Hari Tidur, Tapi Begadang
"Ya ampun, ngantuk banget..."
"Kurang tidur nih aku, tapi gapapa, masih strong."
"Begadang is life, gess."
Pernah nggak sih denger (atau malah jadi) orang yang ngomong kayak gini? Kayaknya tidur tuh dianggap kayak optional feature—kalau sempet, ya tidur, kalau enggak, yaudah. Padahal, kalau baca buku Why We Sleep, Matthew Walker udah wanti-wanti banget: Kurang tidur itu efeknya bisa separah orang mabuk. 😵💫
Dulu aku pikir, tidur 4-5 jam itu keren. Berasa sibuk, berasa produktif. Sampai akhirnya badan mulai protes. Bangun rasanya kayak zombie, otak nge-lag, mood amburadul. Dan makin dipikir, makin sadar: kita sendiri yang ngerampas hak tidur kita. 😩
Terus, hari ini aku baru tau kalau 14 Maret ternyata Hari Tidur Sedunia. Lucu aja, ada satu hari yang didedikasikan buat sesuatu yang harusnya kita lakuin tiap hari. Wqwq. Ironis banget, ya? Makin ke sini, tidur justru jadi kemewahan. Gimana enggak—banyak yang bangga bisa hustle dengan jam tidur seadanya, padahal efeknya ke tubuh tuh brutal banget. Kurang tidur bikin otak lemot, mood swing nggak jelas, gampang sakit, bahkan ningkatin risiko penyakit jangka panjang. 🫠
Walker juga bilang,
"Tidur bukan buang-buang waktu. Justru itu investasi buat otak dan tubuh kita."
Jadi kalau ada yang masih mikir "tidur bisa nanti aja", hmm… coba deh pikir ulang.
Rasulullah ﷺ pun udah ngingetin,
"Sesungguhnya tubuhmu memiliki hak atas dirimu." (HR. Bukhari).
Dan salah satu haknya? Tidur yang cukup. 😴
Jadi, di Hari Tidur Sedunia ini, boleh lah sekali-kali kita kasih tubuh kita treat yang dia butuhin. Kasur, bantal, dan selimut menunggu dengan setia. Yang penting, begadang tuh ada artinya. Kalau cuma buat scroll medsos sampai nggak sadar subuh? Maybe it’s time to touch some grass… or at least, your pillow. 🌿🛏️
—Ditulis oleh Yulan, yang lagi-lagi begadang demi nulis tentang pentingnya tidur. Sungguh hidup dalam kontradiksi. Wqwq~
Ironis? Yes. Regret? Also yes. Will I do it again? …probably. 😭
:: 14 Ramadan 1446H





















