Tarawih di Rumah
Ramadan tahun ini akan dicatat oleh sejarah menjadi Ramadan istimewa, karena ada pandemi Corona. Pemerintah sudah memberikan aturan tegas, protokol kesehatan, untuk bekerja, belajar, dan beribadah dari rumah saja. Akhirnya, yang terjadi di Ramadan tahun ini adalah menikmati Ramadan #dirumahaja.
Orang-orang ribut tentang apakah boleh tarawih di rumah? Rasanya tidak afdol, sedangkan meskipun di tengah wabah ini sebenarnya kita masih cukup sehat untuk bisa tetap salat dan ibadah di masjid. Saya tidak akan membahas perkara itu lebih lanjut, karena saya sudah cukup yakin dengan imbauan dari Aa Gym dan Tuanku Guru Bajang (TGB). Bahwa ibadah tarawih itu hakikatnya adalah salatnya. Sedangkan tempatnya, bisa dilakukan di mana saja.
Nah, ramai-ramai soal per-salat tarawih di rumah-an ini mengingatkan saya pad pengalaman Ramadan tahun 2017. Selama KKN, saya dan kawan-kawan salat tarawih selalu di rumah. Selalu! Itupun tidak pasti di jam setelah isya. Betul-betul fleksibel.
Karena di desa kami, Lelobatan, NTT, populasi muslim nol persen. Boro-boro tarawih berjamaah ke masjid, lha wong masjid terdekatnya saja adanya di kecamatan. Kalau mau ke sana pun rekoso, mahal, dan butuh waktu lama.
Tapi kami berlima sangat menikmati tarawih di rumah. Kadang kami tarawih full team, lebih sering tidak. Karena kan yang perempuan gantian menstruasinya hehe. Selain itu memang ada aktivitas dan program individu yang membuat kami tidak bisa menjalankan tarawih berjamaah full team.
Yang lucu, dua kawan laki-laki serumah saya punya background ormas yang berbeda. Satu NU, satu Muhammadiyah. Mereka kalau jadi imam memang dari awal selalu ganti-gantian, baik salat wajib maupun tarawih. Jadi, kadang kami tarawih 11 rokaat, kadang 23. Kadang subuh pakai qunut, kadang tidak. Kadang wirid bareng selepas solat, kadang tidak.
Indah sekali. Jadi rindu.












