Tol Fe’u Mollo: Semangat Pemuda Mollo Melestarikan Budaya
“Kami datang karena peduli dengan masa depan desa dan ingin melestarikan kita punya budaya,” ujar Dina Olin, salah satu peserta Pelatihan Dokumentasi Budaya yang berasal dari Desa Nefokoko pada Selasa (4/12/2018). “
Dina Olin bukan satu-satunya pemuda yang berkomitmen untuk melestarikan tradisi Mollo. Terdapat 22 pemuda lain yang pada 4-5 Desember 2018 mengikuti kegiatan Pelatihan Dokumentasi Budaya. Kegiatan ini diselenggarakan di Hotel Timur Megah, SoE, TTS. Para peserta datang dari 6 desa di kawasan Mollo, yakni Desa Ajaobaki, Lelobatan, Fatukoto, Fatumnasi, Nefokoko, dan Tune.
Pelatihan Dokumentasi Budaya memang sengaja menyasar generasi muda Mollo. Hal ini berawal dari kekhawatiran para tokoh adat akan tergerusnya tradisi yang mereka miliki. Mereka sepakat bahwa tantangan untuk melestarikan budaya di dunia modern ini semakin berat. Arus globalisasi, modernisasi, dan migrasi menjadi ancaman bagi kelestarian budaya Mollo jika mereka tidak bisa menjaga dan mewariskannya kepada generasi muda. Gayung bersambut, pemuda dari enam desa di Mollo ini juga memiliki kesadaran bahwa masa depan kelanggengan tradisi Mollo ada di pundak mereka dan menjadi tanggung jawab mereka.
Pelatihan Dokumentasi Budaya adalah salah satu kegiatan yang digagas oleh lembaga AAPM (Apanola Atolan Pah Mollo) untuk memfasilitasi sekaligus mendorong anak muda untuk terlibat aktif dalam mengenal dan melestarikan budaya yang mereka miliki. AAPM sendiri merupakan sebuah lembaga yang bertujuan untuk mempertahankan, melindungi, dan melestarikan budaya Mollo. Sejak berdiri pada tahun 2017, AAPM konsisten mengadakan agenda yang bertujuan untuk melestarikan budaya Mollo dan memperkenalkannya pada masyarakat luar. Pelatihan Dokumentasi Budaya menjadi salah satu agenda untuk mencapai visi tersebut.
Adalah Dicky Senda, penulis sekaligus aktivis budaya kelahiran Mollo Utara yang menjadi fasilitator Pelatihan Dokumentasi Budaya. Pria penggagas komunitas sosial Lakoat Kujawas ini sudah menerbitkan empat buku kumpulan cerpen, puisi, dan dongeng. Sebagai pemuda Mollo, Dicky juga merasa bertanggung jawab atas kelestarian budaya mereka, sehingga ia mendukung adanya kegiatan pelatihan pendokumentasian budaya Mollo dan merasa senang dapat terlibat di dalamnya.
"Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Kita tidak mau generasi anak cucu tidak kenal dengan adat budaya yang kita punya to? Kalau generasi bapa tua sudah mati, siapa yang akan melestarikan budaya? Kita!" ujar Dicky Senda pada sesi pembukaan pelatihan.
Orang Mollo memang dikenal sarat akan budaya tuturnya. Sebut saja natoni, tutur adat pernikahan, doa upacara pembukaan mata air dan panen madu, syair bonet, dan lain-lain yang mengandalkan tutur lisan dalam penyampaiannya. Diky Senda di sela sesi pelatihan pun menyampaikan bahwa orang Mollo punya budaya tutur dan budaya tulis yang keduanya harus sama-sama dijaga. Namun, saat ini Dicky merasa orang Mollo masih cenderung lebih kuat di budaya tuturnya. Bercerita dari satu mulut ke mulut yang lain untuk menyebarkan informasi. Sementara untuk budaya tulis masih agak lemah.
Lewat Pelatihan Dokumentasi Budaya inilah peserta diperkenalkan konsep dasar dalam penulisan budaya –dengan tanpa mengabaikan budaya tutur yang sudah kuat mengakar bagi orang Mollo. Model diskusi yang dibangun adalah model FGD (Forum Grup Discussion). Peserta diminta untuk duduk berkelompok sesuai dengan desa masing-masing. Kemudian Diky Senda selaku fasilitator memberikan arahan dan pertanyaan yang bisa didiskusikan berkenaan dengan kebudayaan.
Dalam satu kesempatan, peserta juga diminta untuk menggambarkan peta desa masing-masing. Lengkap dengan keterangan potensi alam dan budaya beserta filosofi di balik namanya, lokasi tempat tinggal tokoh adat, dan nama marga-marga besar di desa. Setelah menggambar, peserta diminta untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya di depan peserta dari kelompok lain.
Selain mengasah kemampuan untuk berbicara dan menulis, secara tidak langsung pelatihan ini juga mengajak para peserta yang merupakan generasi muda Mollo untuk lebih mengenal budaya dari desa mereka masing-masing.
23 pemuda peserta Pelatihan Dokumentasi Budaya Mollo ini menamakan dirinya sebagai Tol Fe'u Mollo yang artinya tunas-tunas muda Mollo. Harapannya, tunas-tunas ini kelak bisa tumbuh dengan baik dan indah sebagai orang Mollo yang memegang teguh adat mereka dan menjadi agen pelestarian budaya. Bukan hanya sekadar tahu, tapi juga memiliki pemahaman akan filosofi di balik budaya dan mampu menginternalisisasi budaya Mollo di dalam kehidupan sehari-hari. Dari tangan mereka pulalah, diharapkan lahir tulisan-tulisan mengenai budaya Mollo yang otentik.
"Sebenarnya sudah banyak tulisan mengenai budaya Mollo, tapi kebanyakan tulisan itu hasil tangan orang luar yang datang. Kami berharap ada narasi tentang budaya Mollo yang lahir dari orang-orang Mollo itu sendiri, sehingga ceritanya terbangun sesuai dengan sudut pandang masyarakat setempat,” kata Muhadi Sugiono, Ketua Tim Peneliti UGM yang turut mendampingi jalannya kegiatan.
Muhadi Sugiono sangat mendukung pelaksanaan kegiatan Pelatihan Dokumentasi Budaya ini. Ia mengapresiasi antusiasme dan semangat para peserta selama menjalani Pelatihan Dokumentasi Budaya. Ia berharap, pelatihan ini bisa dilanjutkan dan bisa diteruskan kepada pemuda-pemuda Mollo yang lain karena membawa dampak baik pagi upaya pelestarian budaya Mollo, Lebih jauh pendokumentasian budaya juga menjadi sarana pemberdayaan pemuda desa setempat.
Kelompok tulis Tol Fe’u Mollo direncanakan akan melanjutkan kegiatan pendokumentasian budaya secara berkala. Pada bulan Januari 2019, kelompok penulis ini akan mendapatkan pelatihan bersama Diky Senda di desa masing-masing. Pelatihan dan pendampingan secara intensif ini dilakukan dengan cita-cita menghasilkan dokumentasi adat tertulis tentang budaya Mollo yang bukan hanya akan diakses oleh orang Mollo saja, tapi juga oleh orang luar.











