Puasa dari Riuh
Pagi di sekolah selalu datang bersama suara. Suara siswa yang bercampur antara semangat dan kantuk. Suara guru yang berdiskusi di ruang kerja. Suara langkah yang tergesa menuju kelas.
Namun di atas itu semua, ada suara yang tidak terdengar: suara target, suara ekspektasi, suara perubahan yang sebentar lagi datang.
Sebagai WaKa Bidang Kesiswaan, hari-hari memang jarang tenang. Ada dinamika siswa yang perlu ditangani. Ada keputusan yang kadang tidak menyenangkan semua pihak. Ada wajah-wajah yang harus diyakinkan bahwa semuanya baik-baik saja.
Dan di sela-sela itu, terselip satu kalimat yang sering terbersit olehku belakangan ini: “Nanti akan diterima nggak, ya?”
Beberapa bulan lagi peran itu berubah. Bukan hanya soal jabatan. Tapi soal kepercayaan. Soal kepemimpinan. Soal berdiri di depan orang-orang yang hari ini masih berjalan berdampingan. Riuhnya bukan cuma pekerjaan. Riuhnya adalah pikiran yang berputar terlalu jauh.
Bagaimana kalau tidak cukup bijak? Bagaimana kalau dianggap belum pantas? Bagaimana kalau langkahku keliru?
Ramadan datang di tengah semua itu. Tubuh belajar menahan lapar. Tapi adapula yang lebih perlu ditahan: keinginan untuk mengontrol semua kemungkinan. Keinginan untuk memastikan semua orang menerima. Keinginan untuk menghapus semua risiko gagal. Padahal kepemimpinan tidak pernah lahir dari kepala yang bising.
Ramadan kali ini aku belajar menata segala riuh yang singgah. Bahwa tidak setiap komentar harus dibawa pulang. Tidak setiap kekhawatiran harus ditumbuhkan. Tidak setiap ketakutan harus dipercaya. Sekolah tetap ramai. Pekerjaan tetap banyak. Tanggung jawab tetap berjalan. Tapi hati pelan-pelan belajar tenang.
Maka barangkali benar kata para murabbi,
“Amanah tidak pernah benar-benar jatuh ke tangan yang salah. Ia datang bersama proses untuk menumbuhkan kapasitas.”
Dan mungkin, sebelum diterima orang lain, yang lebih dulu perlu berdamai adalah diri sendiri. Bismillaah 🤍
•••
:: 9 Ramadan 1447H












