Kereta sampai di stasiun singgah. Pintu terbuka perlahan dan tampaklah suasana persinggahan pagi itu. Saya turun ragu-ragu, mengamati penumpang lain yang mengambil langkah tegas, meninggalkan stasiun, dan melanjutkan perjalanan mereka.
Orang-orang dulu bilang stasiun singgah adalah tempatmu bermain, menari, mengambil Hikmah, dan mencari Bahagia--apa pun atau siapa pun Hikmah dan Bahagia yang dimaksud. Tidak ada yang mengungkapkan betapa bingung dan membingungkannya stasiun ini. “Iya, dia sendiri bingung, menyaksikan penumpang yang tak terhitung jumlahnya datang dari kereta yang sama, tapi berakhir ke tujuan yang berbeda,” begitu kata petugas setelah saya tanya apa sebenarnya stasiun ini.
Stasiun singgah, stasiun tanpa ujung dengan koridor yang berliku-liku. Kata Petunjuk--seorang buku baik hati, dia mangkal tepat di samping loket tiket--, biarpun tampaknya memusingkan, tidak ada yang pernah tersasar di sini. “Kaki-kaki Penumpang tahu mereka harus ke mana. Kalaupun nanti nyasar, hati mereka punya peta. Kalau nanti kau tersasar, ikuti saja apa kata Hati,” pesannya sebelum terbatuk sedikit. Maklum, sebagai seorang Buku yang bijaksana, teman Debunya juga banyak sekali, halaman-halaman dan tepi-tepinya pun sudah menguning.
Maka, mengikuti pesan Petunjuk, saya melangkah tanpa arah dan larut dalam khayalan. Sayangnya Petunjuk lupa akan suatu hal penting. Kaki penumpang tidak bisa berpikir. Kalau anda berjalan sambil melamun, kaki-kaki tanpa pikiran itu akan membawa anda ke Antah Berantah, sebuah tempat dalam stasiun yang tidak terbaca titik koordinatnya. Apakah saya penumpang pertama yang sampai ke sini? Mungkin saja. Jadi jangan berharap ada google maps, saya lebih berharap membawa kompas di tempat seperti ini.
Menyasar di Antah Berantah sebetulnya tidak buruk. Saya bertemu dengan Hal-Hal Menyenangkan. Dia memperkenalkan saya dengan bermacam-macam hal, dari seni menyetir hingga kiat-kiat menjadi fangirl. Hal-Hal Menyenangkan bilang, “Ada banyak kesenangan dalam perjalanan. Tapi ingat, apa-apa yang berlebihan itu tidak baik.”. Dia berkata benar, terlalu lama di tempat ini malah membuat saya merasa hampa. Siapa saya sebenarnya? Kenapa saya di sini? Memangnya saya mau ke mana? Kata tanya yang berlarut-larut dalam benak mengantarkan saya pada pintu rahasia di Antah Berantah.
Saya mengetuk sekali. Tiada jawaban. Kali kedua dan ketiga pun begitu. Adab bertamu adalah mengetuk pintu tiga kali dan pergi jika tidak ada yang menjawab. Maka, saya merapikan pakaian dan bersiap pergi. Belum ada lima detik saya beranjak, pintu terbuka, menampakkan sosok yang bergegas memeluk saya.
“Saya Sedih. Saya tahu kamu bersedih. Tapi jangan khawatir, akan saya temani sampai akhir,“ kata sosok itu.
Hujan membasahi Antah Berantah semenjak saya dan Sedih bertemu. Tidak, sepertinya awan di atas mengikuti kami. Kami sudah berjalan menjauhi Antah Berantah, tapi langit gelap di atas tidak kunjung menghilang. Sedih merangkul saya, mengeratkan jaket yang dia pakaikan untuk melindungi kepala saya.
Kami berjalan dan tanpa sadar tiba di ruang tunggu gerbong kereta. Sedih menggandeng tangan saya memasuki gerbong. Rintik hujan terdengar dari atap kereta dan tempiasnya mulai membasahi lantai.
Pintu tertutup dan peluit panjang terdengar. Asap pun mulai mengepul dari cerobong kereta. Perlahan, kereta melaju menuju stasiun yang tidak saya ketahui. Tangis saya pecah dalam rangkulan Sedih. “Apa ini? Akan ke mana saya?”
Seorang petugas menepuk bahu saya dan berkata, “Jangan menangis! Lepaskan Sedih dan mari bermain bersama”. Dia mengulurkan tangannya. Ragu-ragu, jemari saya menyambutnya dan dalam sekejap, kami sudah berlari meninggalkan Sedih. Kaki-kaki kami bergerak meninggalkan gerbong pertama. Menakjubkan! Layaknya mimpi di siang bolong, kedua mata saya menangkap pemandangan yang berbeda di luar jendela setiap gerbong. Bahkan penampakan setiap gerbong pun berbeda. Ini mengejutkan, mengasyikkan, luar biasa! “Mas Inis!” begitu saya memanggil petugas itu setelah mengobrol di gerbong ketiga, “tolong! Tolong bawa saya ke seluruh gerbong sebelum kita sampai!. Saya menangkupkan tangan dan menatap Mas Inis penuh harap. Yang dipinta tertawa lepas, “baik, pegang tangan saya dan nikmatilah perjalanan kita.”
Saya dan Mas Inis pun melenggang, berlari menyingkap kejutan-kejutan dalam setiap gerbong.
Selamat tinggal. Terima kasih sudah mengantar saya sampai sini. Tolong jangan temukan saya, saya akan mencari Asa di sini. Hati-hati di jalan pulang.