Your Gallery When Saka Was Your Boyfriend
Memori ketika aku sengaja mengabadikan dirimu dalam lensa kamera.
"Saaak, noleeeh!! Ayo, anak mama noleh, mau difoto sini!!"
Aku menggoyangkan lengan besarnya untuk membuatnya menoleh. Kamera yang berada di genggaman tanganku satunya sudah sangat siap untuk mengabadikan lelaki di sebelahku.
"Apaan, sih?" Ia menolak mentah-mentah.
"Sini ih, noleh duluuu! Nggak mau difoto emang?"
"Nggak."
"Iiih, Saka! Kapan lagi coba ke sini bareng?"
Aku masih mencoba untuk membuatnya menghadap kamera. Saka, lelaki itu, kemudian mengembuskan napasnya malas sebelum akhirnya menyerah dan menoleh ke arahku.
"Nah, gituu dong!" Senyumku sontak melebar, lalu dengan satu tangan sedangkan tangan lainnya masih bertautan dengan miliknya, aku mengambil foto.
Dia masih menolak untuk tersenyum padaku saat kamera masih menghalangku untuk menatapnya secara langsung. Tangannya masih menggenggam tangan kiriku, malah ia eratkan lagi, biasanya tidak pernah.
"Ih, nggak senyum, ah, malesiiiin!" Aku merengut malas saat melihat hasil foto tadi. Satria enggan peduli bahkan sedikit pun, tapi aku bisa merasakan tatapannya yang terus mengarah kepadaku.
"Ke sana, yuk?"
"Kok nggak ada yang senyum sih, Sak!"
"Lihat, tuh! Kayaknya seru di sana."
"Ih, Sakaㅡ"
"Udaaah ah, yuk."
Dia kemudian menarikku sambil mengambil langkah, yang mau tak mau berarti aku harus mengikuti langkahnya.
Foto satu, 2015, New York.
He shrug my hair before picking up his guitar.
"Wuih, ciee, artis mana nih?"
Aku meledeknya yang baru muncul dari pintu. Saka di ujung sana hanya tersenyum malu-malu sebelum akhirnya berjalan mendekat. Tangannya merentang, berhasil menghasilkan kerutan di keningku. Nggak mungkin kalau ini anak satu minta peluk, ya kan?
Tentu saja, sodara-sodara. Bukannya apa, tapi ia malah mengusak-usak rambutku, membuatnya berantakan tak beraturan.
"Heh! Apaan sih, seneng banget kayaknya?"
"Iya, lah!" Suara ringannya kini mendobrak pendengaranku selagi pemiliknya mengambil gitar akustik di sisi lain.
Aku terkekeh. "Yaudah, awas kalo lupain gue pas udah terkenal. Inget yang nemenin waktu ujan-ujanan beli gitar siapa!"
Tawa kecilnya mulai mengudara, yang kemudian aku ikuti. Pada akhirnya, kami berdua tertawa.
Detik kemudian ia sibuk sendiri dengan gitarnya. Aku yang tadinya tenggelam dalam aksi menggulir beranda di ponsel, tergerak untuk mengarahkan kamera ponsel padanya.
Dan dalam satu tekan.
Ckrik!
Foto dua, 2015, Studio, taken by me.
saka0116 posted: "Yes, we're ready!!!"
See 15 replies...
ezaparahita: "Ready mau ngapaaaain, bosss"
devahrnd: "Buset, gua jelek amat bang, setengah doang"
saka0116: "@devahrnd fotonya yang pilih @orenjiday"
orenjiday: "@devahrnd lo selalu keren kok❤"
saka0116: "@orenjiday hah"
Foto tiga, 2015, Nggak tau, accidentally saved from LINE.
"OEEEE KEREEEEN!!!"
"Buset, lu paling berisik, dah, suer. Drumnya Deva nggak kedengeran."
"Bang Eza, ada baiknya lu diem aja, oke? WOOOOOOO KEREN BANGET KALIAN SEMUAAAA."
"Udaaah tauuu gueee."
"... kecuali Bang Eza."
Saka dan yang lain tertawa kecil mendengar perdebatanku dengan Bang Eza. Heran, itu orang tingkat pedenya ngalah-ngalahin monas, tinggi bener!
"Saaak, liat nih, Sak! Foto jepretan gue nih, bagus, kan?"
Aku menyodorkan ponselku yang menyala terang untuk menunjukkan foto yang kuambil tadi pada Saka.
Saka dengan napasnya yang masih belum beraturan usai turun dari panggung kecil tadi dan berkeringat basah mendekat padaku, lalu mengangkat satu alisnya usai melihat jepretanku.
"Nggak ada yang fotonya gue doang?"
Foto empat, 2015, Concert Hall, taken by me.
Aku memandangi layar ponselku sambil menahan tawa. Setengah otakku memikirkan bagaimana Yayan mengelabui Saka supaya mau difoto dengan efek ala-ala seperti itu.
'Wkwkwk, kok mau dia difoto kayak gitu, Yan?'
Send? Send.
Foto lima, 2016, Radio, taken by Yayan.
"SAKAAAAAAAAAAAA!"
Di tengah keramaian, aku berteriak.
Memanggil namamu dengan senyum lebar.
Yang kau balas dengan lambaian tangan.
ㅡlalu kau balas senyum keindahaaaan~ (lah nyanyi)
Foto enam, 2017, Concert, taken by me.
"Bisa nggak, sih?"
"Nggaaaak, huhu."
"Ih, cupu, deh."
Aku mendelik marah padanya. "Enak aja! Cobain nih kalo bisaa."
Dia terkekeh pelan sebelum akhirnya melangkah maju menggantikan posisiku di depan mesin keparat itu. Tangannya menggesek kartu permainan guna mengaktifkan kembali mesinnya. Aku bersedekap tangan di sebelah, memantau apakah lelaki itu bisa mengambil boneka.
Saka kemudian larut sendiri dalam permainannya. Menarik tuas, menekan tombol, lalu berakhir dengan embusan napasnya diiringi suara cekrik dari ponselku.
Ia lalu menoleh sambil tersenyum lebar seolah-olah tak pernah melakukan apa-apa.
"Nggak bisa, hehe, yuk."
Foto tujuh, 2018, Game Center, Taken by me
ㅡㅡㅡㅡ 2020
WhatsApp notification
07.00
[Saka] Di mana? Masih di rumah, kan?
[Saka] Nitip Kirana, yakk
[Saka] Nanti dijemput maknya jam 12
07.15
[Me] Hooh
[Saka] Dah di depan, hehe.
Aku melirik pintu depan setelah membaca pesannya. Detik kemudian, tingtong, terdengar suara bel yang sukses membuatku bangkit dari sofa untuk membuka pintu.
"Haaai, Kirana!" Aku menyapa riang setelah mendapati anak kecil berumur 5 tahun dengan rambut dikuncir dua dan tas ransel pink tersampir di pundaknya.
Ia menghambur ke pelukanku. Wangi anak kecil yang khas seketika menyeruak masuk ke penciumanku.
"Eh, jangan peluk-peluk. Tantenya masih ileran, belum mandi!" Pria di belakangnya memegang pelan pundak gadis kecil tadi.
"Eh, enak aja, Sak!"
Saka, pria dengan balutan jas itu, terkekeh kecil setelah mendapat pukulan pelanku pada bahunya.
"Eza mana?" tanyanya sambil berusaha melihat ke dalam rumah dari celah pintu.
"Belum bangun, habis ngerakit gundam semalem."
"Ah, yang bener? Habis ngerakit gundam apa habis-"
"Sut sut sut suut, nggak usah sok tau, lo. Dah sana kerja, kerja! Heran gue, hari libur juga masih kerja, Kirana ayo dadahin dulu papanya."
"Iya, iya, buset galak amat, bumil."
Aku mengangkat tangan Kirana dan melambaikannya pada Saka yang sudah menjauh hendak menuruni tangga teras.
"Dadah Papaaa!" Suara Kirana cempreng mengalun.
Kemudian aku mengajaknya masuk dan menutup pintu.
"Udah sarapan belom, Kir?"
Kirana sudah duduk anteng menonton televisi, sedangkan aku melangkah ke dapur setelah mengambil ponsel di atas sofa.
"By... aku laper..."
Suara serak khas orang baru bangun tidur terdengar bersamaan dengan munculnya Eza yang rambutnya berantakan.
"OM EJAAAA!"
"Eh eh, udah ada Kirana cantik. Mau ngapain nih?"
"Za, kamu nggak malu sama Kirana baru bangun jam segini?"
Aku ikut menimbrung dari dapur walau sambil menatap ponsel cukup lama,
'Anda yakin ingin menghapus folder?'
'Ya.'
Folder 'Foto Saka' telah dihapus. Urungkan.
orenjiday posted: “Kok nggak malu gitu sama Kirana.”
See 10 replies...
ezaparahita: “Kok nggak malu gitu foto suaminya dipajang-pajang.”
saka0116: “Siapa duluuu bapaknya Kirana... ya gue.”
yayanmasbuloh: “Pagi-pagi junk food, ckck. Mau doooong.”
wiratno_jaya: “Bau Bang Eza kecium sampe tempat gue.”
devahrnd: “Kirana-nya manaaaa??????”












