja sedang sibuk mengaduk tehnya.
"Kalian itu aneh," katanya, "menghabiskan miliaran dolar untuk memotret lubang hitam yang jaraknya jutaan tahun cahaya, tapi takut setengah mati menatap kekosongan di dalam diri sendiri."
Di bawah kaki kami, ruang dan waktu meliuk, melengkung, lentur, seperti permen karet yang sedang ditarik. Tidak ada hari Senin di tempat ini. Tidak ada ekspektasi orang lain yang harus dipenuhi, tidak ada benar atau salah. Hanya ada aku, si bayangan, dan sunyi yang pekat.
"Pernah kau perhatikan bagaimana kalian menciptakan jam dinding, lalu membiarkan hidup kalian diatur olehnya? Padahal waktu di alam semesta bisa saja mengalir sekacau air yang tumpah di atas meja." Si bayangan terus meracaukan hal-hal yang tak sepenuhnya kupahami.
"Ah.. kau tidak mengerti, ya?" Si bayangan rupanya segera menangkap kebingunganku, lalu mengganti pertanyaannya.
"Kalau kau bisa melempar satu hal ke dalam lubang hitam itu," ia menunjuk ke arah pusaran gravitasi maha raksasa yang sedang melumat sebuah planet malang di kejauhan, "apa yang akan kaulempar? Dosamu? Penyesalanmu? Atau mantanmu?" Dia terkekeh, suaranya bergetar membuat debu di sekitar kami berdansa.
Aku menatap pusaran gelap itu. Sesuatu yang begitu kuat hingga cahaya pun tak bisa lari darinya. "Aku ingin melempar kata 'seharusnya'," jawabku.
Aku seharusnya jadi begini. Aku seharusnya sudah mencapai itu. Dunia seharusnya memperlakukanku seperti ini.
Bayangan itu berhenti mengaduk tehnya. "Pilihan yang bagus," bisiknya. "Kata itu adalah rantai paling berat yang kalian pasang di kaki kalian sendiri."
Kami kembali terdiam. Menonton kehancuran dan kelahiran bintang-bintang di kejauhan, layaknya sedang menonton televisi di Minggu pagi.
Kadang-kadang, untuk melihat hidupku dengan jernih, aku harus duduk sejauh ini dari Bumi. Jauh sekali, sampai segala yang tampak seperti akhir dunia berubah menjadi titik yang nyaris tak terlihat.
Kopiku habis. Semesta tetap berputar. Namun di suatu tempat, entah di dalam lubang hitam itu atau di dalam diriku sendiri, kata 'seharusnya' akhirnya kehilangan gravitasinya.