âThat's the thing about books. They let you travel without moving your feet.â
- Jhumpa Lahiri, The Namesake. Ya, buku memang begitu. Dia membuat kita berkelana tanpa perlu ke mana-mana.
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

Noah Kahan

Product Placement
hello vonnie
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
Monterey Bay Aquarium

@theartofmadeline
The Stonewall Inn

Discoholic đŞŠ
Fai_Ryy
Aqua Utopiaď˝ćľˇăŽĺşă§č¨ćśăç´Ąă

titsay
cherry valley forever
I'd rather be in outer space đ¸
Today's Document
Claire Keane
trying on a metaphor
Show & Tell

seen from Malaysia
seen from Venezuela
seen from Venezuela
seen from Venezuela
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from Spain

seen from TĂźrkiye
seen from T1

seen from Russia
seen from Portugal

seen from United States
seen from Colombia
seen from Vietnam

seen from Italy
@donatmeses
âThat's the thing about books. They let you travel without moving your feet.â
- Jhumpa Lahiri, The Namesake. Ya, buku memang begitu. Dia membuat kita berkelana tanpa perlu ke mana-mana.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch ⢠No registration required ⢠HD streaming
goodbye 2019
âEh, gak berasa 2019 udah mau selesai, ya!â
Kalimat ini udah sering banget aku denger di beberapa minggu terakhir ini. Nggak cuma denger langsung in real life, tapi juga di media sosial (kayak yang lagi kalian liat sekarang hihi). Bahkan kadang aku juga ngucapin kalimat ini kalo udah nggak tau mau ngomong apa sama orang. Tapi akhir-akhir ini kalimat ini keluar dari mulutku karena aku benar-benar memaknainya.
Akhir tahun selalu jadi hal yang biasa bagiku, tapi nggak dengan tahun ini. Banyak sekali hal-hal yang bisa kupelajari.
Terdengar sangat klise nggak, sih? Hahahaha, oke lanjuuuutt...
Tahun ini tuh sisi emosionalku bener-bener diuji. Iâm trying to cope with my sadness. At first, it didnât work. Of course it didnât since I kept denying the truth! I know that I was not okay, but I keep telling myself that everythingâs gonna be okay. Lalu, ketika aku tidak bisa menahannya lagi, aku menangis. Sesenggukkan!
Aku cerita ke teman-teman yang bener-bener deket sama aku. Aku luapin semuanya. Dan yang terjadi adalah... I am so relieved. Nggak pernah setenang itu, nggak pernah sebahagia itu.
Terimakasih buat teman-teman yang selalu ada buatku. Dengerin ceritaku, nemenin kalo lagi nangis, menenangkan aku, memahami ideologiku, mau aku ajak jalan kalau lagi suntuk, ketawa dan merespon humor-humor receh yang aku share. Kalian sangat berarti di hidupku.
A note to my future self in 2020, 2021, 2022, ... âtil I die:
Jadilah orang yang lebih bahagia, lebih banyak bersyukur, lebih bekerja keras, lebih taat sama Allah. Peluklah semua kelebihanmu, kekuranganmu, dan kesedihan yang kau alami sebab hanya dengan itu kau bisa menerima dirimu sendiri dengan apa adanya. Hasil dari penerimaan diri adalah berupa rasa cinta kepada diri sendiri.
Aamiin!
Malang, 27 Desember 2019
Sampaikan Kapan Seksisme Ada Di Negeri Kita?
Seksisme masih eksis di Indonesia. Bahkan dianggap normal oleh masyarakat kita. Bagaimana bisa tuntas objektifikasi perempuan, kalau media yang punya kemampuan untuk edukasi malah memunculkan segmen seperti ini?
âMana yang paling cantik?â âMana yang paling seksi?â âMana yang paling kece?â âMana yang paling hot?â
Segmen kejar click bait yang memanfaatkan patron patriarki. Jelas kasus pelecehan terhadap perempuan tidak akan pernah selesai kalau mentalnya seperti ini. Sampai massif di media. Celakanya, kita menganggap ini baik-baik saja.
Source: berita Kompas.
Tentang Melepaskan
Hari ini aku belajar suatu hal.
Ketika kau menjauh dari seseorang, itu berarti bahwa kau belum bisa melepaskan dia. Namun, ketika kau telah melepaskan kepergian seseorang, dapat dipastikan adanya dua kemungkinan: kau memilih untuk diam dan menyapa, atau menjauh. Kau menjauh bukan serta merta karena kau masih tidak mampu melepaskan, tapi kau hanya tak mau sakit itu kembali terulang.
Aku sama nai ga bohong

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch ⢠No registration required ⢠HD streaming
JOKER
Semalam tak sengaja dan tak berkeinginan menonton Joker. Tapi, karena saya cukup punya waktu luang di malam hari, ketika melintas di XXI Margocity, Depok, entah kenapa kaki ini langsung masuk ke situ dan lihat Joker tayang jam berapa. Beli tiket. Menunggu 15 menit. Pikirku, âSelalu ada kejutan dan hikmah di tiap keputusan yang kita ambilâsekalipun itu keputusan dadakan.â
Seperti biasa, tiap kali menonton atau bahkan traveling, saya tidak pernah membaca atau mempelajari dahulu apa yang akan saya temukan. Jika saya sudah tahu, tentu tidak akan ada kata âtemuâ. Joker, ya, sudah barang tentu tentang nemesis Bruce Wayne. Sudah, itu saja yang kutahu. Soal isi, kita lihat nanti.
Film ini bukan tentang superhero atau penjahat super yang memiliki kekuatan destruktif menghancurkan satu kota. Tidak ada mutasi gen, tidak ada peralatan keren, atau bahkan alien. Film ini justru sangat humanis. Joker adalah realitas manusia yang menemukan kejanggalan dalam sistemâsekaligus jadi korban. Satu-satunya kemampuan yang ia miliki adalah narasi pemberontakan terhadap sistem yang membuat orang-orang Ghotam apatis. Bahasa politiknya: anarki. Joker lahir dari sistem. Dan, ia memilih untuk meruntuhkannya.
Saya tidak akan bercerita panjang. Sebab spoiler adalah musuh dari temuan-temuanâseperti prinsip awal saya di atas. Tapi, saya ingin berbagi tentang Joker dan bagaimana sikap kita (sebagai individual dan komunal) berpotensi melahirkan Joker-Joker dalam dunia nyata.Â
Bahwa Joker adalah manusia normal yang mengalami asam-garam kehidupan. Lahir dari orang tua anonim; diadopsi oleh perempuan psikopat yang membuat hidupnya sengsara; memiliki banyak kelainan, salah satunya Pseudobulbar Affect (PBA) yang membuatnya tertawa tak terkontrol; serta lingkungan pekerjaan yang meresahkan, mengakumulasi energi negatif dalam diri Joker. Dalam narasi film, Joker awalnya adalah manusia biasa yang tak tersentuh dosaâbaca: dosa kejahatan yang menyakiti manusia. Justru ia adalah korban dari dosa-dosa orang lain.Â
Di sinilah inti dari film yang saya tangkap. Bahwa, manusia biasa, normal, dan tak mengenal dosa, bisa berubah menjadi monster karena lingkungan yang membentuknya. Joker mengalami bully di jalanan, hinaan oleh atasan, cacian di lingkungan rumah, cemoohan di tempat kerja, kekerasan di transportasi kota, penipuan oleh teman kerja, hingga kebohongan soal identitas dirinya yang ditutupi oleh sang ibuâyang notabene adalah satu-satunya keluarga yang dia punya. Joker adalah korban dari manusia-manusia egois apatis. Manusia-manusia tak berakhlak dan tak memiliki hati. Dampak dari lingkungan bengis yang tak memedulikan psikologis orang. Apakah kita juga demikian?
Puncak dari gagasan âmenjadi Jokerâ ada ketika ia tampil di Murray Franklin Show. Terisolasi, terhina, tersungkur, baik ia secara pribadi dan masyarakat Gotham secara umumâyang sedang melakukan protes akan kondisi memprihatinkan mereka. Narasi puncak Joker ada di menit-menit ini.
Pernahkah kita mem-bully teman sekolah atau teman kerja? Mungkin dianggap sepele seperti body shaming, âKok kamu gemukan? Lemak semua!â. Meminta atau menerima atau memberi uang tip a.k.a sogokan agar urusan orang lain lancar? Membentak seseorang karena dia tak sengaja menjatuhkan HP-mu? Pernah? Menuduh seseorang dengan tuduhan pragmatis di dalam kepala, âIni orang kok bau, ya, apa engga mandi?â. Meng-cancel pesanan ojek online hanya karena tidak balas pesan 1-2 menit? Atau menuduh mereka memerasmu hanya karena meminta uang parkir dua ribu rupiah? Atau bahkan pernah memberikan bintang 1 karena driver tidak ada uang kembalian? Sering membentak anak dan memukulnya? Membohongi anak, melakukan manipulasi informasi, atau membiarkan potensi kejahatan dialami anak? Pernah? Atau sedemikian kasar terhadap pasangan hidup? Sering memukul?
Pernahkah para pejabat itu berpikir rakyat masih banyak hidup susah sedangkan mereka menuntut mobil mewah?Â
Disebabkan dosa-dosa kita Joker-Joker lahir. Sikap kita yang tak mampu membaca kesusahan orang atau sekadar empati terhadap kondisi orang tersebut. Kita membangun sistem masyarakat yang memproduksi Joker. Alaminya, kita semua adalah makhluk-makhluk tak berdosa. Joker pun demikian. Tapi karena keserakahan dan karakter antagonis yang kita munculkan ke orang lain, menyebabkan orang lain terpapar. Jangan-jangan selama ini kita begitu?
Joker ada di sekitar kita. Sosok seperti Arthur Fleck sebelum menjadi Joker malah lebih banyak. Mereka yang depresi, terisolasi, dan murung akibat perlakuan orang-orang di lingkarannya. Hanya kita yang terkadang tidak sadar bahwa pelan-pelan kitalah yang menjadikannya: Joker.
mengenal diri sendiri
kalian pernah gak sih ketemu orang atau temen atau keluarga kalian, terus mereka bilang âkamu itu orangnya blablablaâ dan itu bener. terus, kalian cuma bisa âeh iya yaâ âeh emang bener aku orangnya kayak gitu?â âmasa sih?â
beberapa orang pasti gak bisa mengenal dirinya sendiri. dan kayak fenomena di atas, dia baru sadar kalo dia orang yang A setelah ada orang yang ngasih tau. dan it happens to me.Â
beberapa hari yang lalu, temenku bilang kalo aku tipe orang yang gak nunjukin sifat asliku di depan orang baru karena aku tuh punya âlayerâ. jadi, diriku yang aku tunjukkan di depan orang baru belum tentu diriku yang sebenernya. dan setelah lama-lama dipikir, itâs true. buktinya adalah ketika orang baru pertama mengenal aku, mereka bakal pikir aku orang yang baik, lembut, pokoknya yang baik2 lah wkwk. udah gitu, setelah deket, kebuka tuh layer pertamaku. udah keluar sifat kocak, receh, dan gak jelasnya. tapi, masih ada layer kedua tuh dimana keras kepalaku udah keliatan, suka ngeluh, gampang marah karena hal-hal kecil, dan malesan. nah, udah gitu, masih ada layer-layer lainnya nih yang dimana gak perlu dijelasin di sini lah ya hahahaha.
masalahnya adalah karena karakterku ini aku tuh jarang banget nunjukin perasaanku yang sebenernya di depan orang baru, apalagi perasaan gak suka, kesel, dsb. beberapa bulan ini aku deket dengan orang yang agak kurang sreg di hati. alasan gak sregnya gak usah dijelasin lah ya. nah, jadi aku ngerasa gak bisa meluapkan kekeselanku ke dia ini loh dalam artian aku tuh tetep baik di depan dia padahal dalem hati âoh god i wanna get out of hereâ âastaga bacot anjâ âdiem kagak lu bacotâ âhalah bullshit bullshit bullshitâ jadi aku iri aja dengan mereka yang bisa ekspresif nunjukin muka âi dont like you. get out of my faceâÂ
i cannot do that pls i wanna cry right now :(
Allah does love me
Beberapa minggu yang lalu, sempat bertukar pikiran (baca: menggibah) dengan teman tentang seseorang yang menurut kami agak kurang ramah sama kami berdua. Gak tau juga awalnya bahas apa, tiba-tiba jadi kebahas orang ini. Kami semangat banget bahas orang ini sampe-sampe kami berdua gak sadar udah larut malam.
Beberapa hari kemudian, aku diajakin temenku hang out dan ternyata dia juga ikut. Pokoknya kami hampir ngabisin hampir sepanjang hari bareng and it turns out that they are not that bad. (sengaja pake pronoun âtheyâ biar gak ketauan gendernya).
Dan besoknya setelah aku pikir aku nyesel juga sempet ngegibahin dan berprasangka buruk ke dia. Di sisi lain, aku bersyukur banget Allah nunjukin kalo dia gak seperti yang aku pikir. Allah langsung ngasih bukti kalo berprasangka buruk itu gak baik karena kita, manusia, gak akan ada yang tau isi hati orang lain. Apalagi kalo gak begitu deket.
What My Parents Taught Me
Disclaimer: This post is going to be very long, but who cares??? No oneâs gonna read it, though.
Kalo ngomongin orangtua, berjuta rasa muncul di dalam diri ini. Emang betul kalo gak ada orangtua yang sempurna, begitu juga dengan orangtuaku. Sebagai anak pertama, aku ngerasa aku udah ngelewatin masa-masa susah dari awal pernikahan mereka hingga alhamdulillah sekarang udah lebih baik. Walaupun dulu aku masih sangat kecil dan gak ngerti apa-apa, ada banyak memori yang gak bisa aku lupain. I saw their characters developed. Ini udah kayak kuliah sastra, ya wkwkwk, but thatâs true. Aku melihat mereka dari orang yang berkepribadian A hingga sekarang mereka develop menjadi pribadi yang lebih bijak. Dulu aku cuma sadarnya orangtuaku jadi lebih baik, gak sering marah-marah lagi, tapi sekarang aku sadar kalo karakter mereka udah berkembang. And I feel blessed.
As I said earlier, my parents might not be a perfect parent. Tapi ada banyak hal yang bikin aku belajar dari kehidupan mereka dan dari apa yang udah kuraih hingga sekarang.
Sebenernya, aku juga baru ingat hal ini beberapa hari belakangan. Awalnya cuma sebersit pikiran âKok bisa ya aku sampai di posisi aku yang sekarang?â Soalnya aku ngerasa aku yang dua tahun lalu aja lumayan berbeda dari aku yang sekarang (dari segi pola pikir, ya. Kalo badan mah tetep aja gembrot wkwkwk). Aku itu bukan peraih ranking 5 besar, bahkan 10 besar di kelas. Aku biasa aja, pinter banget nggak, goblok juga nggak. Tapi aku bisa meraih apa yang aku inginkan (bukan bermaksud sombong). Kalo kata temenku, aku itu kayak ombak yang tenang. Aku mungkin gak secepat kalian yang pintar, tapi aku akan sampai di pasir pantai di saat yang tepat. And then I remember that since I was in kindergarten, my parents let me to choose the school that I want to.
Bisa bayangin gak sih, waktu itu aku masih 6 tahun dan aku milih sendiri SD yang aku mau. Dan karena diriku ini keras kepala, aku gak dengerin tuh kata-kata ortuku buat milih sekolah lain. Yaa, dan akhirnya aku sekolah di situ. Terus, waktu kelas 4 atau 5 gitu aku udah tau mau masuk SMP mana di saat temen-temenku masih bingung. And as long as I could remember, I chose that school by myself and guess what? I got it. Dan yang bikin aku takjub adalah orangtuaku gak pernah menghalangi aku buat ngejar apa pun yang aku mau, bahkan sampe sekarang. OMG IâM CRYINâ!!!!
Sama halnya waktu aku kelas 7, aku ngerasa Bahasa Inggrisku goblok banget. Emang dari SD aku gak suka Bahasa Inggris walopun waktu itu gurunya ganteng wkwkwk. Jadi, aku minta buat les Bahasa Inggris. Ortuku awalnya agak ragu juga, takutnya aku cuman ikut-ikutan tren les. Tapi waktu itu aku janji gak akan main-main. Eh, akhirnya keterusan les sampe kelas 12, dan sampe S2 pula. Tapi, semua berubah waktu aku kelas 9, waktu itu tingkat kerajinanku udah menurun drastis dan waktu itu NIMku lumayan mengecewakan. Alhasil, aku gak bisa masuk SMA yang aku mau karena minimal passing grade buat masuk SMA itu 33.00 an kalo gak salah. Sedangkan nilaiku cuman 28.00, wkwkwk aslinya emang males banget. Akhirnya, aku nyoba ikut tes di SMA 7. Waktu itu kan SMA ini masih RSBI, jadi masuknya pake tes. Ada tes psikotes, mata pelajaran, sama wawancara Bahasa Inggris. Eh aku lulus dong. Lucky banget masa. Terus sekolah di situ, deh. Di sana, aku juga bukan anak pintar. Kalo ranking juga paling ranking belasan. Gak pernah tuh masuk 10 besar.
Terus, waktu SNMPTN sama SBMPTN, aku milih buat ngambil di Malang, di UM. Aku juga bingung tuh gimana caranya ngeyakinin ortuku buat kuliah di luar Kalimantan, yaa namanya keras kepala yah... but I got it...
Memang aku juga pernah ngerasain kayak salah arah gitu, tapi aku ingat apa yang bikin aku bertahan sampe sekarang, yaitu cita-cita dan senyuman orangtuaku. Duh, jadi pingin nangis lagi, kan. Mereka ngajarin aku bukan cuma buat berusaha, tapi berdoa, sholat, ngaji, dan berbuat baik sama orang. Emang belum semuanya aku terapin dengan baik, tapi aku seneng aja ada orang yang bikin aku bangga karena aku memiliki mereka. Aku dan mereka emang gak selalu akur, ada banyak perbedaan pendapat tapi yeah, mau gimana lagi gap generasinya terlalu jauh.
Ada banyak kebahagiaan dan salah satunya adalah mereka.
Tentang Pertemanan
Jujur, aku tipe orang yang bodo amat, cuek, tapi bukan berarti aku apatis, ya. Bagi aku rasanya punya temen sedikit itu gak masalah. Gak jadi famous itu gak masalah. Gak jadi pusat perhatian itu sama sekali bukan masalah besar. Efeknya adalah aku jadi orang yang gak begitu pingin to initiate a conversation with new people, ya karena prinsip âkeeping my circle smallâ itu tadi.
Nah, hal ini tuh baru aku sadari beberapa tahun belakangan. Waktu aku masih SMP-SMA gitu, aku gak begitu sadar. Aku ingat dulu waktu SMP Mama bilang, âTemenmu kok itu-itu aja?â Awalnya aku sempet mikir âIya juga, ya?â Tapi ya udah, gak aku pikirin lagi. Terus semakin aku menginjak dewasa tambah tua, aku jadi sadar temenku emang itu-itu aja. And guess what? Iâm fine with that. Aku sama sekali gak ngerasa kuper atau pun culun. It feels totally fine.Â
Yang jadi pikiranku saat ini adalah sewaktu aku masih SMP sampe SMA, aku deket sama beberapa orang dan emang kalo kemana-mana sering sama mereka. Tapi ini tuh dulu. Sekarang, satunya udah gak ada kabar lagi. Snap story IG udah gak begitu aktif, gak punya nomer HP nya juga. Sedangkan yang satunya aku bener-bener ngerasa dia udah berubah, sih kalo diliat dari branding yang dia tampilin di IG. Dan aku ngerasa agak kurang sreg sama dirinya yang sekarang. Sejujurnya aku ngerasa agak jahat sih soalnya aku kayak gak ada niatan buat menyambung tali silaturahmi lagi. Tapi, di sisi lain aku mikir gini: âpeople change and i canât control that.â
At some point, aku ngerasa kalo karakterku ini mirip Harry Potter. Dia tipe orang yang kenal dan baik sama semua orang, tapi circle dia tetep di Hermione sama Ron, gak pernah berubah. Hahaha apa banget dah. Tapi, aku emang pernah ikut kuis ala ala gitu di internet dan dari semua karakter Harry Potter, karakterku itu paling cocok sama Harry.
Jujur aku gak bisa nyimpulin apa-apa dari tulisan ini.Sebenernya gak pantas buat ditiru juga, sih. Wkwkwkwk. Yep, tapi aku yakin gak cuma aku yang punya prinsip kayak gini. Dengan semakin bertambah umur dan sibuknya seseorang, kadang ia udah gak punya waktu lagi buat nyari temen sebanyak mungkin. Pilihannya ya cuma stay in their small circle itu tadi.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch ⢠No registration required ⢠HD streaming
Pertanyaan yang sulit...
Last night, my friend asked me this, âKalo nanti kamu menikah dan suamimu minta kamu stay di rumah, melakukan pekerjaan rumah, tanpa bekerja, kamu mau nggak?â
Well, this topic has been widely wondered around in my brain since I graduated from my S1 degree.
Apa sih fungsi seorang wanita di masyarakat? Apakah hanya sebagai pendamping suami? Apakah wanita memang seharusnya berada di belakang suami? Manut atas semua kata suami, gitu? Lalu, gimana dengan mereka yang belum atau tidak ingin menikah? Lantas, apakah itu membuat mereka tidak bermanfaat di masyarakat?
Jawabannya tentu saja sangat beragam. Ada yang melihat hal ini dari sudut pandang agama, sosial, bahkan power.
âPerempuan nggak usah lah berkarir setinggi itu. Kalo pun mau kerja, kamu kerja jadi **** aja. Enak, banyak waktu luang buat suami dan keluarga.â
âDalam Islam, suami itu imam buat keluarga. Suami itu leader. Jadi, turutin aja apa kata suami. Mimpi kamu itu bodoh dan nggak ada artinya kalo suami kamu udah bilang nggak.â
âKamu mau suami kamu jajan di luar kalo kamu kerja dan sering ke luar kota?â
Again, social constraints affect our everyday life, even our decision making.
Suami seorang imam atau seorang pemimpin. Ini balik lagi ke kita, sih. Pemimpin yang baik itu menurut kita seperti apa? Apakah dia yang otoriter, yang mau semua orang manut sama dia? Ataukah dia yang respect sama orang lain? Memahami, mengerti, dan mencoba mencari jalan keluar bersama. Tentu dari hati nurani yang paling dalam kita tau jawaban mana yang bijak di antara dua pilihan di atas.
Ibarat sebuah pesawat, suami itu adalah pilot dan istri adalah co-pilot (perumpamaan ini dapet dari Gitasav). Sebuah pesawat nggak akan mencapai kota tujuan kalo cuma pilot aja yang kerja, atau sebaliknya. Intinya, dari kedua belah pihak harus bekerjasama. KERJASAMA. Catet, ya. Saling menghargai pendapat, menghormati, atau nggak ada yang merasa dirinya paling benar.
Aku nggak mau menyalahkan atau menghakimi wanita-wanita di luar sana yang memutuskan untuk bekerja di rumah aja. Tapi ini tentang kita, wanita-wanita yang dirampas mimpinya hanya karena social constraints tersebut. Dan jujur, hal ini nggak gampang karena we live with them dan lama kelamaan kita bakal merasa muak dan ujung-ujungnya apa? Kita bakal nurut sama apa yang dikatakan orang. So, bless you guys who live within social constraints but still manage to live by your own perspectives and believes.Â
being mature
at this point, iâm questioning myself âwhat does being mature mean?â is it about having your highest salary but havenât had any time to take a rest? is it about getting married earlier than all of your friends?
i still havenât got an answer even âtil i write this post.
one time, i was accompanying a person who was as older as my mom to do whatsoever-you-name-it. then, she did a mistake but she apparently blamed me for what sheâs done. she even shouted, âiâve told you to xxxxâ. i was really shocked because she shouted so loud and she did not even mention anything about what i shouldâve done at that time.what i can conclude is she acted that way was probably because we were in a crowd and she didnât wanna be the one who got all the blames. i shouted âSHITT you didnât even tell me anythingâ but fortunately i said that in my mind.
so, can you say that sheâs mature enough? i think no :( i was actually wanna shout back out loud but i did not wanna screw things up. people are everywhere and it was suck, standing right there, on my shoes.
How Do Kissing, Eating, Snoring And Other Things Sound In Different Languages?
culturenlifestyle:
British designer and physicist James Chapmen is known for creating incredibly clever and accurate illustrations, which depict the psychology behind linguistics and how different cultures allocate different sounds to a variety of actions. Believe it or not, kissing, eating, snoring, even the way glass breaks, sounds distinctive all around the world.
Keep Reading
Weâre all a little weird. And life is a little weird. And when we find someone whose weirdness is compatible with ours, we join up with them and fall into mutually satisfying weirdnessâand call it loveâtrue love.
Robert Fulghum (via artmania-feed)
I love you.
Please, never ever ever use those sentences to make me forgive you. Donât you even dare to say it in the middle of our fight. Donât say it just to make me smile. Donât say it just because youâre tired and want this fight over. Donât even try. Because I would be more pissed off if you say so. Say it because you mean it. SAY IT BECAUSE YOU MEAN IT.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch ⢠No registration required ⢠HD streaming
people told me tu run, but i just can't.
yes, itâs her
yes, she is a stupid girl.
she lets every imagination comes to her head, even if it tortures her heartÂ
yes, she is a stupid girl
she cries over a silly thing
she laughs for not-so-funny-joke
because it makes her believe that she can laugh still
that there is still one happiness in her sad eyes
yes, she is not really brave
even to tell others that she is not happy
yes, she is not really brave
even to tell others that she cries every night
in the corner of her room
thinking about how pathetic her life is
yes, itâs her
who looks at me in the eye
and forgives everything that Iâve done
yes, itâs her
a stupid girl
whose heart I have broken