This doodle is very old! Like way back at around 2011 -2013 when I was finishing college and starting university.... maybe older.
My very first attemp to do the Aibou from season 0. I used to watch Yugioh when I was really young! And has been there even if I dont always watched it during tht time, I would love to have the cards and merch but
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality
Anya is LIVE right now
FREE
Free to watch • No registration required • HD streaming
*sweats nervously* I mean ‘top ships’ in YOI is such a tricky thing…
Like, of course, at the very top would be Victuri and Otayuri but like.. I’ve got this equal love for others I mention around in a AU!me would have these as OTP way.
Chulacometti can’t bother. But there’s JJBek that may disrupt a bit the above, then there’s YuurixYuri that TOTALLY RUINS EVERYTHING (and before anyone freaks out I ship them from an amazing fic where Yuri is aged up and Yuuri and Victor aged down simultaneously and by the end of it no one is hurt; it’s so pure). Also kinda want Lilia and Yakov back together (like really bad). I think there’s a very great backstory to that marriage idk.
And yeah these are all 'ships I love’, didn’t scratch the surface of 'ships I still like’. YOI is just too resourceful.
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality
Anya is LIVE right now
FREE
Free to watch • No registration required • HD streaming
Hasilnya mayan lama juga kelarnya. Berhubung gw sempet kepingin bikin karakternya jadi semacam vampir (.....) tapi gak jadi, kepingin juga bikin dia jadi semacam tokoh otome game atau salah satu cowok di otome game, tp gak jadi juga *shot* Sempet kepikiran buat bikin jadi semacam android (??) berhubung manggilnya kan Yuu 2 *hoi* Jadi kyk versi keduanya dr yg asli *plak* yah, tapi berakhirnya begini o<-<
“Kau ingin tahu namamu? Sebenarnya aku tak pernah memberikanmu nama.”
“Masalahnya, memangnya kau manusia?”
“…setelah perang ini berakhir, kau bebas. Kau bisa pergi sesukamu, kemanapun.”
“Pergi kau… PERGI!!”
“Maaf? Makhluk sejenismu bisa juga meminta maaf? Apa ini, kau mengejekku?”
…
“Yuu?”
“Kau tak pernah berpikir? Kalau bersama manusia itu, rasanya hangat..”
“…takut? Apa yang membuatmu takut?”
“Tidak apa-apa, semuanya akan baik-baik saja. Aku janji, aku akan segera kembali.”
…
“…uu? Yuu? Yuu!”
Suara familiar yang khas itu membuatku tersadar dari tidur panjang. Samar-sama, indera pendengarku menangkap suara roda kayu yang bergerak, goncangan-goncangan ringan yang terasa tidak asing. Kudapati diriku berada di dalam sebuah karavan berisi tumpukan jerami dan ada seorang gadis yang melihat ke arahku dengan tatapan khawatir. Segala memori mulai berhamburan, memberitahuku bahwa kami berdua sedang menuju ke ibukota dengan menumpangi salah satu kereta milik pedagang.
“Mimpi buruk?”
“…sedikit. Aku tertidur tadi? Maaf.”
“Kita sebentar lagi akan sampai di ibukota. Katanya, sudah kelihatan pintu gerbangnya.”
Gadis berambut pendek gelap itu setelah berbicara sebentar dengan laki-laki di depan dia duduk di sampingku. Tangannya merogoh sesuatu di dalam tas kain yang dibawanya, mengeluarkan sepotong daging kering dan diberikannya padaku.
“Kau lapar? Ini, makan dulu.”
“Terima kasih. Ngomong-ngomong, kita akan pergi ke ibukota untuk apa?”
“Sebenarnya sih untuk mencari tahu tentang dirimu. Tapi kudengar ada perayaan disana. Festival untuk mengingat perang telah berakhir.”
“Perang ya…?”
Daging kering yang kukunyah mendadak terasa hambar. Sambil berusaha tidak menunjukkan ketidaktertarikan dan mengusir semua ingatan tentang waktu-waktu lampau, aku bergerak ke depan, menyibak kain tua dengan niatan berbicara dengan pria tua berjanggut putih yang duduk di depan. Tapi yang segera tertangkap oleh sepasang mataku yang berbeda warna adalah tembok-tembok batu gelap tinggi kokoh dan pintu gerbang besar.
“Kita sudah sampai, nak. Aku hanya bisa mengantar kalian sampai di sini saja. Kalau kita berjodoh, mungkin takdir akan mempertemukan kita lagi. Hati-hati. Semoga Cahaya menyertaimu.”
Sambil mengangguk berterima kasih dan menyerahkan beberapa keping koin logam perak kami turun dari karavan tersebut. Gadis yang berada disampingku menaikkan tudung kepala, begitu pula aku. Langit sudah mulai berubah warna, matahari sudah menunjukkan waktu sore. Dan kami hanya berjalan mengikuti rombongan manusia-manusia lain yang juga bergerak menuju pintu gerbang. Ibukota itu ramai, dan rasanya tidak ada yang berubah sama sekali.
“Hei, kau, masih ingat dengan musik yang kau mainkan dulu bersama adikmu?”
“Yang mana?”
“…saat kita pertama kali bertemu di hutan?”
“Ah, yang itu. Kenapa?”
“Mau kah kau memainkannya lagi nanti? Lagu itu, rasanya familiar, tapi aku tak bisa mengingat dimana aku pernah mendengarnya.”
“Boleh saja, tapi kau harus membayarnya dengan tiga keping uang emas.”
“…kau tahu kan, aku tak pernah benar-benar mempunyai uang.”
“Bercanda kok.”
Gadis itu tertawa kecil lalu mengenggam tanganku, sambil bersenandung ringan kami memasuki jalan besar yang menampakkan berbagai penjual-penjual dengan berbagai barang yang dijual mereka. Hiasan-hiasan bunga warna-warni untuk perayaan. Aku diam-diam mendengarkannya nada-nada ringan darinya. Nyanyian yang terasa tua, seperti diriku. Lagu yang terasa terlalu tidak mungkin untuk dilupakan. Siapa yang menyanyikannya dulu?