Anak 5 Tahun yang Mengajariku Al Qur'an
Anak umur 5 tahun biasanya sudah mengaji iqro. Ada yang level 2,3, bahkan sudah ada yang tamat di iqro 6 dan lanjut Al Qur’an. Sebagian lain sudah hapal tiga surat “Qul” di luar kepala. Sebagian yang lain bahkan sudah menamatkan juz ‘amma. Namun, saat umur 5 tahun, justru aku berhentikan anakku mengaji iqro yang saat itu di level 3. Sama sekali belum mengaji juz ‘amma, bahkan tri-“Qul” yang hampir sering dibacakan tiap hari saja belum hapal.
Seringkali dia tantrum saat belajar iqro’. Ini adalah hal yang kurang baik. Tidak hanya bagi dia, saya pun. Itu artinya, membaca iqro’ ini tidak berhasil. Saya meyakini bahwa belajar harus dilandasi perasaan senang. Titik. Tidak bisa ditawar.
Jadi, apakah saya membiarkan anak saya untuk tidak membaca iqro’?
Ya.
Hal ini membuat saya merenung tentang tujuan jangka panjang. Apa yang hendak dicapai dengan bisa membaca iqro? Kalau anak sudah bisa dan hapal Al Qur’an, lalu apa? Awal itu, tujuan saya tak muluk-muluk. Saya hanya ingin anak mengenal Al Qur’an karena ada banyak kebaikan di dalamnya. Mengenal ada banyak cara, dan belajar iqro hanya salah satu caranya saja.
Ada satu hal yang dia tak pernah luput darinya saat adzan. Membaca doa setelah adzan dan memanjatkan doa setelahnya. Tanpa disuruh. Doa untuk kebaikan dirinya sendiri. Lantas, saat dia mendengarkan Al Qur’an, seringkali dia bertanya: itu artinya apa?
Itu artinya apa, bukan itu membacanya bagaimana.
Jika seorang anak tidak ada kemajuan dalam belajar, bukan anak yang harus dipaksa keras untuk bisa, tetapi gurunya lah yang harus belajar. Jika cara A tidak berhasil, ubahlah ke cara B yang belum pernah dicoba. Berbekal tanda-tanda itu, dengan izin Allah, pikiran saya langsung beralih bahwa saya harus belajar bahasa Arab. Supaya tahu artinya. Supaya anak mudah memahami Al Qur’an.
Setitik pelajaran berharga dari hari-hari membersamai dia menerjemahkan bahasa Arab seperti mendongeng.
Setelah Nabi Adam dan istrinya turun ke bumi, ayat setelahnya yang Allah sabdakan adalah tentang pakaian. Bayangkan, tentang pakaian, yang mungkin kita anggap sepele. Bukan ayat tentang salat. Bukan tentang haji atau puasa. “Berpakaianlah kamu dengan pakaian takwa. Ingatlah ketika iblis menghasutmu di surga sehingga tanggal pakaianmu dan itu yang menyebabkanmu turun ke bumi.” Begitu kira-kira.
Tentang percaya kepada pertolongan Allah jika kita meminta dan Allah akan menolong dengan cara yang tak pernah kita duga sebagaimana Allah tidurkan pemuda di dalam gua selama 309 tahun dalam Surat Al Kahfi.
Berucap insya Allah dalam apa pun yang kita rencanakan dan yang tidak kita ketahui dalam hidup sebagaimana anjuran Allah ketika memperselisihkan berapa jumlah pemuda yang tidur di gua. Tidak ada yang mengetahui pastinya kecuali Allah.
Tentang Yusuf yang sengaja dipenjarakan hanya karena ketampanannya. Padahal ketampanan itu adalah karunia Allah yang Yusuf tidak pernah meminta, dan itu salah di mata manusia. Manusia bisa bersalah di mata manusia lain tanpa melakukan apa-apa.
Setelah melalui proses belajar yang baru ini, saya baru paham apa tujuan belajar Al Qur’an dan mengapa Al Qur’an perlu dijadikan sebagai pedoman hidup. Karena semua yang terjadi sekarang ini pernah terjadi sebelumya, pernah benar-benar terjadi di masa lampau dengan pesan yang sama, tetapi adegannya berbeda. Maka tidak ada sumber pegangan hidup yang paling baik selain Al Qur’an karena tutorial menghadapi kejahatan dunia sudah Allah jelaskan dan beri petunjuk bagi siapapun yang mempelajarinya.
Haadza min Fadli Rabbi…


















