Begitu ramai penghuni di kepala, maka kubuat janji bertemu ketenangan pada pukul tiga pagi. Menyerahkan diri, melepas lelah, meminta sekali lagi kekuatan bertahan di dunia.
tumblr dot com
YOU ARE THE REASON
we're not kids anymore.
Show & Tell

Discoholic 🪩

Love Begins
Misplaced Lens Cap
AnasAbdin
🪼
Mike Driver
Sade Olutola

PR's Tumblrdome

Origami Around

blake kathryn

izzy's playlists!
i don't do bad sauce passes

titsay
taylor price

seen from United States
seen from China
seen from United States

seen from United States
seen from Malaysia

seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from Argentina
seen from Greece
seen from Malaysia
seen from Netherlands

seen from United States

seen from Malaysia

seen from Germany

seen from France
seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States

seen from Argentina
@emperanmalam
Begitu ramai penghuni di kepala, maka kubuat janji bertemu ketenangan pada pukul tiga pagi. Menyerahkan diri, melepas lelah, meminta sekali lagi kekuatan bertahan di dunia.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Mencari Tuhan Saat Butuh, Menyalahkan Tuhan Saat Hancur.
Ada fase ketika manusia kecewa pada hidup, lalu diam-diam mulai menyalahkan Tuhan atas hal-hal yang sebenarnya lahir dari pilihan, ketakutan, atau luka yang tidak pernah diselesaikan. Saat harapan tidak berjalan sesuai keinginan, Tuhan dijadikan pihak paling mudah untuk dipersalahkan—karena manusia sulit menerima bahwa sebagian rasa sakit datang dari dirinya sendiri, dari keputusan yang dipaksakan, dari ekspektasi yang terlalu tinggi, atau dari cara memandang hidup yang belum dewasa.
Padahal, tidak semua kehilangan adalah hukuman, dan tidak semua kegagalan berarti Tuhan meninggalkan. Kadang hidup hanya sedang menunjukkan bahwa manusia tidak selalu bisa mengontrol arah semesta. Tetapi ego sering kali lebih nyaman mencari kambing hitam daripada belajar menerima kenyataan. Maka lahirlah amarah yang dibungkus pertanyaan spiritual, seolah Tuhan harus bertanggung jawab atas semua hal yang tidak berjalan sesuai keinginan manusia.
Ironisnya, banyak orang meminta petunjuk, tetapi tetap memaksa kehendaknya sendiri. Meminta ketenangan, tetapi memelihara kebencian. Meminta jalan keluar, tetapi menolak berubah. Lalu ketika semuanya runtuh, Tuhan kembali diposisikan sebagai penyebab utama. Bukan karena Tuhan salah, melainkan karena manusia belum siap berdamai dengan dirinya sendiri.
Written by Aftansa
Measured Freedom
Waktu kecil, menu makanku sudah ditentukan sebelum aku sempat memilih. Semuanya serba diatur; sayur yang harus dihabiskan, gula yang dibatasi, dan jam makan yang ngga bisa ditawar. Dulu, semua aturan itu terasa menyebalkan. Aku membayangkan masa depan di mana aku punya kendali penuh atas apa pun yang masuk ke tubuhku tanpa perlu izin siapa pun.
Sekarang, aku bebas menentukan pilihanku sendiri.
Aku jajan apa saja yang aku mau, berkali-kali dalam sehari. Apa pun yang praktis, apa pun yang manis, apa pun yang bisa memberi rasa tenang sesaat di tengah jadwal yang padat. Aku selalu beralasan ini adalah cara untuk bertahan hidup. Aku terlalu yakin kalau tubuhku bakal selalu kuat, biarpun aku makan sembarangan. Aku sempat berpikir bahwa sistem imun ini bisa dipaksa untuk beradaptasi dengan pola hidup yang kurang terjaga.
Kenyataannya, aku cuma sedang mencari pembenaran.
Lucu rasanya melihat perbandingannya. Dulu, badanku dijaga sedemikian rupa—apa yang aku makan dan jam berapa aku tidur selalu diperhatikan. Tapi sekarang setelah punya kebebasan sendiri, aku justru memperlakukannya dengan sembarangan.
Aku sempat menganggap tidur jam sepuluh malam itu terlalu dini, tapi aku mulai sadar bahwa mengabaikan sinyal lelah tubuh demi merasa punya waktu lebih adalah kesalahan yang pelan-pelan mengikis pertahanan diri.
Belakangan ini tubuhku mulai memberi sinyal kalau dia ngga selamanya bisa diajak kompromi. Ada rasa capek yang ga kunjung hilang walaupun sudah tidur lama. Rasanya kontradiktif; di satu sisi aku belajar gimana kesehatan bekerja, tapi di sisi lain aku justru membiarkan pertahanan tubuhku menurun secara perlahan.
Aku baru sadar kalau aku sedang mengabaikan diriku sendiri. Tubuh ini bukan sesuatu yang bisa dipaksa terus-menerus tanpa dirawat—dia adalah satu-satunya mitra yang aku miliki untuk berjalan jauh ke depan.
Dari sini aku belajar kalau kebebasan yang sesungguhnya bukan berarti bisa melakukan apa saja tanpa batas. Ternyata, pola yang sama juga berlaku dalam banyak hal di hidupku. Bukan hanya soal apa yang aku makan, tapi juga tentang bagaimana aku menghabiskan waktu, memilih prioritas, hingga cara mengelola emosi.
Kebebasan itu justru ada pada kemampuan untuk mendengarkan apa yang sebenarnya kita butuhkan, bukan sekadar menuruti apa yang diinginkan oleh ego sesaat. Karena seringkali, apa yang terasa menyenangkan sekarang belum tentu menjadi apa yang kita butuhkan untuk jangka panjang.
Menghargai diri sendiri ternyata sesederhana memilih yang terbaik bagi diri sendiri di tengah banyaknya pilihan yang menggoda hari ini.
n.b nurturing the only home I truly own: a lifelong investment in the self.
Atur saja Tuhan, Aku Ikut.
Kita pernah ingin jadi penentu arah,
menggambar takdir di atas kertas rapuh,
lalu kecewa saat garis-garis itu
tak pernah menjadi nyata.
Kita pernah memaksa semesta,
agar berjalan sesuai maunya hati,
seakan kita tahu segalanya,
seakan kita tidak akan tersesat.
Tapi hidup mengajarkan kita pelan-pelan
bahwa tidak semua harus dipahami,
bahwa tidak semua harus dipunyai.
Maka hari ini,
Coba turunkan ego satu per satu,
melepas harap yang terlalu menggenggam,
dan berkata dengan sisa keyakinan:
Atur saja, Tuhan.
Jika jalannya berliku, aku akan tetap melangkah.
Jika harus jatuh, aku percaya Kau yang menadah.
Jika harus hilang, mungkin itu cara-Mu menyelamatkan.
Kita tidak lagi meminta arah yang pasti,
cukup hati yang kuat untuk percaya.
Jadi, atur saja, Tuhan.
kali ini,
aku ikut.
Written by Aftansa
Kalau lagi duduk diam, menyimak gimana alam ini bekerja dalam harmoni yang sedemikian teliti. Sampai aku jadi mikir sendiri: semesta aja punya ritmenya, apa mungkin hidupku yang terasa acak ini sebenarnya ngga sedang kehilangan arah?
Belakangan aku mencoba belajar menerima kalau keteraturan itu ga pernah datang dalam sekejap. Kadang aku merasa dibiarkan 'berantakan'—mungkin bukan agar hancur, tapi supaya aku punya ruang kosong untuk tumbuh dan menyusun kembali makna yang sempat hilang.
Ada kekuatan di luar logikaku yang sepertinya tahu betul di mana batas lelahku. Aku belajar untuk ga lagi memaksakan diri merapikan segala kerumitan ini sendirian. Aku hanya mencoba jalani bagian yang sanggup kujangkau hari ini dengan sebaik-baiknya, lalu biarkan sisanya ditata oleh Tangan yang lebih besar.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Notes on Becoming
Pernah aku berada di titik di mana aku terlalu keras mencoba, berusaha masuk ke ruang-ruang yang mungkin memang pintunya bukan untukku. Dulu, aku sering menyalahkan langkahku sendiri saat orang lain merasa ga nyaman. Padahal kalau dipikir lagi, memang ngga ada panduan yang pasti tentang gimana cara masuk ke kehidupan orang lain. Lagipula, aku pun baru pertama kali menjalani hidup ini.
Mungkin ada saat kita merasa langkah kita ga pas, atau bahkan membuat orang lain merasa canggung—aku rasa, mungkin itu cara empati dalam diriku tumbuh perlahan. Aku baru sadar kalau bagiku, belajar itu bukan hanya soal memahami orang lain, tapi juga tentang berdamai dengan langkah-langkahku yang pernah keliru.
Hingga akhirnya, aku memilih untuk sedikit melepaskan genggaman. Menjadi 'cukup' bukan berarti aku berhenti peduli, tapi lebih kepada memberi ruang bagi diri sendiri untuk bernapas.
Kedewasaan mungkin memang bentuknya seperti ini: tetap membuka pintu dengan tulus tanpa harus memaksa keadaan. Sesederhana dengan menjadi rumah yang nyaman bagi diri sendiri, sebelum mencoba menjadi ruang bagi orang lain. Jika ada yang datang, aku menyambut dengan syukur, tapi jika tidak, aku pun sudah merasa cukup tenang dalam langkahku sendiri.
Karena pada akhirnya, yang terpenting adalah keberanian untuk terus belajar dari setiap peristiwa yang lewat.
n.b. a small space for all the versions of me I’ve outgrown.
Simfoni Tak Sama
Tak perlu mencuri pandang pada lintasan yang bukan milikmu, tiap telapak kaki memiliki peta dan rahasianya sendiri. Biarkan detak menuntunmu pada jalan yang telah digariskan, tanpa perlu merasa tertinggal oleh binar yang tampak di mata orang lain.
Menjadi rapuh bukanlah sebuah kekalahan atau tanda bahwa kau telah hancur, itu adalah bukti bahwa jantungmu masih berdenyut dengan hangat, bahwa kau adalah makhluk yang memiliki rasa dan batas yang nyata. Tak selamanya harus berdiri tegak menantang angin yang kencang.
Tanggalkan topeng yang memaksamu untuk selalu tampak pahlawan di hadapan dunia, tak ada kewajiban untuk memahat tawa saat batinmu sedang merintih perih. Kau berhak atas segala emosi yang hadir tanpa perlu merasa bersalah.
Sangat lumrah jika hari ini kamu merasa sedang tidak berdaya, karena keberadaan paling murni, duka adalah tamu yang sah untuk disambut. Hingga nanti kesiapan itu datang kembali bersama fajar yang baru.
Jujurlah pada lukamu, agar ia tahu cara untuk pulih.
Kita menangisi luka yang disebut takdir, seolah Tuhan terlalu pelit pada bahagia. Padahal ada luka lain yang kita rawat diam-diam: dosa yang enggan kita akui sebagai sebab.
Tak ada manusia yang bebas dari gelombang, kadang badai datang dari orang lain, kadang dari diri sendiri. Kita mengira mampu mengemudikan segalanya, padahal hati pun sering karam tanpa suara.
Allah punya samudra rencana yang tak terbaca, menenggelamkan kita agar belajar berserah. Beruntung mereka yang menemukan pantai zikir, dan pulang pada jalan-Nya sebelum hilang arah.
Di medan batin yang tak berjejak, pedangmu terangkat melawan apa yang tak terlihat. Siapa yang tumbang, siapa yang berdaulat: jiwa yang sadar, atau desir nafsu yang berkhianat?

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Tiada sesuatupun yang luput dari perencanaan-Nya, semua diukur, ditakar, dan diberikan sesuai porsi yang dibutuhkan hamba-Nya. Semua diberikan ketika hamba-Nya dalam keadaan siap dan tentu dalam keadaan mampu.
Tiada yang tahu pasti hikmah utama yang dimaksudkan-Nya pada tiap peristiwa yang manusia jumpai, namun yang pasti hikmah selalu ada dibalik suatu peristiwa. Syaratnya hanya satu, keyakinan utuh dalam upaya menyingkap tabir hikmah yang seringkali sukar untuk dijumpai.
Tetap menjadi 'yang terindah' pada tiap perjumpaan dan perpisahan atas semua insan, rekan kerja, teman seperjuangan, maupun mereka yang senantiasa hadir dalam keadaan kita baik dan buruknya kita.
Ramadan ke 14. Semoga kita tetap istiqomah hingga akhir perjalanan.
Jangan menakar hasil dari pupuk yang ditebar hari ini; sebab tanah pun memiliki adabnya sendiri dalam menyimpan dan mengurai,
Benih tidak pernah berunding dengan musim, hanya setia pada tugasnya—membelah gelap, menembus sunyi, lalu tumbuh tanpa banyak suara.
Maka bila hari ini yang terlihat baru sebatas tanah yang diam, mungkin saja kehidupan sedang bekerja di kedalaman yang tak bisa ditafsir,
Yang tergesa biasanya hanya ingin panen, sementara yang tau proses akan bersabar merawat akar.
Tuhan tidak pernah berencana meninggalkanmu.
Kau yang sering merasa ditinggalkan, padahal sebenarnya kaulah yang perlahan menjauh. Dalam letihmu, dalam kecewamu, dalam amarahmu kepada hidup.
Kau berjalan mundur, tapi Tuhan tetap di tempat yang sama, menunggu.
Tidak ada langkah yang terlalu jauh bagi-Nya untuk dijangkau.
Tidak ada dosa yang terlalu hitam untuk diampuni.
Pintu taubat itu… Ia selalu terbuka.
Tak pernah benar-benar tertutup, bahkan ketika kau sendiri malu mengetuknya.
Ia tidak menuntutmu datang dengan pakaian terbaik, atau hati yang sudah bersih.
Datang saja—dengan air mata, dengan penyesalan, dengan seluruh dirimu yang berantakan.
Tuhan tidak jijik dengan hamba yang jatuh, Ia hanya menunggu, kapan kau berhenti berlari dari-Nya.
Ada masa di mana kau berpikir Tuhan sudah muak melihatmu jatuh ke kesalahan yang sama. Tapi tidak, Ia bukan manusia yang mudah lelah. Ia tetap menatapmu, dengan kasih yang tak pernah habis. Ia tau, hatimu masih mencari jalan pulang, meski langkahmu tersesat di banyak arah.
Mungkin kau belum siap hari ini, tak apa.
Tapi percayalah, Tuhan tetap menunggu di ambang pintu itu, dengan pengampunan yang luas.
Tuhan tak pernah berencana meninggalkanmu… Ia hanya menunggu, dengan sabar yang tak terbayangkan, di pintu taubat yang selalu Ia buka untuk kita. Datang dan mendekatlah…
Written by Aftansa
Semakin lama kita hidup, semakin banyak kita kehilangan.
Kita terus kehilangan. Namun sesekali, kita akan menemukan sesuatu yang membuat hidup layak dijalani.
Jangan menghukum diri terlalu lama. Karena membuat kesalahan juga bagian dari takdir yang Allah tetapkan. Bukankah setiap takdir adalah kasih sayang Allah?
Jika itu terkait manusia, maka biarkan ia pergi dan kamu belajarlah menerimanya. Jika itu terkait harta, maka terimalah itu hilang dan biarkan kamu mengambil pelajaran darinya. Meski menyakitkan, tetapi bukankah setiap langkah hidup kita adalah atas izinnya? Jadi, jangan terlalu lama menahan diri menemui matahari, jangan terlalu lama menyendiri.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Aku enggan mengulang-ulang memori tentang seseorang dengan mendengar, memikirkan, atau melihat hal-hal yang bisa mengingatkanku padanya. Terlebih saat sudah kuputuskan tak lagi membiarkannya ada di hidupku.
Pernah sebuah lagu diperdengarkan seseorang itu padaku.
Jadi, setiap kali teringat lagu itu, atau terputar acak di streaming music account-ku, aku skip. Selalu kubilang, "aku tidak mau lagi berurusan dalam bentuk apa pun."
Yang tidak kusadari adalah, setiap kali aku dengan sengaja melewatkan lagu itu, aku sebenarnya sedang melawan diriku sendiri, memaksa rasa sakitku tetap tersembunyi; menunda mengakui emosi itu.
Memang itu, kan, alasan kenapa kita sering menghindari lagu, tempat, atau benda tertentu? Kadang-kadang bukan karena sesuatu itu buruk, tapi karena menghadapi memori itu terasa berat buat kita.
Padahal emosi itu bertahan karena kita melawan dan menghindarinya. Dan itu sama saja menahannya tinggal lebih lama di dalam kita.
Saat kita berhenti berlari dan menghadapinya tanpa menyangkalnya lagi, lebih mudah bagi rasa sakit itu kehilangan cengkramannya.
Memang itu rahasianya. Rasa sakit, seringkali hanya ingin diakui oleh kita.
Begitu diakui, ia tidak lagi punya alasan untuk berteriak.
Semakin kita berumur, hidup sebenarnya sedang mengajak kita untuk beres-beres.
Kita mulai sadar bahwa tangan kita terlalu kecil untuk menggenggam semua hal. Maka, kita mulai belajar melepaskan beban yang berat di hati dan pikiran, seperti ambisi yang melelahkan atau urusan yang tidak perlu.
Tujuannya sederhana, agar tangan kita cukup luang untuk memeluk hal-hal yang benar-benar berharga.
Dan untukmu yang sebentar lagi akan bertambah usia, semoga bertambahnya angka ini menjadi awal yang lebih ringan untuk melangkah, serta lebih lapang untuk mensyukuri apa yang telah ada.