Halo!
Ini adalah laman untuk mencurahkan perasaan cinta saya pada Timor. Kamu bisa juga cek laman pribadi saya di sini!

blake kathryn
Jules of Nature
The Bowery Presents

tannertan36
𓃗
cherry valley forever

if i look back, i am lost
noise dept.
h

titsay
One Nice Bug Per Day
art blog(derogatory)

Andulka
trying on a metaphor

#extradirty
ojovivo
Fai_Ryy
"I'm Dorothy Gale from Kansas"

roma★

izzy's playlists!
seen from United Kingdom
seen from Bangladesh

seen from Türkiye
seen from Pakistan

seen from Canada
seen from Australia
seen from United States

seen from T1

seen from Türkiye
seen from Brazil

seen from Brazil

seen from Malaysia

seen from Netherlands
seen from Brazil
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States
@dinayuuhuu
Halo!
Ini adalah laman untuk mencurahkan perasaan cinta saya pada Timor. Kamu bisa juga cek laman pribadi saya di sini!

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Sweet Timor Lelobatan
Ini tentang Bai (kakek) sekaligus Bapak kami selama 54 hari tinggal di Lelobatan, tepatnya di rumahnya. Dia adalah Petrus Almet. Pemuka adat di Desa Lelobatan, bahkan di tanah Mollo. Selain kemasyhurannya karena dituakan sebagai tokoh adat, Petrus Almet juga menjadi tokoh terkemuka di Timor karena ia memiliki banyak sekali kuda. Iya, kuda guys. Banyaknya tuh bukan sepuluh-dua puluh, tapi ratusan! Bahkan beberapa orang bilang kuda Pak Petrus menyentuh angka seribu lebih!
Silakan lah dibayangkan sendiri itu gimana. Memang tidak semua kuda ada di Lelobatan sih, ada juga di tempat-tempat lain. Kalau di Mollo mah tanah lapang hijau ala-ala bukit Teletubbies atau padang sabana bisa ditemukan di mana-mana. Pemandangan yang langka bisa kita dapatkan di Jawa.
Kekayaan Bai (dan beberapa orang Timor lain) tidak bisa diukur dan tampak dari uang mereka, pakaian mereka, rumah mereka, atau hmm muka mereka. Kadang kan ada ya yang mukanya necis gitu, keliatan banget orang kaya. Nah, kalau Bai ini bentukannya memang seperti kakek-kakek yang menghabiskan masa tua di desa, seperti kakek-kakek pada umumnya laah. Suka main sama cucu, berkebun, menghadiri acara di desa, dll. Tapi ya itu, kudanya kalau diuangkan lumayan juga guys. Meski demikian, Bai tetap menjadi kakek dan bapak yang kami suka. Bai tetap sederhana dan dekat dengan semua orang <3
Ini kalau mau liat
https://www.youtube.com/watch?v=aoqr6zRve9c
Kenalkan, mereka adalah anak-anak yang membuat saya banyak belajar tentang kehidupan dan sadar betapa sederhananya kebahagiaan. Tidak banyak yang tersisa di ingatan saya tentang bagaimana detail saya menikmati masa kanak-kanak, tapi yang saya ingat: syukurnya, menyenangkan. Dan itu yang saya lihat pada anak-anak ini. Mereka bisa menerjemahkan hal-hal sederhana menjadi sebuah sumber bahagia. Anak-anak yang banyak berangan angan, banyak mencoba tanpa takut jatuh dan terluka. Anak-anak yang tidak kenal lelah meski sudah berkali-kali terperosok ke tanah. Selamat Hari Anak Nasional. Every child deserves to be happy 💕 ps. mereka juga yang ngajarin saya bahasa Dawan, sampe bantuin bikin glosarium wkwkwk 📷: Anak Almet Lelobatan (@ilmanitanur @npsakina @achmadkhabibulloh @sofyan_aha) (di Kapan, Mollo Utara, Timor Tengah Selatan) https://www.instagram.com/p/CC_S2sCMHw0/?igshid=1n5wisz70jlgh
Tarawih di Rumah
Ramadan tahun ini akan dicatat oleh sejarah menjadi Ramadan istimewa, karena ada pandemi Corona. Pemerintah sudah memberikan aturan tegas, protokol kesehatan, untuk bekerja, belajar, dan beribadah dari rumah saja. Akhirnya, yang terjadi di Ramadan tahun ini adalah menikmati Ramadan #dirumahaja.
Orang-orang ribut tentang apakah boleh tarawih di rumah? Rasanya tidak afdol, sedangkan meskipun di tengah wabah ini sebenarnya kita masih cukup sehat untuk bisa tetap salat dan ibadah di masjid. Saya tidak akan membahas perkara itu lebih lanjut, karena saya sudah cukup yakin dengan imbauan dari Aa Gym dan Tuanku Guru Bajang (TGB). Bahwa ibadah tarawih itu hakikatnya adalah salatnya. Sedangkan tempatnya, bisa dilakukan di mana saja.
Nah, ramai-ramai soal per-salat tarawih di rumah-an ini mengingatkan saya pad pengalaman Ramadan tahun 2017. Selama KKN, saya dan kawan-kawan salat tarawih selalu di rumah. Selalu! Itupun tidak pasti di jam setelah isya. Betul-betul fleksibel.
Karena di desa kami, Lelobatan, NTT, populasi muslim nol persen. Boro-boro tarawih berjamaah ke masjid, lha wong masjid terdekatnya saja adanya di kecamatan. Kalau mau ke sana pun rekoso, mahal, dan butuh waktu lama.
Tapi kami berlima sangat menikmati tarawih di rumah. Kadang kami tarawih full team, lebih sering tidak. Karena kan yang perempuan gantian menstruasinya hehe. Selain itu memang ada aktivitas dan program individu yang membuat kami tidak bisa menjalankan tarawih berjamaah full team.
Yang lucu, dua kawan laki-laki serumah saya punya background ormas yang berbeda. Satu NU, satu Muhammadiyah. Mereka kalau jadi imam memang dari awal selalu ganti-gantian, baik salat wajib maupun tarawih. Jadi, kadang kami tarawih 11 rokaat, kadang 23. Kadang subuh pakai qunut, kadang tidak. Kadang wirid bareng selepas solat, kadang tidak.
Indah sekali. Jadi rindu.
If you want to know people's lives and how they live, go to the market-- . . Lokasi: Pasar Impres So'e, Pasar Kapan, Cabang To'menas (at Kabupaten Timor Tengah Selatan) https://www.instagram.com/p/B0ArMe-lXt_/?igshid=1oqcjh9au1c67

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
bukaek
bukaek punya arti “makan”. biasanya disebutkan kalau mau nyuruh orang makan atau bilang “mari makan”.
bisa juga kalo kita mau makan bilang au bukaek, artinya “saya makan”. atau kalau mau ngajak makan bisa juga ditambahin neo yang artinya “ayo”.
TULISAN INI SAYA RALAT
ternyata bahasa Dawan tidak punya padanan khusus untuk kata “makan”. bukaek memang biasa diucapkan seseorang ketika mempersilakan orang lain makan, au kalau diartikan adalah “aku”, tapi ketika digabungkan menjadi au bukaek (yang kalau diterjemahkan bebas seharusnya kan jadi “saya makan”) ternyata tidak sesederhana itu.
baru-baru ini saya tau, bahwa au bukaek kurang tepat jika digunakan untuk memberi tahu sekaligus izin untuk makan duluan (biasanya ungkapan “saya makan” dimaksudkan demikian kan?). alih-alih berniat sopan karena meminta izin makan duluan, au bukaek justru malah mengesankan menyombongkan diri, karena itu adalah bahasa tinggi.
parah, saya ga paham etika dan estetika berbahasa Dawan, susah bangetttt.
padanan kata yang lebih tepat ketika ingin memberi tahu “saya makan” adalah au aum. tapi aum tidak bisa diterjemahkan lepas sebagai bahasa Dawan dari “makan”. bahasa Dawan dari “kami” adalah ho. tapi kalau mau menyebut “kami makan”, tidak lantas ho aum atau ho bukaek, melainkan
jadi, dalam bahasa Dawan S dan P tidak berdiri terpisah, melainkan saling mempengaruhi. makanya, kamus bahasa Dawan sudah disusun sejak lamaaa sekali tapi tidak kunjung ada. ya karena memang susah sekali untuk diterjemahkan kata per kata. beda dengan bahasa Indonesia dan bahasa lain pad umumnya.
sudah cukup bingung?
saya juga.
Tol Fe’u Mollo: Semangat Pemuda Mollo Melestarikan Budaya
“Kami datang karena peduli dengan masa depan desa dan ingin melestarikan kita punya budaya,” ujar Dina Olin, salah satu peserta Pelatihan Dokumentasi Budaya yang berasal dari Desa Nefokoko pada Selasa (4/12/2018). “
Dina Olin bukan satu-satunya pemuda yang berkomitmen untuk melestarikan tradisi Mollo. Terdapat 22 pemuda lain yang pada 4-5 Desember 2018 mengikuti kegiatan Pelatihan Dokumentasi Budaya. Kegiatan ini diselenggarakan di Hotel Timur Megah, SoE, TTS. Para peserta datang dari 6 desa di kawasan Mollo, yakni Desa Ajaobaki, Lelobatan, Fatukoto, Fatumnasi, Nefokoko, dan Tune.
Pelatihan Dokumentasi Budaya memang sengaja menyasar generasi muda Mollo. Hal ini berawal dari kekhawatiran para tokoh adat akan tergerusnya tradisi yang mereka miliki. Mereka sepakat bahwa tantangan untuk melestarikan budaya di dunia modern ini semakin berat. Arus globalisasi, modernisasi, dan migrasi menjadi ancaman bagi kelestarian budaya Mollo jika mereka tidak bisa menjaga dan mewariskannya kepada generasi muda. Gayung bersambut, pemuda dari enam desa di Mollo ini juga memiliki kesadaran bahwa masa depan kelanggengan tradisi Mollo ada di pundak mereka dan menjadi tanggung jawab mereka.
Pelatihan Dokumentasi Budaya adalah salah satu kegiatan yang digagas oleh lembaga AAPM (Apanola Atolan Pah Mollo) untuk memfasilitasi sekaligus mendorong anak muda untuk terlibat aktif dalam mengenal dan melestarikan budaya yang mereka miliki. AAPM sendiri merupakan sebuah lembaga yang bertujuan untuk mempertahankan, melindungi, dan melestarikan budaya Mollo. Sejak berdiri pada tahun 2017, AAPM konsisten mengadakan agenda yang bertujuan untuk melestarikan budaya Mollo dan memperkenalkannya pada masyarakat luar. Pelatihan Dokumentasi Budaya menjadi salah satu agenda untuk mencapai visi tersebut.
Adalah Dicky Senda, penulis sekaligus aktivis budaya kelahiran Mollo Utara yang menjadi fasilitator Pelatihan Dokumentasi Budaya. Pria penggagas komunitas sosial Lakoat Kujawas ini sudah menerbitkan empat buku kumpulan cerpen, puisi, dan dongeng. Sebagai pemuda Mollo, Dicky juga merasa bertanggung jawab atas kelestarian budaya mereka, sehingga ia mendukung adanya kegiatan pelatihan pendokumentasian budaya Mollo dan merasa senang dapat terlibat di dalamnya.
"Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Kita tidak mau generasi anak cucu tidak kenal dengan adat budaya yang kita punya to? Kalau generasi bapa tua sudah mati, siapa yang akan melestarikan budaya? Kita!" ujar Dicky Senda pada sesi pembukaan pelatihan.
Orang Mollo memang dikenal sarat akan budaya tuturnya. Sebut saja natoni, tutur adat pernikahan, doa upacara pembukaan mata air dan panen madu, syair bonet, dan lain-lain yang mengandalkan tutur lisan dalam penyampaiannya. Diky Senda di sela sesi pelatihan pun menyampaikan bahwa orang Mollo punya budaya tutur dan budaya tulis yang keduanya harus sama-sama dijaga. Namun, saat ini Dicky merasa orang Mollo masih cenderung lebih kuat di budaya tuturnya. Bercerita dari satu mulut ke mulut yang lain untuk menyebarkan informasi. Sementara untuk budaya tulis masih agak lemah.
Lewat Pelatihan Dokumentasi Budaya inilah peserta diperkenalkan konsep dasar dalam penulisan budaya –dengan tanpa mengabaikan budaya tutur yang sudah kuat mengakar bagi orang Mollo. Model diskusi yang dibangun adalah model FGD (Forum Grup Discussion). Peserta diminta untuk duduk berkelompok sesuai dengan desa masing-masing. Kemudian Diky Senda selaku fasilitator memberikan arahan dan pertanyaan yang bisa didiskusikan berkenaan dengan kebudayaan.
Dalam satu kesempatan, peserta juga diminta untuk menggambarkan peta desa masing-masing. Lengkap dengan keterangan potensi alam dan budaya beserta filosofi di balik namanya, lokasi tempat tinggal tokoh adat, dan nama marga-marga besar di desa. Setelah menggambar, peserta diminta untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya di depan peserta dari kelompok lain.
Selain mengasah kemampuan untuk berbicara dan menulis, secara tidak langsung pelatihan ini juga mengajak para peserta yang merupakan generasi muda Mollo untuk lebih mengenal budaya dari desa mereka masing-masing.
23 pemuda peserta Pelatihan Dokumentasi Budaya Mollo ini menamakan dirinya sebagai Tol Fe'u Mollo yang artinya tunas-tunas muda Mollo. Harapannya, tunas-tunas ini kelak bisa tumbuh dengan baik dan indah sebagai orang Mollo yang memegang teguh adat mereka dan menjadi agen pelestarian budaya. Bukan hanya sekadar tahu, tapi juga memiliki pemahaman akan filosofi di balik budaya dan mampu menginternalisisasi budaya Mollo di dalam kehidupan sehari-hari. Dari tangan mereka pulalah, diharapkan lahir tulisan-tulisan mengenai budaya Mollo yang otentik.
"Sebenarnya sudah banyak tulisan mengenai budaya Mollo, tapi kebanyakan tulisan itu hasil tangan orang luar yang datang. Kami berharap ada narasi tentang budaya Mollo yang lahir dari orang-orang Mollo itu sendiri, sehingga ceritanya terbangun sesuai dengan sudut pandang masyarakat setempat,” kata Muhadi Sugiono, Ketua Tim Peneliti UGM yang turut mendampingi jalannya kegiatan.
Muhadi Sugiono sangat mendukung pelaksanaan kegiatan Pelatihan Dokumentasi Budaya ini. Ia mengapresiasi antusiasme dan semangat para peserta selama menjalani Pelatihan Dokumentasi Budaya. Ia berharap, pelatihan ini bisa dilanjutkan dan bisa diteruskan kepada pemuda-pemuda Mollo yang lain karena membawa dampak baik pagi upaya pelestarian budaya Mollo, Lebih jauh pendokumentasian budaya juga menjadi sarana pemberdayaan pemuda desa setempat.
Kelompok tulis Tol Fe’u Mollo direncanakan akan melanjutkan kegiatan pendokumentasian budaya secara berkala. Pada bulan Januari 2019, kelompok penulis ini akan mendapatkan pelatihan bersama Diky Senda di desa masing-masing. Pelatihan dan pendampingan secara intensif ini dilakukan dengan cita-cita menghasilkan dokumentasi adat tertulis tentang budaya Mollo yang bukan hanya akan diakses oleh orang Mollo saja, tapi juga oleh orang luar.
Sweet Lelobatan Timor Part 2
Lanjut lagi ya tentang kemanisan orang Lelobatan yang menganggap kami-kami anak KKN yang cuma numpang ngerepotin dua bulan ini sebagai anak kandung mereka huhu.
Bersama Mama Desa dan Mama Kasse
Saya: Kemarin katanya Lelobatan susah sinyal kami hubungi mama mama sonde bisa e
Mama: Iya betul. Jadi ini, kalau di Lelobatan sinyal pergi selama tiga bulan lebih. Gara-gara kalian ini sinyal Lelobatan hilang
Saya: Kok gitu ma?
Mama: Kalian itu pergi ke Jogja dari Lelobatan selain bawa badan dan bawa stik ubi dari mama, juga bawa sinyal Lelobatan ya. Kami jadi tidak bisa komunikasi itu.
Saya: Oh, waktu kami pergi terus sinyal Lelobatan terganggu gitu ma?
Mama: Iya
Yaelah maa bilang aja "makanya kalian jangan pergi supaya sinyal tetap baik" gitu aja kok susah wkwk. Lama-lama orang Lelobatan nih kayak cewek yang gengsi pas diajak pdkt deh. Saya mbatin begitu kemudian disuarakan oleh bapak dari Ajaobaki.
Bapak: Itu tandanya kakadong tidak usah pi Jogja begitu kak
Kase
kase itu artinya tamu. Kalau di Mollo itu juga ada marga Kasse, eh tapi lupa sejarahnya karena orang Kasse adalah tamu di Mollo atau gimana ya maap sesat lol.
Saya pikir vocab ini perlu karena kalian bisa tau kalo kalian diomongin. Kalo mereka ngomong ada kase-kase gitu, itu berati lagi ngomongin kalian haha
Sweet Timor Lelobatan Part 1
Saya nggak akan lupa bagaimana canggihnya masyarakat Mollo saat melemparkan candaan dan menyampaikan maksud dengan metafor-metafor yang sulit dipahami. Bahasa konotasi level tinggi. Kalau bisa paham tuh rasanya puaaasssss banget!
Salah satu contohnya saat saya kembali menginjakkan kaki di tanah Timor setelah berkesempatan untuk KKN di sana. Seorang bapak dari Lelobatan (yang bahkan waktu saya KKN di sana tuh saya lupa ada bapak ini, karena letak rumah kami yang berjauhan) menghampiri saya.
Bapak: He Nona Dina, ini kapan ke rumah lagi?
Saya: Pi Lelobatan ko bapak? Aduh, mungkin besok atau nanti saya masih belum tau. Tapi ingin ke Lelobatan lagi bapak.
Bapak: Kartu Penduduk Lelobatan su sonde terisi lagi itu.
Saya: *bingung*
Bapak: Yang terakhir mengisi ya kakadong dari UGM, setelah itu tidak ada lagi yang datang untuk isi di situ haha.
Ya ampun saya auto terharu dong begitu paham.
Kartu Penduduk Lelobatan itu tidak ada wujudnya. Saya dan teman-teman tidak pernah bermaksud "mengisi kartu itu", karena pada hakikatnya tidak ada kase (tamu) yang dipersilakan untuk mengisinya. Masyarakat Lelobatan sendiri yang menuliskan nama-nama kase yang berhak tercantum di Kartu Penduduk Lelobatan.
Lelobatan bukan desa yang jarang didatangi tamu. Beberapa mahasiswa atau orang luar sengaja datang dan tinggal di Lelobatan untuk kuliah, kerja, mengerjakan tugas, dll.
Sudah dua tahun sejak kami berlima tinggal di Lelobatan selama 54 hari, dan sejak saat itu pula (kata si bapak) belum ada tamu yang mereka anggap sudah seperti masyarakat Lelobatan sendiri, selain kami.
Nangis dong. Orang Timor emang sweet nya kebangetan heu.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Good 👍
thanks <3
AAPM: Duduk Bersama, Memecahkan Masalah, Mencari Solusi
Sejak awal masa terbentuknya pada tahun 2017, lembaga Apanola Atolan Pah Mollo (AAPM) memiliki komitmen kuat dalam rangka melestarikan budaya Mollo. Sesuai dengan namanya apanola atolan pah mollo yang berarti orang-orang yang mempertahankan, melindungi, serta melestarikan budaya Mollo. “
Pada 2-3 Desember 2018, lembaga Apanola Atolan Pah Mollo (AAPM) menyelenggarakan agenda Rapat Koordinasi. Kegiatan ini melibatkan koordinator umum AAPM serta koordinator dari masing-masing desa yang tergabung dalam AAPM, yaitu Desa Ajaobaki, Lelobatan, Nefokoko, Tune, Fatukoto, dan Fatumnasi. Keenam desa tersebut merupakan desa binaan dari UGM dan CaRED (Community Resilience and Economic Development) yang sebelumnya mengikuti kegiatan resolusi konflik Nausus. Setelah terselesaikannya resolusi konflik, kegiatan pembinaan ini berlanjut pada pengembangan budaya melalui program Sekolah Budaya.
Sekolah Budaya bukan merupakan sekolah formal seperti yang dibayangkan. Tidak ada kegiatan pembelajaran di bilik-bilik kelas, tidak ada ujian, tidak ada guru, dan tidak menggunakan kurikulum dengan tingkatan-tingkatan hierarkis seperti sekolah formal. Sekolah Budaya adalah sebuah program pengembangan budaya yang diterapkan di enam desa terlibat. Program ini berjalan dengan cara dan metode yang berbeda dari masing-masing desa. AAPM bersama UGM terus berupaya menjalankan program Sekolah Budaya dalam rangka pelestarian budaya Mollo.
Dalam Rapat Koordinasi AAPM yang berlangsung selama dua hari tersebut, koordinator masing-masing desa diberi kesempatan untuk memaparkan evaluasi pelaksanaan program AAPM jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. Acuan indikator keberhasilan pelaksanaan program yang digunakan sesuai dengan kesepakatan pada Rapat Koordinasi AAPM sebelumnya pada 18 Juli 2018.
Dua agenda yang sedang diupayakan maksimal oleh AAPM adalah sosialisasi dan konsilidasi. Sosialisasi AAPM bertujuan agar AAPM sebagai sebuah lembaga bisa lebih diterima di masyarakat. Selain itu, sosialisasi yang baik akan meningkatkan kesadaran berbudaya di Mollo. Desa Ajaobaki, Lelobatan, Nefokoko, Tune, Fatukoto, dan Fatumnasi menjelaskan bahwa sosialisasi AAPM ke masyarakat sudah dilaksanakan, sehingga beberapa kali AAPM turut terlibat dalam rapat maupun kegiatan di desa.
Sebagai sebuah lembaga, AAPM juga perlu berkonsolidasi dengan beberapa pihak untuk menjalankan fungsinya, terutama kepada pemerintah desa. Konsolidasi dengan pemerintah sangat penting karena sumber pendanaan Sekolah Budaya di masing-masing desa adalah dari Dana Desa setempat. Kepala Desa Tune yang hadir dalam rapat koordinasi menyebutkan bahwa hubungan baik antara AAPM dengan pemerintah desa harus terus terjaga. Jika hubungan tersebut renggang maka pelaksanaan kegiatan AAPM juga akan tersendat. Oleh karena itu, AAPM berupaya untuk memasukkan program-program pengembangan budaya ke dalam APBDesa.
Kendati demikian, AAPM juga perlu menjaga hubungan baik dengan beberapa lembaga selain pemerintah desa. Markus Lake dari Desa Nefokoko menuturkan bahwa selama ini AAPM masih kurang memperhatikan serta melibatkan lembaga pendidikan dan pihak gereja dalam pelaksanaan program. Kerja sama dengan lembaga pendidikan misalnya, bisa dilakukan dengan memasukkan kurikulum Sekolah Budaya dalam mata pelajaran Muatan Lokal di sekolah-sekolah Mollo –atau setidaknya di enam desa terlibat sebagai pilot project.
Selain evaluasi tahap konsolidasi dan sosialisasi di masing-masing desa, dalam rapat koordinasi AAPM para peserta juga memberikan gagasan mengenai program jangka menengah yang diharapkan dapat menjadi langkah lanjutan dari upaya meningkatkan kesadaran berbudaya masyarakat Mollo. Bisa dilakukan dengan melestarikan bahasa Dawan sebagai bahasa daerah orang Mollo dan membuat jadwal penggunaan pakaian adat rutin setiap pekan, misalnya pada hari keluarga di gereja.
Beberapa desa seperti Desa Fatukoto, Desa Ajaobaki, dan Desa Tune juga sudah merencanakan untuk membangun sanggar budaya yang akan dimanfaatkan sebagai wadah untuk masyarakat yang ingin melangsungkan kegiatan-kegiatan kebudayaan (tenun, anyaman, tarian). Sejalan dengan yang disampaikan oleh Kepala Desa Fatukoto, Yosafat Baun bahwa sanggar budaya akan mengakomodasi kegiatan-kegiatan budaya dari masyarakat di desa.
Namun, pelaksanaan program AAPM di masing-masing desa kadangkala terbentur oleh beberapa masalah. Di Desa Lelobatan dan Nefokoko misalnya, kedua desa tersebut merasa terkendala dalam melaksanakan kegiatan AAPM karena transisi pergantian pimpinan desa. Berbeda dengan Desa Fatumnasi yang merasa keterlibatan AAPM di desanya masih kurang maksimal karena selama ini masih menggunakan label PKK untuk mendapatkan anggaran kegiatan.
Meski terdapat beberapa kendala dalam pelaksanaan program AAPM, namun Muhadi Sugiono selaku Ketua Tim Peneliti UGM tetap mengapresiasi kinerja yang dilakukan oleh AAPM selama kurang lebih enam bulan sejak penetepan rencana program. Muhadi menyampaikan bahwa tahap konsolidasi dan sosialisasi yang dilakukan oleh AAPM sudah berjalan dengan baik, baik secara internal kelompok maupun dengan pihak luar.
Agenda rapat koordinasi AAPM perlu diadakan secara rutin untuk terus meninjau kerja AAPM. Sudah sejauh mana pelaksanaan program –baik jangka pendek, menengah maupun jangka panjang, evaluasi kinerja, dan kendala yang dihadapi untuk bisa segera dicarikan solusi. Seperti yang disampaikan Arid Oematan selaku Ketua Umum AAPM mengenai budaya masyarakat Mollo, yaitu “tok tabua, ta uab hit lasi ma taem lalan amneot (duduk bersama, memecahkan masalah, mencari solusi)”.
Duduk bersama untuk mencari solusi perlu dilakukan oleh keenam desa terlibat karena semua pihak harus saling mengisi dan bekerja sama untuk bisa menciptakan destinasi wisata yang bisa membantu meningkatkan daya ekonomi masyarakat setempat. Oleh karena itu, dibutuhkan pengelolaan yang baik dari enam desa terlibat untuk mewujudkannya.
Leko-leko
leko-leko artinya baik-baik. Ini adalah vocab yang super sering digunakan. Penggunaannya biasanya untuk menggambarkan kabar atau keadaan (bukan baik-baik dalam artian sifat). Misalnya, “jalan leko-leko!” yang maksudnya “take care!”. Atau kalau baru ketemu biasanya nanya, “leko-leko ko?” yang maksudnya “kabar baik, kan?”
Pokoknya kalo baru ketemu orang dan akan melepas kepergian orang, bilang aja “leko-leko”
Mie Kering adalah Koentji
Mie kering adalah koentji hidup KKN kami, setahun yang lalu. . . Semacam hampir tiap hari kami nyemilin mie kering begini yaallah, alhamdulillah semoga tetep pinter.
Mie kering yang kami maksud adalah mie instan dengan berbagai merek --biasanya Indomie tapi di sana lebih banyak Mie Sedaap sih. Mie nya kemudian langsung kami santap tanpa direbus terlebih dahulu, tapi bumbunya tetep dicampur. Halah, pasti semua orang pernah lah ngerasain mie kering, atau kalau di daerah saya biasa disebut nggado mi atau kalau dulu ada namanya mie kremes. Sebelas dua belas lah. Caranya sama, cuma dikremes, dimasukin bumbu, dikremes lagi, dikocok supaya merata bumbunya, taraa siap santap!
Mengapa mie kering yang menjadi pilihan kami? Karena tentu saja, cara pengonsumsiannya sangat mudah dan cukup untuk mengganjal perut yang keroncongan selama perjalanan jauh.
Jadi begini, sebagai gambaran, hampir setiap hari kami menempuh perjalanan cukup panjang untuk melaksanakan program KKN. Rumah tempat kami tinggal memang agak jauh dari peradaban/pusat desa. Perjalanan dari rumah menuju ke pusat desa (kantor desa, sekolah, dan sinyal H+) membutuhkan waktu 45 menit ditempuh dengan berjalan kaki (bukan perjalanan PP ya). Itupun waktu normal. Kalau pakai istirahat leha-leha dulu di tengah perjalanan, ya bisa satu jam lebih. 80% medan yang kami lewati adalah hutan, sisanya rumah penduduk.
Silakan bisa dibayangkan. 45 menit, hampir setiap hari, jalan kaki, medan hutan, itu kami harus ngapain di jalan? Jawabannya adalah nyemil! Oke, mari kita akui, sedikit nyemil banyak nggosipnya sih hehe. Cemilan mulai dari yang agak sehat, seperti bubur royko, marie susu, biskuit bonbon, dancow digado; sampai yang sehat banget seperti permen, gery pasta keju, mie kremes, mie kering, dan berbagai jajajan micin lainnya.
Setiap hari. Di perjalanan pulang dan pergi kami. HEHE Tapi kami bersyukur, karena seringnya kami mengonsumsi jajanan itu, setidaknya kami jadi tau beberapa life hack, seperti bagaimana cara meramu mie sedaap supaya bumbunya merata, atau bagaimana cara praktis membuat bubur tawar menjadi enak.
Terima kasih untuk warung patrice depan kantor desa yang sudah memfasilitasi kebutuhan perut kami dan menyediakan berbagai asupan bergizi bagi kami para dhuafa jajanan. Terima kasih juga untuk Habib dan Sofyan kalau lagi rajin jumatan dan mau dititipin jajanan di Pasar Kapan. Bahagia sekali rasanya, kaya menyambut bapak pulang bawa uang!
Namanya Shania, anak perempuan kelas 4 SD (eh atau udah kelas 5 ya?) yang punya rasa keingintahuan yang tinggi. Beberapa kali pertanyaannya membuat saya menganga karena tak percaya bisa keluar dari mulut anak seusia dia.
Termasuk tentang jilbab.
Kebetulan, dari lima orang yang tiba pertama di lokasi KKN, saya adalah satu-satunya wanita yang berjilbab. Jadi, kerap menjadi sasaran pertanyaan dan pernyataan soal Islam, karena yang memang yang pakai “atribut” Islam dan secara kasat mata nampak Islam-nya ya saya.
Momen di foto ini, adalah momen ketika Shania sudah mengalahkan rasa takutnya terhadap jilbab. Dari awal perjumpaan kami, saya dan Shania sudah langsung nempel karena fit each other. Kemana-mana doi suka ngintil dan bergelantungan haha. Pun saya yang juga seringkali minta ditemani karena kebutuhan akan tour guide yang selalu siap sedia. Namun ternyata, ada satu hal yang mengganjal dan agak mengganggu pikiran Shania: tentang jilbab yang saya kenakan.
Sebenarnya sudah sejak awal dia ingin bertanya, tapi belum menemukan waktu yang tepat. Dan barangkali dia juga agak ragu, takut-takut menyakiti hati saya. Akhirnya di hari kesekian (sepertinya hari keempat) kebersamaan kami, dia memberanikan diri untuk mengungkit masalah jibab.
S: Kak Dina, kenapa pakai jilbab terus? D: Hmm iya, karena kalau perempuan Islam itu rambutnya tidak boleh kelihatan sama laki-laki. S: Oh, jadi tidak boleh dilepas? D: Boleh kok. Ini kalau cuma ada Kak Dina sama Shania di kamar, Kak Dina bisa lepas jilbab. Soalnya tidak ada laki-laki yang lihat. Tidak ada kakak-kakak, Nunu, dan Papa. Shania mau Kak Dina lepas jilbab? S: Eh, sonde sonde. Tidak usah Kak Dina. D: Lho kenapa? S: Shania… takut lihatnya hehe. *saya ngakak dalam hati, ternyata doi mikir orang yang pakai jilbab tuh buat nutupin kepala dan rambut yang kenapa napa gituu* D: Takut kenapa? Kak Dina pu rambut juga sama seperti Shania kok, sama seperti Mama juga. Semua yang pakai jilbab juga punya rambut yang sama, tidak aneh. S: Betul kak? D: Betuul. Nih, kalau Shania takut lihatnya, boleh pegang deh rambut Kak Dina. *kemudian Shania takut-takut menyentuh kepala saya dan meraba rambut saya* D: Sama kan? S: Hehe iya. *kemudian Shania dengan sigap mengambil kain pantai (entah punya siapa ya itu saya lupa) lalu melingkarkan sendiri di kepalanya* S: Shania mau pakai juga, Kak. D: Boleeh. Sini sini Kak Dina bantu.
Dan jadilah foto ini
Lokasi : Desa Ajaobaki, Mollo Utara, TTS, NTT Muslim : 0%

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
tell us more! . . cuma ada dua cara untuk bikin anak anak ini bisa ngumpul dengan sukarela, tanpa terpaksa: ajakan yel yel atau nyanyi; dan tayangan video. foto ini menggambarkan cara kedua. meskipun tidak ada listrik di sekolah sehingga tidak bisa nambak pakai proyektor, kami tetap hajar! akhirnya ya begini ini. pakai laptop yg ukuran layarnya cuma 10 inch dan batrenya tinggal setengah. untung ada speaker eksternal, bukan dolby tapi cukup bikin suara videonya jadi all around us. kalau kami menyerah untuk tidak menayangkan video pembelajaran --yang donlotnya harus jauh jauh ke kecamatan hanya karena keterbatasan, saya ga kebayang muka muka ingin tau mereka ini mau dibawa ke mana? apakah akan ada bingkai seindah ini nantinya? apa itu namanya kalau bukan semangat menuntut ilmu? ((semangat nonton video!)) ((yhaa)) (at East Nusa Tenggara)
gate we need to pass-- . saya harus bilang gerbang kayu ini bukan gerbang biasa. lebih dari sekadar benda mati, gerbang ini menyimpan emosi. fungsinya sama seperti layaknya gerbang: pembatas. yang ini adalah pembatas rayon heum (+hutan) dan rayon manoana. kami tinggal di heum yang jaraknya dengan gerbang ini sekitar 30 menit ditempuh dengan jalan kaki --tanpa istirahat dan fafifu mengeluh kelelahan hehe. perjalanan kami menuju manoana harus melewati hutan panjang dan membelah sungai terlebih dahulu. ada dua opsi jalur: hutan + sungai + tanjakan tajam bikin ngos ngosan tapi lebih cepat sampai; hutan tropis + sungai + sarang lintah tapi agak lebih lama sampai. kami pikir di antara keduanya sama saja. menawarkan suasana yang tenang dan damai bersama alam. heum sama sekali bukan rayon padat penduduk, kalau manoana lumayan. jadi gerbang pembatas ini bukan sekadar membelah dua rayon, tapi juga dua kehidupan. begitu membuka gerbang ini rasanya masuk ke dunia yang berbeda (agak berlebihan tapi begitulah). setelah sebelumnya kami banyak disuguhi pemandangan pohon; pohon; hewan, begitu membuka gerbang kami langsung disambut dengan rumah; rumah; pohon. . gerbang ini bicara tanpa kata, "selamat datang di kehidupan dan bertemu dengan manusia. siapkan senyum ceria dan sapa terbaikmu. siapa anak yang akan kita temui di jalan nanti?" kalau kami ke manoana. dan "selamat berjuang. 5 menit ke depan baru sampai tanah lapang pipa air. 10 menit jalan lewat hutan siap siap bertemu sungai. ah, jangan lupa siapkan kaki karena tanjakan akan segera dimulai. jangan berhenti dulu karena masih ada padang ilalang. sedikit lagi, itu sudah ada rumah penduduk!" kalau kami menuju heum. . yap kenalkan, Gerbang Kehidupan. (at East Nusa Tenggara)