Pertanyaan yang sulit...
Last night, my friend asked me this, “Kalo nanti kamu menikah dan suamimu minta kamu stay di rumah, melakukan pekerjaan rumah, tanpa bekerja, kamu mau nggak?”
Well, this topic has been widely wondered around in my brain since I graduated from my S1 degree.
Apa sih fungsi seorang wanita di masyarakat? Apakah hanya sebagai pendamping suami? Apakah wanita memang seharusnya berada di belakang suami? Manut atas semua kata suami, gitu? Lalu, gimana dengan mereka yang belum atau tidak ingin menikah? Lantas, apakah itu membuat mereka tidak bermanfaat di masyarakat?
Jawabannya tentu saja sangat beragam. Ada yang melihat hal ini dari sudut pandang agama, sosial, bahkan power.
“Perempuan nggak usah lah berkarir setinggi itu. Kalo pun mau kerja, kamu kerja jadi **** aja. Enak, banyak waktu luang buat suami dan keluarga.”
“Dalam Islam, suami itu imam buat keluarga. Suami itu leader. Jadi, turutin aja apa kata suami. Mimpi kamu itu bodoh dan nggak ada artinya kalo suami kamu udah bilang nggak.”
“Kamu mau suami kamu jajan di luar kalo kamu kerja dan sering ke luar kota?”
Again, social constraints affect our everyday life, even our decision making.
Suami seorang imam atau seorang pemimpin. Ini balik lagi ke kita, sih. Pemimpin yang baik itu menurut kita seperti apa? Apakah dia yang otoriter, yang mau semua orang manut sama dia? Ataukah dia yang respect sama orang lain? Memahami, mengerti, dan mencoba mencari jalan keluar bersama. Tentu dari hati nurani yang paling dalam kita tau jawaban mana yang bijak di antara dua pilihan di atas.
Ibarat sebuah pesawat, suami itu adalah pilot dan istri adalah co-pilot (perumpamaan ini dapet dari Gitasav). Sebuah pesawat nggak akan mencapai kota tujuan kalo cuma pilot aja yang kerja, atau sebaliknya. Intinya, dari kedua belah pihak harus bekerjasama. KERJASAMA. Catet, ya. Saling menghargai pendapat, menghormati, atau nggak ada yang merasa dirinya paling benar.
Aku nggak mau menyalahkan atau menghakimi wanita-wanita di luar sana yang memutuskan untuk bekerja di rumah aja. Tapi ini tentang kita, wanita-wanita yang dirampas mimpinya hanya karena social constraints tersebut. Dan jujur, hal ini nggak gampang karena we live with them dan lama kelamaan kita bakal merasa muak dan ujung-ujungnya apa? Kita bakal nurut sama apa yang dikatakan orang. So, bless you guys who live within social constraints but still manage to live by your own perspectives and believes.












