Mengapa Laki-laki Wajib Punya Rencana Pasca Menikah
Beberapa hari yang lalu, seorang kawan menemui saya dan bercerita tentang beban pikiran yang akhir-akhir ini sangat mengganggunya. Ia bercerita bahwa kondisi rumah tangganya terasa semakin hambar. Ia bekerja jauh dari keluarga (LDM), sementara istrinya yang kini punya penghasilan mandiri perlahan menunjukkan perubahan sikap yang dingin dan berjarak.
Mendengar curhatan tersebut, saya mencoba membantunya membedah situasi dari sudut pandang yang berbeda. Barangkali akar masalahnya bukanlah pada kemandirian finansial sang istri, melainkan akumulasi rasa lelah. Bayangkan, selama empat tahun sang istri membesarkan anak nyaris tanpa kehadiran suami secara fisik karena tuntutan pekerjaan di luar kota.
Sikapnya yang berubah barangkali adalah mekanisme pertahanan diri—sebuah sinyal tak terucap bahwa ia lelah, sekaligus pembuktian bahwa ia bisa berdiri tegak meski tanpa sandaran suaminya. Lalu, saya memberikan rekomendasi langkah sederhana, yang mungkin tidak sedikit laki-laki akan kesulitan karena harus melawan egonya sendiri.
"Pulanglah, ceritakan kondisi yang kamu hadapi dengan sejujurnya namun kali ini awali dengan meminta maaf."
Saya memintanya untuk memposisikan diri murni sebagai pendengar sebelum mulai 'menggurui'. Tentu, saya juga memvalidasi bahwa perjuangan dan usaha kerasnya di balik layar untuk menafkahi keluarga sama sekali tidak bisa dianggap enteng. Namun, karena tujuan utamanya adalah islah (memperbaiki hubungan), ia memilih untuk mengaminkan nasihat itu dan menekan egonya.
Tujuannya agar istrinya merasa aman dan yang utama, nyaman, untuk berterus terang tentang perasaannya. Selain itu, saya mengingatkannya untuk menggunakan waktu pulangnya murni untuk "bekerja" sebagai suami dan ayah seutuhnya—yakni mengambil alih tugas-tugas domestik dan pengasuhan.
Beberapa hari setelahnya dia memberi kabar:
Kisah di atas adalah tamparan sekaligus pengingat keras, khususnya bagi kita para laki-laki yang sedang merencanakan masa depan rumah tangga. Resepsi pernikahan hanyalah garis awal. Tanpa cetak biru pasca-menikah yang matang, kapal keluarga akan mudah karam oleh badai-badai kecil yang dibiarkan menumpuk.
Nyatanya, menikah memang tidak mudah. Semua ada ilmunya, dan wajib dipelajari sebaik mungkin. Sedikit atau banyak ilmu yang diserap dari kelas-kelas atau literatur pranikah, masih jauh lebih mending ketimbang tidak berbekal sama sekali. Sebab, ilmu betul-betul memiliki peranan vital sebelum amal.
Oleh karena itu, jangan hanya menghabiskan energi untuk merencanakan indahnya hari pernikahan, tetapi rencanakanlah dengan detail bagaimana akan memimpin pada hari-hari setelahnya.Persiapkan mental untuk berbagi peran pengasuhan, belajarlah menundukkan ego untuk menjadi pendengar yang baik, dan pastikan tidak hanya hadir sebagai penyedia materi, melainkan sebagai tempat pulang yang paling menenangkan bagi pasangan.
Gatau nikahnya kapan, yang penting ini pesan untuk diri. Hehe.