Fase Kehidupan : Marriage
Bismillah, ini pembahasan yg sebenernya aku hindarin utk dipublish. Karena ngerasa kurang ilmu, dan ngerasa ga pantes. Tapi sepertinya akan lebih baik utk dipublish dan dishare, entah akan berpengaruh atau engga tapi apa yg dilakukan semut saat Nabi Ibrahim akan dibakar memberikan kita pembelajaran. Semoga ada manfaatnya.
Tulisan ini muncul karena geregetan dg huru hara akhir-akhir ini. Munculnya case influencer di akun lambe lambe yg kemudian jadi bahan penggiringan orang-orang sotoy, ngubah-ngubah petunjuk Al-Qur'an, dan malah menjadikan penguat untuk pembenaran semaunya.
"Makannya jangan nikah muda"
"Tuh kan bener klo nikah muda tuh cerai"
dan ungkapan yg super nyebelin, macem
"Fix sih nikah itu ga menghindarkan dari zina. Nikah tuh bikin terkungkung, ga happy, kita ga punya kebebasan. Bikin sengsara. Sakit hati kan akhirnya."
"Coba liat korban kdrt tertinggi adalah perempuan. Pernikahan itu melemahkan perempuan. Nyiksa perempuan. Membatasi ruang gerak perempuan. Maksa perempuan, harus hamil ngurus anak bla bla bla"
Juga karena aku menemui fakta di lapangan, "aku takut nikah. takut kdrt nanti gimana, takut disakitin, trauma, takut cerai"
atau mindset seperti "aku masih muda. Aku mau bebas. Aku mau meraih mimpiku. Aku mau melalang buana ke tempat yg aku mau, ga dulu untuk terkungkung dg aturan suami."
Ngeri ya. That's real. Itu yg mata dan telingaku tangkap dari sekelilingku. Beberapa. Dan aku turut prihatin.
Juga karena ini bulan syawal, banyak undangan, banyak kondangan, dan some of them baper, pngen ikutan juga tapi calon belum ada. Kasian..wkwk *candaa
Maka sebagai orang yg belum menikah, sebagai orang yg berada di fase yg sama dengan kalian, seumuran, dan sebagai perempuan, let me tell you what i think, and what i learn:
Pertama, eveything start from "why".
Kenapa. Kenapa harus nikah? Sebagai seorang muslim, kita punya Al-Qur'an, ada juga petunjuk dari Rasul dan ulama-ulama. Kenapa harus nikah? Wajibkah? Sunnah kah? Makruh kah? Haram kah? Can you answer that question? Kita perlu cari tau, kenapa aku harus nikah. Hukumnya apa kalau aku nikah. Karena pada beberapa orang hukumnya wajib baginya utk nikah, atau sunnah, atau malah haram.
Then, apa yg dicari dari nikah?
Teman hidup? Keuwuan? Biar kemana-mana ada yg nganterin? Ketenangan? Atau apa?
Dan pondasi terkuatnya adalah Allah.
Sebab Allah. Karena Allah lah satu-satunya yg kekal.
Kalau ketenangan yg kita cari, iya kita akan dapat ketenangan itu. Tapi kalau sewaktu-waktu ketegangan yg didapat karena beda pendapat gimana? Mau pisah?
Kalau menikah karena cinta, jika suatu saat nanti cinta itu hilang gimana? Mau pisah?
Inget, Allah yg membolak-balikkan hati. Mudah bagi Allah memberikan perasaan cinta dan menariknya.
Kalau menikah karena fisik, jika nanti sudah keriput, tak lagi semenarik sekarang, mau pisah? Jika iya, maka pernikahan hanya berlaku untuk kaum muda. Kalau sudah tua single aja. Begitu?
'Why' yg kuat, akan menguatkan kita, dalam case apapun, ga cuma pernikahan.
Kedua, apakah pernikahan itu tujuan?
Kalau pernikahan adalah tujuan, maka jika suatu saat salah satu diantara pasangan itu melenceng dari jalan Allah, atau keduanya tak lagi bisa menunaikan kewajiban dan memberikan hak satu sama lain, atau keduanya tak bisa menjalankan syari'at Allah melalui pernikahan itu, atau dg mempertahankan pernikahan malah menimbulkan petaka, bagaimana?
Al-Qur'an punya jawabannya.
Perceraian, meskipun tidak disukai Allah, tapi itu adalah jalan yg halal, jalan yg Allah berikan.
Beda bab dengan zina, Al-Qur'an jelas-jelas merekam bahwa Allah melarang zina, bahkan mendekatinya saja dilarang.
Juga, di zaman Rasul dulu, saat Rasulullah SAW masih hidup, anak angkat Rasulullah bercerai dg istrinya. Mereka sama-sama baik, tapi memang tak cocok, sehingga sering cekcok. Dan setelah itu Rasulullah menikah dg mantan istri anak angkatnya. Ini adalah hukum Allah SWT, bukan karena kemauan Rasul, agar umat Islam paham bahwa dibolehkan menikah dg mantan istri anak angkat. Sebab mereka bukan mahram.
Juga ada pejuang Allah, salah satu ahli perang yg menceraikan istrinya. Sebabnya adalah dahulu istrinya cantik, dan setelah mukanya terluka membuatnya tak cantik lagi. Sang suami menjauhi istrinya, hingga Aisyah menegurnya, lalu akhirnya sang istri diceraikan krna suaminya tak mampu lagi menunaikan kewajibannya dan memberi hak istrinya.
Ketiga, mendengar kabar perceraian, kdrt, dan kasus serupa, aku pun sedih. Sekaligus jadi warning, bahwa Allah lah yg kekal. Hanya Allah yg kekal.
Keempat, apakah aku tak punya ketakutan yg sama dengan kalian? Takut nikah, takut jika bagaimana bencana yg di dapatkan?
Dulu waktu aku SD, aku takut ga naik kelas. Karena menemui fakta di lapangan, ada anak tak naik kelas. Tapi ternyata aku selalu naik kelas.
Dulu waktu aku SD, aku takut ga lulus Ujian Nasional, karena aku menemui tetanggaku ga lulus, dan putus sekolah. Ternyata aku lulus, dan dengan nilai nyaris sempurna pada bidang yg kusukai. Alhamdulillah, bonus dari Allah.
Dulu waktu aku SD, aku takut ga diterima SMP terbaik di daerahku, bahkan terbayang bagaimana jika aku tak bisa sekolah, sebab SMP tsb adalah sekolah yg penutupan pendaftarannya paling akhir. Ternyata aku diterima.
Dan ketakutan-ketakutan yg lain. Ia selalu hadir pada setiap mimpiku, di setiap langkah hidupku.
Itu membuatku berfikir, rasa takut akan selalu ada bersamaku, selama aku hidup. Dan aku tak dapat mengusirnya apalagi menghindarinya. Pilihan paling pas adalah menghadapinya. Karena rasa takut itu sepaket dg apa yg ingin aku raih. Menjauhi takut sama saja menjauhi impianku. Lari dari ketakutan sama saja lari dari mimpiku.
Maka, definisikan ketakutan itu.
Jika takut karena belum siap, ambil lah waktu untuk mempersiapkannya. Fokus pada persiapan, dan bertemanlah dg ketakutan itu. Sebab jika kita fokus mengusir ketakutan, fokus kita bukan kepada persiapan, malah berperang dengan ketakutan. Sampai kapan? Sementara waktu kita tak banyak.
Jika takut karena trauma pernah melihat langsung kasus kdrt, pergi ke psikolog/therapyst adalah pilihan baik. Untuk menyembuhkan trauma tsb.
Kelima, apakah dg menikah kita jadi ga bebas? Terkungkung?
Aku banyak menemui orang-orang yg dg menikah, usahanya makin sukses, bisnisnya makin melesat, karirnya semakin bersinar, bahkan banyak juga bisa lanjut studi meski menyandang status istri atau suami.
Choose the right one. Support each other. Bukan menghambat mimpi salah satu diantaranya.
Keenam, apakah menikah itu menyengsarakan perempuan? Menyiksa perempuan? Melemahkan perempuan?
Konsep Islam tidak begitu. Islam memuliakan perempuan. Islam memuliakan ibu.
Tentu kita ingat ketika shahabat Rasul bertanya siapakah orang yg harus dimuliakan lebih dulu setelah Rasul, Rasul kita menjawab, ibumu ibumu ibumu baru ayahmu.
Sebab perjuangan ibu begitu besar, hamil, melahirkan, merawat kita adalah pekerjaan seumur hidup. Allah tambahkan pula, pahala syahid bagi seorang ibu yg meninggal karena melahirkan. Allah tambahkan lagi, bagi seorang anak, surga ada ditelapak kaki sang ibu.
Lantas bagaimana dg perempuan yg tak bisa hamil? Taat pada suami selama tdk menyimpang pada syariat Allah adalah surga baginya.
Kalau begitu, itu artinya dalam islam, perempuan dibawah laki-laki? Harus tunduk pada laki-laki?
Taat pada suami itu bukan berarti kita di bawah laki-laki. Taat pada suami karena Allah. Karena Allah yg suruh.
Sebagaimana kita sholat menghadap kiblat, ke arah ka'bah. Padahal ka'bah hanya batu. Sebab apa? Sebab Allah yg suruh.
Taat pada suami bukan berarti kita di bawah laki-laki. Islam tidak mengajarkan demikian. Malah jika suami keliru, istri wajib mengingatkan, begitupun sebaliknya. Berjalan beriringan, kompak dalam ketaatan, fokus pada peran masing-masing dalam hal kebaikan, itulah yg Islam ajarkan. Bukan saling membuktikan siapa yg lebih kuat, siapa yg diatas siapa yg dibawah. Bukan. Sebab menikah itu kerjasama. Keluarga itu kerjasama. Setiap anggota keluarga memiliki peran dan ladang amalnya masing-masing.
Bagaimana dg perempuan yg tak bisa menikah, krna haram hukumnya misal?
Menjadi perempuan shalihah, yg menjaga diri untuk Allah juga berpahala dan insyaAllah bernilai surga.
Ada begitu banyak pintu surga, ada begitu banyak jalan menuju surga, ada banyak kebaikan yg bisa kita lakukan, pilihlah yg kita mampu, maksimalkan. Sebab lama menghuni surga itu kekal, abadi. Maka perjuangan dan pengorbanannya tak main-main.
Ketujuh, menikahlah saat sudah siap.
Siap menghadapi tantangan pernikahan, siap menjalani ibadah seumur hidup.
Bukan saat sudah risih ditanya kapan nikah kapan nikah.
Bukan saat semua teman kita sudah menikah.
Bukan untuk lari agar bisa melupakan doi.
Bukan juga untuk lari dari masalah, macem pusing ngerjain skripsi.
Saat sudah siap, saat Allah bilang, this is your time hambaKu, saat Allah meyakinkan kita bahwa she/he is the one.
Kedelapan, untuk teman-teman yg sudah siap tapi belum hadir juga jodohnya.
Sabar. Perbanyak sabar. Dan lakukan saja apa yg seharusnya dilakukan, sambil menunggu. Jangan fokus pada penantiannya, biar ga kerasa lama.
Barangkali Allah punya maksud agar kita melakukan atau menuntaskan sesuatu dulu sebelum kita menuju fase pernikahan itu.
Kesembilan, back to Qur'an.
Al-Qur'an itu pedoman hidup, petunjuk hidup. Semua ada di Al-Qur'an. Jangan terkecoh dg orang-orang yg belum siap, yg masih galauan, apalagi kata orang-orang sotoy. Cari referensi yg bener. Silaturahmi atau nanya-nanya ke teman kita yg sudah duluan, atau ke senior yg punya ilmu dan pengalaman, atau ke guru-guru kita, ke ustad ustadzah, yg keilmuannya jelas.
Terakhir, dalam hidup ini kita harus selalu ingat Allah, dan melibatkan Allah SWT.
Sebab tujuan kita adalah Allah, visi kita adalah surga.
Semoga Allah istiqomahkan kita dalam ketaatan, dan mendapatkan akhir yg baik, husnul khatimah...