Syech Siti Jenar dipanggil juga Syech Lemah Abang. Maka arti "Siti" dalam nama itu dipadan dan disamakan dengan "Lemah". Sementara arti dari "Lemah" adalah "Tanah". (Jenar dan Abang, artinya merah, boleh jadi maksudnya adalah yg merona atau mempesona).
Etimologi (asal usul) memungkinkan kita mengenali banyak hal, khususnya sifat sifat dari yg dinamakan itu. Sebagaimana jika kita mengenal asal usul penciptaan kita sendiri, akan mengetahui perjalanan sampai akhir prnciptaan. Yang jelas dalam hal pembicaraan kita ini, ketika orang mengenal sifat sifat suatu benda, maka ia bisa memperlakukan benda itu pada tempatnya, sesuai karakter benda itu. Tentu berbeda memperlakukan besi dengan karet, berbeda menggunakan piring dengan gelas, dan berbeda memperlakukan emas dengan kotoran.
Jika "Siti" adalah Tanah, maka ia rendah, padat, gelap, tetapi juga patuh, memberi dan amanah. Baiklah kalau kita mengetahui bahwa pada dasarnya kita, manusia yg dari bahan dasar tanah, memiliki sifat alami berupa kelemahan, bodoh, rendah hati, patuh dan amanah. Kira kira begitu.
"Siti" adalah gelar bagi wanita, baik sebagai makhluk yg "lemah gemulai" dalam gerakan, lemah lembut dalam menangani sesuatu, juga cenderung lebih lemah dalam kecerdasan dan kekuatan fisik. Namun semua itu justru menjadi kekuatan mereka. Dan tidak ada kekuatan sejati selain kelemah lembutan. Mereka kuat bukan karena memenangkan, melainkan karena tak terkalahkan. Jika laki laki adalah cahaya, maka wanita adalah air yg kelembutanya tiada batas.
Ya, Kaum wanita, kaum Siti Hawa adalah kaum yg lemah. Mereka pun mengakui itu. Tetapi kesadaran akan kelemahan seseorang dan ketidak mampuan dalam hubungannya dengan Tuhan merupakan keadaan dari penghambaan. Dan menjadi hamba merupakan hubungan manusia yg sudah sepantasnya dengan Tuhan, suatu prasyarat yg diperlukan untuk mengaktualkan sifat sifat kekuatan.
Sementara mereka yg kuat, kaum pria yg mengatakan diri mereka kuat itu justru diperdayakan oleh keadaan alamiah mereka untuk memproyeksikan dan memamerkan sifat sifat kekuatan, dan menyombongkan kekuatan adalah kelemahan. Ini bahaya besar, sebab mereka tidak memiliki hak yg sah atasnya tanpa terlebih dahulu berada dalam kedudukan pengakuan kelemahan sebagai hamba.
"SITI" itu lemah, dan dalam saat bersamaan ia menjadi sebutan gelar kehormatan dan kemuliaan wanita Arab, dan orang Indonesia mengadopsinya untuk menamai anak anak wanita yg cantik jelita. Bukankah dengan demikian kita bisa berkesimpulan bahwa "lemah lembut adalah suatu kemuliaan dan kehormatan"?
Kita semua manusia, dan manusia pada dasarnya adalah makhluk yg lemah, maka apakah yg patut diberikan kepada yg lemah selain belas kasih?
(Gadis berkebaya Siti Zulaikha)