Rezeki yang Tidak Disangka-sangka
Agustus 2025, aku dan suami menemukan nama suami di deretan TPM (Tim Promosi dan Mutasi) masuk ke daerah Jawa Timur. Tentu sajaa kami bersyukur.
Kemudian kami mendapatkan kabar bahwa, di daerah tujuan nanti, rumah dinasnya hanya ada 6, dan semua sudah digunakan oleh rekan suami yang sudah terlebih dahulu ada di sana (ketambahan dua personil baru termasuk suami).
Saat itu aku, oh oke, berarti kita nggak dapet Rumah Dinas ya. Berarti kita akan dapat budget untuk kontrak rumah. Sambil mulai mengepak barang, kami mulai mencari rumah, yang ternyata.... sulit.
Sulitnya Mencari Rumah Sesuai Preferensi
Kok aku nggak pernah baca cerita tentang sulitnya cari kontrakan ya? Hahaha. Seumur hidup, aku nggak pernah mengontrak rumah karena setelah menikah kami tinggal di rumah orang tua dulu dan setelah itu tinggal di rumah dinas.
Sulitnya adalah mencari kontrakan yang masuk budget ke dalam anggaran yang diberikan dan sesuai preferensi. Di satu sisi, aku sadar budget dari kantor suami memang nggak sebesar itu, jadi pasti mau nggak mau kita nambah, tapi nggak menyangka kalau 'standar'ku dalam mengontrak rumah ternyata... cukup tinggi?
Beberapa kali ada rekan suami yang mengirimkan contoh rumah kontrakan, dan aku nggak sreg. Aku ingin rumah yang cukup luas, ventilasi bagus, lingkungan enak nggak berisik, kamarnya ada 3 jadi anak-anak bisa punya kamar sendiri-sendiri, ada halamannya supaya anak-anak dan aku bisa menikmati hari di halaman nggak di dalem ruangan terus, tapi maunya ada pagar tinggi sebagai batas supaya tetep bisa keluar rumah dan di halaman tanpa menutup aurat, dan sebagainya. Ventilasi dan sirkulasi udara bagus cukup harga mati buat aku karena aku anak rumahan. Aku butuh banget nyaman di rumah.
Di situ aku sadar... oh, aku tuh betah di rumah karena selama ini rumahku, dan kosanku, nyaman. Nyaman banget.
Aku jadi ingat waktu di Sambas pernah beberapa kali ke rumah teman... dan kondisinya sempat membuatku membatin wah mereka sehari-hari tinggalnya begini ya. Jujur aku kayaknya nggak sanggup :") Menurutku, tinggal di rumah dinas di area Sambas sudah merupakan titik terendahku, tapi ternyata area situ dan rumah begitu masih okee banget.
Di titik ini juga aku sadar, sebenarnya nggak sejahat kata orang-orang yang, 'jadiin orang lain bahan bersyukur', tapi memang ada momen-momen yang kita jadi sadar bahwa yang kita miliki itu sebenarnya... anugerah yang luar biasa dari Allah.
Kegelisahan yang Muncul
Lanjut ke pencarian rumah kontrakan. Saat ada rumah yang terasa sreg buatku, kok ternyata harganya bisa 2x dari budget yang tersedia? Aku sempet ngotot mau rumah itu, meskipun artinya kita harus mengeluarkan budget tambahan, tapi aku juga jadi berhenti ketika tahu rekan-rekan suamiku nggak ada yang ambil rumah kontrakan di harga itu. Mereka ambil yang sesuai budget atau lebih sedikit aja dari budget.
Deg. Di titik itu aku jadi gelisah.
Aku merasa.... kenapa aku nggak bisa merasa cukup dengan yang sesuai budget? Padahal aku nggak bekerja, tapi kenapa aku banyak maunya dan jatohnya jadi memberatkan suami dengan maunya rumah yang ideal bagiku?
Suami yang Memahami, dan Aku yang... Tetap Menyerang Diri
Berhari-hari kita nggak jadi fiksasi rumah. Sambil ngobrol, aku juga gelisah menanyakan ke suamiku, apakah aku berlebihan? Apakah aku boros? Apakah aku banyak mau?
Sebenarnya suamiku sih terserah aku aja mau yang mana, dia lebih mengutamakan kenyamanan aku yang banyak di rumah. Dia juga tau aku soalnya anak rumahan banget huhu :") Dia juga tahu aku besar di keluarga yang standar rumahnya dan standar kosannya kaya gimana, jadi ya udah pokoknya katanya yang bikin aku nyaman aja gituu.
Walaupunnn suamiku udah bilang gitu, tetep aja aku gelisah membayangkan budget tahunan yang akan keluar lebih banyak karena "ketidaksederhanaanku". Entah kenapa aku ngelabel diri sendiri begitu. Padahal, sederhana apa nggak itu kan tergantung initial point nya di mana? Kalau rumah yang kurang nyaman untukku dan membuat aku sering marah-marah, nggak mood dan nggak produktif, atau kita jadi sulit ibadah, bukannya jadinya juga nggak baik ya? Wah pokoknya gelisah deh hatiku saat itu. Aku nggak merasa aku minta rumah yang mahal banget juga kok harga tahunannya, cuma karena harganya di atas harga rekan-rekan lain, kok aku jadi merasa begitu ya? Aku jadi menyerang diri sendiri: kenapa aku nggak sesederhana istri yang lain?
Kadang aku juga bingung padahal mereka itu kalau keluar rumah atau upload status kayak wah gitu deh diliatnya, tapi ternyata mereka nggak apa-apa ya tinggal di rumah yang sederhana? Teruss di titik itu juga suamiku bilang kalau orang tuh beda-beda. Ada loh orang yang penting gimana pas penampilan keluar, kalo aku kan justru penampilan keluarnya yang penting nyaman, sopan, ga harus beli aksesoris ini itu, tapi yang penting bagi aku adalah kenyamanan di dalam rumah. Ya orang lain juga harus nyaman di rumah tapi kalau standar nyamanku untuk rumah itu beda, itu nggak apa-apa banget.
Hukss aku terharu dibelain dan dingertiin suamiku tapi akuuu yang terus menyerang dan menyalahkan diri sendiri sebagai istri yang banyak mau :") gelisah sekali hatiku saat itu. Mau fiksasi rumah tapi kok nggakjadi jadi.
Jadiiii kubawa ke dalam doa, istikharah, sehari-hari aku juga masih murajaah hafalan Al-Qur'an. Sambil galau.
Tiba-tiba, Beginilah Cara Allah Menggerakkan Hati Manusia
Eh, tau-tau, rumah yang kami incar dibook orang lain. Duar.
Tapi, tau-tau juga, Ibu telefon, ngabarin kalau baru saja telefon sepupunya Ayah, sebut saja Tante M. Ibu dan Ayah ngabarin kalau kami akan pindah ke Pasuruan, tempatnya almarhumam Tante L, adiknya Tante M.
Saat itu, tau-tau Tante M bilang, "Ohiya rumahnya almarhumah kan kosong, bisa dipakai itu."
Dan begitulaah semua terjadi dengan begitu cepat. Awalnya galau karena rumahnya harus direnovasi dulu. Takut nggak nyaman juga buat aku.
Tapi ternyata pas sampai di sanaa, MasyaAllah kami disambut dengan baik bangettt. Padahal loh kami nggak pernah ketemu sama almarhumah Tante L, atau anak-anaknya. Tapi Mas B, anaknya Tante L, menyambut kami dengan baikk. Beliau dan istrinya beresin rumahnya, ngerenovasi bagian atap, dan sisanya membiarkan kami untuk merenov rumah tipis-tipis seperti mengecat dan merapihkan halaman.
Baikkkk banget keluarga Tante M dan Tante L ini MasyaAllaah terharuuuu bangettt aku. Kok bisa ya baikk padahal belum pernah ketemu? Sekalinya ketemu, ya memang saudara, tapi kan belum pernah ketemuuu. MasyaAllah kalau Allah udah menggerakkan hati orang ya :")
Best part nya? Rumahnya luass banget, dua kavling dijadikan satu. Terletak di komplek perumahan lama yang guyub tapi nggak terlalu ramai, jadi cukup nyaman untuk aku bersosialisasi secukupnya. Ada 3 kamar. Ada dapur, ruang makan dan ruang keluarga yang luas. Halamannya luas, cukup untuk parkir 2 mobil dan masih ada area terbuka untuk tanaman dan jemuran. Dannn perabotnya lengkap karena memang rumahnya belum diapa-apain sejak almarhumah meninggal.
Nyangka ga sihh ya Allah mau nangis terharu. Bener-bener dipan lengkap di setiap kamar, meja belajar, lemari besar-besar bahkan kokoh banget dari kayu jati, meja makan, sofa, rak buku, tumpukan piring gelas dll, sampai kulkas dua pintu dan mesin cuci pun ada. Bener-bener tinggal bawa diri dan baju pas masuk huhu. Memang masih ada renovasi tipis-tipis tapi rasanya nggak papa bangetttt.
Merasa Berterimakasih dan Bersyukurrr Banget :")
Udahlah ternyata dari Mas B dan keluarganya juga sebaikkkk itu. Mereka bilang nggak usah bayar apa-apa, ditempatin aja selama 5 tahun ke depan, mereka cuma titip barang-barang karena mereka masih bingung barang-barang mau dikemanain. Huaaa MasyaAllah.
Akhirnya budget uang kontrakan dari kantor rencananya kami gunakan untuk rapiin rumah seperti merenovasi rumah dan rapiin halaman.
Selama beresin barang-barang di rumah tersebut pas awal masuk, aku mau nangiiiis :") membayangkan ini adalah rumah yang dulu mungkin dibeli dengan penuh perjuanagn oleh almarhum dan almarhumah, tempat Mas B dan kakaknya tumbuh dari kecil, menghabiskan masa kecil sampai dewasa... lalu... setelah kedua orang tua meninggal, rumahnya kosong.
Paham banget sih perasaan mau beresin rumah juga rasanya masih kayakk... yaa gimana ya, rumah yang penuh kenangan. Makanya kata Mas B juga, "Mau diberesin belum jadi jadi. Rencananya mau dikontrakin, tapi ya gitu deh, susah. Jadi yaudah dipake aja dulu nggak apa-apa."
Bahkan Mas B malaah terimakasih sama kami karena kami akan menggunakan dan menempati rumahnya, daripada rumahnya kosongnya begitu aja. Beliau seneng juga rumahnya ada yang ngerawat.
Huhu laah malah mereka yang makasih :") Sambil beres-beres aku sambil banyak-banyak mendoakan almarhumah Tante L dan suami, juga banyak mendoakan keluarga Mas B.
Betapa Allah Menyayangi dan Selalu Mencukupi Kebutuhan Kami
Terimakasih ya Allaah atas 'kejutan' nya untuk keluarga kecil kami. Sekarang kami sudah hampir setahun tinggal di sini, dan jujur, rumah nyamaaaaan banget.
Bener-bener merasa disayang banget sama Allah. Di saat aku merasa bersalah karena nggak sederhana, standarku tinggi, dll, Allah kasih aku rumah yang melebihi keinginanku, tapi bener-bener sesuai sama kebutuhan kami sekeluarga :") bahkan halamannya penuh sama tanaman-tanaman fungsional (seperti pohon salam, pohon jeruk, pohon belimbing wuluh, dll) dan tanaman-tanaman cantik seperti aneka bunga seperti kamboja dan melati.
Di sini juga aku merenung... Mungkin inilah kenapa silaturahim itu membuka pintu rezeki. Dengan memperluas dan maintain silaturahim, kita bisa ketemu sama kemungkinan-kemungkinan yang lebih luas.
Ya Allah masih merinding kalo mengingat cerita gimana kami bisa tinggal di rumah ini :") Alhamdulillahilladzii binimati tatimmush shalihaaat semoga setiap bangun tidur, setiap beresin rumah, setiap menggunakan setiap jengkal bagian rumahnya, kami bisa senantiasa bersyukur.
Pasuruan, Juni 2026














