So, karena kuping panas dengerin orang ngomongin film Train to Busan ini terus, saya juga akhirnya memutuskan untuk menonton film ini. Nontonnya gak di bioskop. karena saking canggihnya pembanjakkan di Indonesia, film ini udah nongkrong di e*g* Movie saat film ini masih di putar di bioskop (stand applause). E*g* movie ini adalah warung film yang jual film hollywood, series hollywood, drama korea, film korea, reality show korea, dll, yang anak Unpad pasti tahu warung film ini.
.
Ini saya baru banget beres nonton. Nontonnya berdua teman yang sama-sama panas kuping. Kita nonton tanpa cemilan soalnya kita diet. Gak juga, sih. Ga ada stok cemilan aja.
.
Lah, malah kelamaan curhat. Awal film ini menceritakan seorang ayah sibuk yang workholic. Saking sibuknya, ia hanya memiliki sedikit waktu untuk anaknya, bahkan ia tidak datang di pertunjukkan anaknya. Nah, si anak ini ceritanya ngambek berat karena ayahnya cuma obral janji untuk membawanya ke ibunya di Busan. (Btw, ayah dan ibunya sedang pisah ranjang). Selain itu dia ngambek karena ayahnya memberikan hadiah ulang tahun yang sama dengan tahun kemarin.
.
Dalam perjalanannya ke Busan, ayah dan anak ini mendapatkan masalah besar. Zombi man, zombi! Gara-gara ada seorang perempuan yang terinfeksi virus naik ke kereta yang menuju Busan ini. Banyak yang bertanya-tanya dari mana gadis itu terinfeksi? Nah loh! Well, menurut analisis saya (efek skripsi yang tak kunjung kelar) gadis ini terinfeksi oleh seseorang yang telah terinfeksi oleh orang lain, orang lain ini pasti terinfeksi lagi oleh orang lain. Gitu-gitu aja ampe saya kurus. Pasti ada orang yang pertama kali terinfeksi, kan? Siapa?!?! Di pertengahan film diceritakan ternyata sumber virus ini adalah limbah pabrik si ayah ini! Bawahannya yang bernama analis Kim menelepon ayah itu sambil nangis-nangis, “Itu bukan salahku, kan? Bukan salahku, kan?” lalu dia menutup teleponnya setelah bosnya bilang, “ya, itu bukan salahmu.” Bawahan kurang asem, emang.
Mungkin, air limbah yang mengalir melalui sungai ini diminum hewan-hewan. Masih ingat, kan, di awal cerita ada kijang (atau si kancil anak nakal, ya?) yang jadi zombi. Nah kayanya Si Kijang ini yang nyebarin virus zombi ini ke manusia. *ngebayangin kijang gigit-gigit manusia.
.
Adegan demi adegan di film ini warbiaza menegangkan. Suara sampai habis teriak-teriak. Di tambah aksi heroik bapak unyu yang istrinya lagi sensitif karena hamil besar. Bapak ini idola banget (punya gue, pokoknya!). Hidupnya tidak hanya memikirkan diri sendiri. Bapak ini bijak sekali, ia sempat menasihati Si Ayah agar lebih memperhatikan anaknya. Uuuh, idola! Demi menyelamatkan orang-orang Si Bapak Idola rela melewati empat gerbong penuh zombi. Dengan kerennya dia berkata, “aku yang memimpin!” di saat orang-orang mau jadi imam solat aja tunjuk-tunjukkan. Ini musuhnya Zombi, man, Zombi!
.
Bersama bapak idola ini. Ada pemain basbol (gini gak sih, nulisnya? Ah, domat!) yang ganteng. Perannya sama heroiknya dengan Si Bapak Idola, yah, kecuali saat di gerbong yang penuh dengan teman-temannya yang sudah jadi zombi. Di sana dia cuma bengong. God! Yang kayak gitu korbanin aja! Untung ganteng!
.
Si Ayah, Si Bapak Idola dan Si Ganteng ini bahu membahu menyelamatkan orang-orang sampai akhirnya mereka berhasil sampai di gerbong bersama ibu hamil, anak kecil yang uuunch abis, nenek tukang ngalah dan bapak pincang. Kalau bukan karena bapak egois yang, ugh! Kesl! Mereka semua pasti selamat. Sayangnya, karena keegoisan orang itu Si Bapak Idola dan nenek tukang ngalah jadi Zombi.
.
Ceu-eceu, sejak Si Bapak Idola jadi zombi itulah saya sudah malas nonton. Sejak itu saya berharap menit-menit selanjutnya menayangkan adegan mereka ketiduran di kamar mandi dan itu hanya mimpi! Namun tidak, saudara. Kekecewaan saya bertambah saat Si Ganteng juga jadi Zombi. Man, dia jadi Zombi digigit ceweknya sendiri! Ini dunia macam apa? Jadi zombinya gak ada heroik-heroiknya sama sekali. Kalau Si Bapak Idola jelas jadi zombi karena menyelamatkan orang lain. Lah Si Ganteng?
.
Kekecewaan saya belum berakhir. Kekecewaan saya menjadi-jadi saat Si Ayah juga jadi Zombi *cry like a baby*. demi menyelamatkan ibu hamil dan anaknya ia rela jadi zombi. Ini kenapa peran utamanya mati semua, sih?
.
Ending cerita ditutup dengan datangnya regu penyelamat untuk mengamankan ibu hamil dan Si anak. Ini regu penyelamat sampai aja belum ke mereka tiba-tiba udah kredit aja. Man! Tanya apa dulu, kek. Ini gak! Langsung kredit. Hal itu mebuat saya dan teman saya bergumam what the f**k bersamaan saat layar hitam dengan nama-nama pemain muncul di layar.
.
Untuk seseorang yang biasa dibacain cerita Cinderella, Putri Salju, dan lain-lain, saya sangat mengharapkan Happy Ending. Happy Endining cuseo, Jakkanim~~~
Well, di samping kekecewaan akan sad ending ini, ada pesan bijak film ini. Film ini mengajarkan kita untuk tidak egois dalam keadaan apa pun. Hidup kita memang penting, tapi hidup kita akan jauh lebih berharga jika berarti untuk orang lain. *eaa.
.
Omaygat! Racauan ini spoiler banget, btw. Yah, namanya juga racauan.