âilm (2)
âDalam buku-bukunya, Einstein dan Hawking tidak pernah membahas tentang ada atau tidaknya Tuhan. Mereka cuma mempelajari bagaimana alam semesta bekerjaâ
âTapi mereka memeriksa cara kerja alam semesta seolah alam ini bekerja sendiri tanpa ada yang mengatur. Seolah bilang bahwa setelah Big-bang, atom-atom itu bergerak sendiri membentuk semestaâ
âEmang kamu berharap buku teks semesta bakal berisi apa? Allah menciptakan semesta melalui bigbang dan seterusnya, dan seterusnya?â
âHahaha, kamu lucu kadang-kadangâ
âSaya cuma nggak mau kamu antipati sama banyak hal hanya karena cara mereka menyampaikan ilmunya nggak sesuai dengan apa yang kamu pengen. Sumber ilmu itu ada dari qurâan, hadis, penalaran rasio dan pengamatan empiris. Einstein menalar dengan rasio. Fisikawan generasi selanjutnya memvalidasi teori dengan pengamatan empiris. Nggak ada yang perlu dipermasalahkan dari hasil pekerjaan merekaâ
*
Gue teringat apa yang disampaikan oleh guru Aqidah sewaktu gue masih Tsanawiyah. Beliau bertanya:
âBagaimana hujan turun?â
âHujan turun dari awanâ
âDari mana datangnya awan?â
âDari uap air di daratanâ
âMengapa air bisa berubah menjadi uap?â
âŚâŚ
âKarena Allah mentakdirkan demikianâ
âŚâŚ
Setelah dialog ini, gue jadi berpikir, cukupkah jika kita menyandarkan semua dengan jawaban:
âKarena Allah mentakdirkan demikianâ
Jika semua cukup, tentunya kita tidak perlu mengetahui sifat-sifat air beserta segala macam perubahannya. Kalau hujan deras, kita cukup berdoa agar tidak banjir. Kalau sudah doa ternyata masih banjir, ya berarti Allah memang mentakdirkan demikian.
âŚ..
âKak Alfin, katanya orang arab itu jarang yang ke dokter. Â Soalnya kalo mereka sakit, mereka tawakkal dulu dan sembuh. Nggak perlu ke dokterâ
âKata siapa?â
âKata grup WA sih heheâ
âŚ..
âGue kadang bingung, usaha dulu baru tawakkal atau tawakkal dulu baru usaha?â
âNggak usah rumit mikirnya. Tawakkal aja di setiap waktu. Di awal proses, di tengah, di akhir dan bahkan setelah proses selesaiâ
âKadang orang baru tawakkal setelah usahanya mentokâ
âYa nggak apa-apa, daripada nggak tawakkal sama sekaliâ
âŚ..
âKak, kenapa ya Allah nyuruh kita usaha dulu baru cita-citanya tercapai? Kenapa nggak dikasih langsung ajaâ
âKalo tanya kenapa, cuma Allah yang tahu. Tapi kalo dicari hikmahnya, bakal banyak banget. Bayangin kalo kamu dari fresh grad tanpa pengalaman, langsung dikasih jabatan manager operasional. Gaji enak. Tapi kamu bisa jalanin amanah kamu nggak? Tanpa pengalaman, pasti berantakanâ
âKak Alfin mau bilang usaha kita ngasih kita pengalaman gitu?â
âSalah satunyaâ
âŚ..
Apakah dengan beriman artinya kita mencukupkan diri untuk menjawab setiap pertanyaan dengan:
âKarena Allah mentakdirkan demikianâ
âŚ
âApakah kalau gue bilang air mendidih karena suhunya sudah mencapai 100 derajat celcius artinya gue meniadakan kehadiran Allah dalam proses mendidihnya air?â
âLo kenapa nanya yang ekstrim-ekstrim gitu sih Fin? wkwkâ
âSoalnya yang gue temui kadang-kadang ekstrim jugaaaaâ
âSemisal?â
âSemisal bencana banjir dibilang karena banyak maksiat. Itu kan berarti kalo gue bilang banjir terjadi karena kurangnya resapan air, gue bisa di-judge meniadakan campur tangan Allah yang mendatangkan banjir karena orang-orang maksiatâ
âLo sampe mikir sejauh itu kayak beneran ga ada kerjaan wkwkâ
âGue kalo mau tidur suka kepikiran kayak gini tauâ
âŚ.
âDimana kita meletakkan iman kita ketika kita belajar sains?
Banyak yang masih berpersepsi bahwa kita belajar sains untuk membuktikan keberadaan Allah. Padahal setelah kita bersyahadat, kita sudah declare percaya bahwa Allah itu ada. Sudah tidak perlu pembuktian lagi.
Ketika mempelajari sains, kita sesungguhnya sedang memahami tentang bagaimana sunnatullah bekerja. Sunnatullah adalah aturan-aturan yang ditetapkan Allah kepada semua makhluk-Nya. Sunnatullah ini dapat kita kenali polanya sehingga kita bisa mengelola dampak dari setiap perubahan kondisi alam sekitae kita. Jika kita bisa mengelola dengan baik, kita bisa menjalankan amanah sebagai khalifah di muka bumi dengan cara yang adil.
Kita perlu memahami bagaimana matahari dan bumi yang berputar sesuai garis edarnya. Bagaimana tanaman dapat berbuah sesuai musimnya. Bagaimana sistem kekebalan tubuh bekerja melawan virus.â
âJadi cukupkah menjawab segala pertanyaan tentang alam dengan jawaban karena Allah yang mentakdirkan?â
âKalo dalam konteks iman, cukup. Kalo dalam konteks amanah untuk mengelola sumber daya di muka bumi, jelas enggak cukup. Justeru iman yang mewajibkan kita untuk menggali sebanyak-banyaknya tentang bagaimana alam semesta ini bekerjaâ
âŚâŚ
âAllah meninggikan derajat orang-orang berilmu beberapa derajatâ
âKenapa Allah meninggikan orang berilmu beberapa derajat?â
âWallahu aâlam. Tapi kalau diamati lagi, orang berilmu punya banyak sekali kelebihan. Semakin kita berilmu, semakin kita punya banyak ruang untuk berdzikir, semakin banyak titik yang mengingatkan kita untuk bertawakkal. Alfin, kebodohan itu daya rusaknya hebat. Sementara ilmu yang bermanfaat, bisa membawa jutaan kebaikanâ
âMeskipun itu bukan ilmu agama?â
âIyaâ
âIyanya nggak ikhlas gituâ
âGue sebenernya ngerasa nggak pas aja sama dikotomi ilmu umum sama ilmu agama. Tapi gue lagi males bahasâ
âŚ..
Hari ini saya lagi ngerjain novel dan jadi berimajinasi tentang percakapan tokoh Alfin dan Cakra. Alfin yang kepalanya selalu penuh pertanyaan dan Cakra yang wawasannya luas sehingga selalu punya jawaban.
âŚ.
Pandemi ini membuat saya belajar tentang betapa besarnya manfaat ilmu untuk kemaslahatan. Dan betapa besarnya daya rusak kebodohan bagi diri sendiri dan orang lain.
Oh ya, selama Ramadhan ini, saya membaca tafsir Juz Amma yang disusun syaikh Yusuf Qardhawi. Saya belum selesai membaca dan masih sampai pada surat At Takwir. Pembahasan dalam tafsir ini diawali dari surat Al Fatihah, dilanjutkan dengan An Nabaâ, An Naaziâat, âAbasa lalu At Takwir. Hal yang saya jadikan catatan selama membaca tafsir ini adalah, syaikh Qardhawi sangat berhati-hati menyampaikan pendapat pribadi. Dan saat menuliskan makna dari suatu ayat, beliau menjabarkan ikhtilaf-ikhtilaf yang ada sambil menuliskan referensi yang berkaitan dengan ikhtilaf tersebut.
Ini menjadi semacam penyegaran yang melegakan buat saya. Mengingat selama pandemi ini ada begitu banyak kajian akhir zaman yang berseliweran di timeline saya.
Beberapa tema disampaikan dengan baik. Namun beberapa tema disampaikan dengan cara seolah islam adalah agama yang mendukung ramalan-ramalan ala primbon tentang kapan datangnya hari kiamat.
Saya tidak akan menulis ulang penjelasan syaikh Qardhawi di sini. Hanya yang perlu saya garis bawahi, pembahasan hari kiamat dalam Al Quran bukan diarahkan untuk memprediksi kapan datangnya. Allah memberitakan hari kiamat kepada kita agar kita mengingat mati, mengingat hari akhir dan meningkatkan taqwa.
Ini apa hubungannya sama awal pembukaan tulisan ini sih?
Saya nulis aja tanpa kerangka ~XD Jadi mengalir aja begitu. Makanya maaf banget kalo rada-rada ngalor ngidul. Kebetulan, selain baca Tafsir Juz âAmma, saya juga lagi baca buku tentang Cosmos. Daaaan di grup WA lagi banyak kajian yang mengaitkan pandemi dengan ramalan datangnya kiamat. Jadinya banyak hal yang berkecamuk di kepala saya.
Melihat rumitnya penanganan Covid-19 ini, saya jadi pusing sendiri. Pengen diem, hibernasi berapa bulan dan yaudah pasrah aja sama takdir Allah. Tapi kepala saya selalu terngiang:
âCukupkah berdiam diri dan bersembunyi dalam dalih tawakkal?â
âBagaimana kalau tahun ini kiamat beneran?â
saya cuma geleng-geleng dengan segala macam overthink saya.
Juz âamma nya masih saya pegang. Masih ada ayat:
âYasâaluunaka âanissaaâati ayyaana mursaaha. Fii ma anta min dzikraahaa. Ilaa Robbika muntahaahaa.â
Cuma Allah yang tahu kapan datangnya kiamat.
Saya lantas teringat hadis:
âJika terjadi hari kiamat besok sementara di tangan salah seorang dari kalian ada sebuah tunas, maka jika ia mampu menanam sebelum datang kiamat, tanamlahâ
(HR Bukhari)
Sekalipun besok kiamat, kita masih diperintahkan untuk berpikir tentang kehidupan.
Islam tidak mengajarkan tawakkal untuk memendekkan nalar kita tentang cara kerja semesta. Iman itu menuntut amal. Dan Al Quran banyak sekali meminta kita untuk memperhatikan, merenungkan segala hal yang di sekitar kita. Bukan sebagai pengamat pasif tetapi sebagai manusia berakal yang memiliki kemampuan untuk menaburkan benih kebaikan serta mencegah segala macam kerusakan.
Bagaimana kita bisa mencegah kerusakan kalau kita tidak belajar tentang alam? Bagaimana kita bisa mencegah kerusakan kalau kita alergi dengan berbagai macam sumber pengetahuan?



















