Hilang
Katamu kau ingin berhenti, menyudahi hubungan yang kita bangun ini.
Katamu kau ingin pisah, mengakhiri perasaan yang pernah ada di dada.
Saat kutanya mengapa, kau hanya diam saja.
Katamu kau sudah tak ada rasa.
Secepat itukah hilang? secepat itukah cinta yang kau agung-agungkan padaku menghilang?
Ke mana sisa-sisa cinta itu berada? Kau buang ke mana?
Aku terdiam. Merasakan duniaku hancur seketika.
Kau masih terlalu kucinta untuk kulepaskan sekarang.
Kau masih menjadi pusat dari segala apa yang kurencanakan sekarang.
Kau bergegas, membuka pintu rumah yang telah kita bangun bersama.
Aku terdiam, memandang punggungmu yang menjauhiku perlahan.
âPulanglah jika tak kau temukan rumah di luar sana.â Kataku
Kau terdiam membelakangiku. Kau berbalik, menatapku dengan tatapan sedihmu.
Tolong, jangan tatap aku seperti itu. Menatapku seakan-akan hatimu yang hancur, padahal di sini; aku hampir tak bisa menyelamatkan diri.
âTerima kasih sudah mencintaiku.â Lalu kau berbalik, menutup pintu rumah ini, dan pergi.
Aku runtuh. Aku jatuh.
Tangisku pecah seketika.
Kau pergi; kau bawa seluruh bagian dari diriku pergi bersamamu.
Aku hilang.
Tak ada lagi kamu.
Tak ada lagi aku.
Makassar, 20 April 2020
08.02 pm


















