Menikmati Jarak
Hal paling dinanti-nanti sekarang ini, ya ketemu suami. Dulu sebelum menikah, saya dan Lutfi merasa akan baik-baik saja dengan jarak. Karena memang dari awal mulai ketok palu "oke kita jalani hubungan ini dengan serius" ya terpisah jarak. Dua minggu satu kantor, sisanya dipisahkan jarak Entikong - Batam dilanjutkan Entikong - Tangerang. Selama 3 tahun, kami merasa baik-baik saja dengan jarak. Kangen-kangenan iya, tapi baik-baik saja menjalani rutinitas masing-masing di tempat masing-masing. Waktu itu bisa saya bilang, kami sangat-sangat berdamai dengan jarak. Kami jalan tanpa drama-drama yang biasa disebutkan pada pasangan long distance relationship. Kami jalan dengan kebiasaan komunikasi jarak jauh tetapi rutin. Telfon setiap malam, cerita apa yang harus diceritakan, sharing macam-macam. Mungkin kendalanya ya cuma cuti yang terbatas, jadi kangennya harus disimpan sampai cuti selanjutnya. Sampai setelah menikah. Setelah menikah, Lutfi cuti hampir satu bulan, dilanjut saya yang ikut dia ke tempat kerjanya. Satu setengah bulan full sama-sama terus, tidak terpisahkan bahkan satu hari pun. Di satu setengah bulan itulah saya sadar, ternyata membersamai orang yang disayang sebegini bahagianya! Satu setengah bulan paling bahagia rasa-rasanya. Sampai pada akhirnya saya harus kembali menjalani rutinitas perkuliahan. Dipaksa berpisah. Baru kali itu rasanya saya benar-benar seperti dipisahkan secara paksa. Sampai di satu titik saya merasa sudah tidak bisa lagi menikmati jarak. Tidak bisa lagi berdamai dengan jarak. Menjadi cengeng di waktu-waktu awal berpisah menjadi pilihan saya. Saya lupa, bukan hanya saya yang mencoba kembali menikmati jarak. Lutfi juga. Setelah melewati awal berpisah yang melelahkan, akhirnya saya mulai terbiasa. Saya kembali ke rutinitas, kembali menikmati jarak dengan frekuensi jumpa lebih sering dari sebelum menikah. Alhamdulillah. Tahu apa yang saya dan Lutfi dapatkan dari menikmati jarak ini? Perasaan bahagia bahkan seminggu sebelum jumpa. Rasa deg-degan yang selalu ada waktu jumpa. Rasa syukur yang selalu kami rasakan ketika bisa ketawa sama-sama, ngobrol berdua, makan menu yang sama di tempat yang sama. Dari menikmati jarak, kami menemukan alasan bersyukur yang begitu luar biasa.
















