“Liat tuh, mukanya Mba Najwa aja males dengerin Si Bodoh ini ngomong,” begitu kurang lebih komentar seorang teman di IG story-nya.
“Mba Najwa harusnya belajar lagi ilmu jurnalistik. Kalau narasumber lagi jawab pertanyaan, jangan dipotong. Belum selesai udah dipotong dengan kalimat sendiri, asumsi sendiri yang cenderung judging. Mestinya Mba Najwa belajar dari Karni Ilyas yang selalu mempersilakan narasumbernya bicara sampai selesai,” kurang lebih begitu juga kata seseorang – entah siapa, saya lupa – yang saya temui di kolom explore Instagram.
Awalnya, saya nggak terlalu tertarik untuk nonton program Mata Najwa episode 100 hari kerja Anies - Sandi. Tapi dua pernyataan di atas pada akhirnya memberangkatkan saya pada penelusuran episode itu di YouTube. Dan reaksi saya?
“Hmm, bener nih kata Ibu-ibu yang ada di explore Instagram.”
Gitu. Gitu aja? Ya nggak dong. Tapi, itu reaksi pertama kali saat ngeliat wawancara Pak Anies oleh Mba Najwa. Ngeliatnya gatel, semacam terlalu sering omongan Pak Anies diinterupsi. Btw, kalo dipikir-pikir, saya juga sering kayak Mba Najwa sih. Dan ternyata itu annoying ya. Baiklah, pelan-pelan akan saya kurangi. Banyak ya peer buat bebenah diri. Nah tapi berhubung ini lagi nggak ngomongin diri sendiri, mari kita lanjut aja ya.
Agenda yang dibahas ada banyak (males ngitung, mari kita sebut aja satu-satu). Yang pertama itu tentang Tanah Abang. Setelah itu, yang dibahas adalah becak. Becak udah kelar, lanjut lagi ke rumah DP 0% (sekarang DP Rp 0). Selanjutnya yang dibahas yaitu tentang pamor Pak Anies dan Pak Sandi di mata masyarakat. Nah yang terakhir ini tentang polemik yang nggak ada abisnya: reklamasi.
Mungkin saya nggak akan bahas terlalu detail tentang wawancaranya. Tapi yang saya tertarik adalah sentimen masyarakat dan bagaimana saya menanggapi itu setelah menyaksikan sendiri wawancaranya. Sepengamatan saya, banyak yang mencela Gubernur yang berjalan sekarang dengan argumentasi katanya beliau kurang tegas dan kurang perhitungan yang matang. Di sisi lain, banyak juga yang mengelukan beliau karena agamanya baik dan dekat dengan rakyat. Baiklah, mari kita jabarkan lewat urutan segmen di wawancara 100 hari beliau tempo hari.
Menurut beberapa pihak, kebijakan beliau memperbolehkan PKL berjualan di tengah jalan merupakan sesuatu yang lucu – kalo nggak mau dibilang konyol. Bahkan di wawancara 100 harinya pun, ada kesan beliau sedikit disudutkan oleh Mba Najwa. Terutama di pertanyaan, “Jadi, harusnya saran siapa yang didengarkan? Saran POLDA saja?” kurang lebih begitu. Seolah-olah, beliau hanya manut-manut menerima saran tanpa ada inisiatif sendiri.
Pada akhirnya, beliau menampik tudingan implisit itu dengan mengatakan bahwa telah dilakukan survey dan beliau ingin mengubah pola kawasan Tanah Abang. Lebih tepatnya, menggeser fungsi lahan sebagai area transit, perdagangan, angkutan umum, ke beberapa titik di sekitarnya. Oke. Saya agak dapet nih poinnya. Apa yang beliau lakukan ialah ingin mengubah sistem demi mencapai kesetimbangan baru lewat pendekatan yang lebih memperhatikan manusia. Bukan infrastruktur.
Atau lebih tepatnya, pendekatan beliau ini ialah bottom-up. Melihat dari sumber penyebab masalahnya, lalu dibawa ke permukaan untuk dianalisis lebih lanjut. Saya khusnudzan, beliau pasti punya rancangan yang sifatnya holistik. Pasti ada dong ya helicopter view-nya. Harusnya. Semoga kekhusnudzanan saya ini benar adanya. Dan sepengalaman saya ngerjain tesis yang pendekatannya juga bottom-up, itu tuh bukan sesuatu yang mudah. Untuk merepresentasikan permasalahan yang sebenarnya, perlu dilakukan survey lapangan agar bisa disimulasikan, sampelnya pun nggak bisa sedikit.
Setelah benar-benar diimplementasikan pun, hasilnya nggak akan langsung terlihat. Namanya mengubah sistem, yaa nggak cukup terlihat dampaknya dalam hitungan beberapa bulan aja dong. Iya kan? Beda dengan mengubah infrastruktur yang bisa langsung terlihat bak proyek Roro Jonggrang. Jadi, kita sebagai warga yang baik harus sabar. Kalo suatu kebijakan belum kita rasakan langsung dampaknya, ya harap maklum sedikit. Misal mau cepet kerasa, pelan-pelan mulai ubah mindset sendiri dan nularin itu ke orang sekitar. Jangan cuma nyinyir. Huft. Belajar biar bisa begitu ya, Mut. Oke. Maaf hobi monolog.
Balik lagi ke permasalahan Tanah Abang. Saya tiba-tiba keingetan hasil diskusi-diskusi narasumber dari dunia planologi, arsitektur, dan sejenisnya di kajian New Urban Agenda. Mereka itu suka bilang kalo negara kita ini beda. Nggak bisa kita mereplikasi kebijakan negara lain di sini. Apa sebab? Sektor formal dan informal kita banyak bersinggungan. Ya liat aja di Tanah Abang tadi. Posisinya memang di pusat kota, tempat transitnya para urban, tapi banyak PKL kan. Tuh, bukti nyata persinggungan yang rapat. Jadi ya emang susah kalo sektor informal mau dihilangkan.
Sebenarnya, kasian juga loh para PKL itu. Mereka seringkali dituduhkan sebagai sumber kesemrawutan, padahal mereka butuh cari nafkah. Kadang masih kena pungli pula. Kurang terhimpit apa. Kita, para netizen, nggak tau sih perasaan mereka. Terkadang tekanan hidup yang kita alami membuat kita lupa berempati pada orang lain.
Kesimpulannya, untuk kasus Tanah Abang ini, saya khusnudzan aja lah sama Pak Anies dan Pak Sandi bahwa mereka mampu mencari solusi terbaik dengan catatan hasilnya memang tidak akan instan – maklum bukan top-down.
Lagi-lagi ada kaitannya dengan kaum proletar. Di wawancara tempo hari, Pak Anies mengatakan bahwa beliau akan memperbolehkan para tukang becak untuk mengoperasikan kembali becaknya. Syaratnyaaa, ada demand-nya tentunya. Yang dimaksud demand di sini ialah kesepakatan forum RW bahwa di daerahnya membutuhkan becak sebagai transportasi yang bersahabat di daerah tersebut (e.g. antar ibu-ibu yang habis belanja di pasar ke rumahnya) dan nggak masuk ke jalan raya. Beliau mengatakan, becak ini keberadaannya hanya 300-1000 di Jakarta, jadi tidak signifikan untuk membuat macet jika dibandingkan dengan keberadaan kendaraan bermotor yang belasan juta.
Oke, I put my trust on you, Pak! Tapi, kita hidup di negara yang menganggap bahwa ibukota merupakan suatu negeri utopis. Nah. Di saat ada kebijakan becak diperbolehkan, berbondong-bondong tukang becak dari daerah ingin hijrah ke Jakarta, sampai ada truk untuk ngangkutnya. Entah lah itu dibiayai siapa. Ini jadi peer buat beliau, pasti sulit untuk ngedata becak mana yang udah ada dari kapan tau dan becak mana yang baru aja ada setelah kebijakan itu mengemuka. Semangat ya, Pak! Untuk masalah becak segitu aja deh, males juga berpanjang lebar.
Nah. Janji ini lah yang membuat Pak Anies dinilai nggak konsisten. Awalnya DP 0%, lalu jadi DP Rp 0. Awalnya dibilang rumah, tapi nyatanya yang dibuat adalah rumah vertikal. Dan skema ini pun berlaku untuk orang-orang yang gajinya 4-7 juta. Sedangkan yang di bawah itu, skemanya jadi sama seperti yang dulu: sewa rusunawa.
Ini juga yang dituduhkan sebagai perhitungan yang kurang matang dari tim Pak Anies dan Pak Sandi. Aturan belum jelas, tapi udah launching. Kalo yang ini, saya bingung sih. Belum pernah ada pengalaman di kalkulasi properti soalnya. Jadi, kalo saya berkomentar, apa lah gunanya sekedar celotehan dari orang awam tanpa ilmu yang jelas. Kekekekeke.
4. Pamor Pak Anies dan Pak Sandi
The brocode between them is real, maaan! Kalo saya nggak salah, Pak Anies mengungguli Pak Sandi dalam hal popularitas. Sedangkan untuk influence, Pak Sandi yang menang. Bedanya apa? Kata jurnalis yang diundang di wawancara itu sih katanya kalo popularitas itu cuma sejauh apa seseorang dibicarakan. Sedangkan influence, sejauh apa kata-kata seseorang digunakan sebagai acuan. Biasanya sih yang populer itu merangkap influencer. Tapi ini nggak berlaku buat mereka. Unik. Saling melengkapi lah ya.
Di bagian ini, jujur saya agak ngawang. Laper, cuy! Ehehehe. Yang saya ingat, baik Pak Anies maupun Pak Sandi dituding inkonsisten dengan ucapan mereka di awal kampanye dulu. Katanya dulu di awal kampanye, mereka dukung-dukung aja reklamasi karena udah terlanjur dibangun. Sedangkan sekarang, mereka nggak setuju, sampe Pak Luhut mencak-mencak sendiri bilang, “Mana mungkin saya mau jeopardize reputasi saya sendiri di hadapan anak cucu saya dengan memperbolehkan reklamasi jika memang itu nggak diperbolehkan?” Ya emang siapa yang mau, Pak. Makanya, coba kaji lagi biar nggak jeopardize reputasinya, kekekeke.
Tapi sih yang saya tangkep, jawaban Pak Sandi katanya beliau masih sama kayak awal-awal kampanye: boleh-boleh aja itu reklamasi. Tapi nggak tau deh, coba tonton sendiri, barangkali saya salah nangkep. Kan lagi laper (jadinya agak bloon). Kalo saran saya sih, Pak, nggak apa-apa berubah pandangan tentang reklamasi ini. Toh pembangunannya bukan sesuatu yang urgent dan malah bisa mendatangkan bencana alam ke depannya (abrasi, sea level rise, dll). Jadi yaaa, pinter-pinternya Bapak aja deh.
Itu tadi gambaran per segmen. Sedangkan secara keseluruhan, pendapat saya tentang kepemimpinan mereka berdua adalaaah… Jeng jeng jeeeeng… Ya sebenarnya memang belum terlihat. Wajar. Baru tiga bulan dan pendekatan mereka itu beda dengan yang sebelumnya. Jadi, nggak bisa dibandingkan begitu saja karena jadinya nggak akan apple to apple. Nggak proporsional nanti. Dan ayo laaah, buat yang masih nyinyir sama pemerintah, mulai kurang-kurangin yuk ah. Nyinyiran kita nggak akan berdampak apa-apa selain ke nyusahin diri sendiri, nambah-nambah penyakit hati, dan bikin orang lain ngerasa irritated.
Nggak perlu lah bilang Gubernur bodoh. Kalo emang nggak suka dengan kerjanya, cukup kasih saran baiknya gimana. Kalo masih belum bisa, diem aja lah. Komentar buruk kita hanya akan menjadi polusi di sosial media. Ikut membangun negara juga nggak. Dan untuk Mba Najwa yang doyan interupsi, yasudalah, mungkin gayanya memang begitu. Susah mengubah sesuatu yang udah jadi habit. Nggak usah dipikirin.
Mari berkhusnudzan dalam segala aspek di hidup ini. Ataaaau, nggak usah mikir apa-apa aja sekalian! Hehehehehehehe
Mutul yang lagi nggak bisa nggak mikir apa-apa