Becermin dari Deng dan Gorby #3: Ideologi dan Politik
Untuk pengantar dan indeks serial silakan dibaca disini.
Jika anda tidak familiar dengan komunisme dan sosialisme, silakan baca serial Jalan Kiri dahulu.
Perpecahan ideologi dan saling tuduh revisionis komunis
Selama tahun 1956 hingga 1966, terjadi perdebatan sengit di kalangan filsuf ekonomi dan ilmuwan politik Uni Soviet dan Republik Rakyat Tiongkok. Masa tersebut kini disebut sebagai Perpecahan China-Soviet. Secara ideologis, ada satu hal krusial yang harus kita perhatikan: Stalinsime. Sentralisasi kepemimpinan Stalin dengan doktrin 'Sosialisme dalam satu negeri' dan program perencanaan ekonomi terpusat dianggap sebagai sebuah pengkhianatan terhadap petunjuk Lenin, yakni New Economic Policy (NEP). Menurut Lenin, NEP mengakomodasi adanya kapitalis-kapitalis kecil yang membantu transisi antara komunitas feudal zaman Kekaisaran Rusia menuju sosialisme yang disyaratkan oleh Marx. Kebijakan 'Sosialisme dengan karakteristik Tionghoa' yang kita kenal sekarang memiliki akar historis dari kebijakan ekonomi NEP tersebut. Selepas 70 tahun kekuasaan Stalin dan Pembasmian Akbar telah menyingkirkan banyak musuh-musuh Stalin yang sebenarnya terampil dalam bidang ekonomi, kebijakan de-Stalinisasi yang dicetuskan Khruschev sebenarnya tidak lagi memungkinkan reformasi kebijakan terjadi secara top-down. Tanpa ada kader Partai dan kaum intelekual yang memahami ekonomi ketatanegaraan, bahtera kemepimpinan Uni Soviet tinggal menunggu ajalnya, dan Gorbachev hanya kena apesnya saja. Kepemimpinan Uni Soviet menggunakan alat yang salah untuk menyelesaikan masalah. Kita tidak mungkin menggunakan gunting rumput untuk memotong kuku, tetapi hal inilah yang terjadi disana: Gorbachev mencoba mereformasi sistem birokrasi politik dan ekonomi secara tiba-tiba untuk menyelesaikan masalah kelangkaan bahan kebutuhan pokok. Dia berharap dengan adanya demokrasi seluas-luasnya, maka pasar bebas akan tercipta dalam sekejap. Padahal yang dia butuhkan adalah ahli ekonomi!
Di China, Stalinisme (termodifikasi jadi Maoisme) baru saja dijalankan selama 20 tahun, dan itupun tidak terlalu sukses karena basis industri Tiongkok yang masih sangat lemah. Tetapi, Revolusi Kebudayaan yang dilakukan Mao hanya memecat orang-orang seperti Deng dari jabatan, tidak membunuh karir politiknya. Sehingga, masih ada banyak kader dan pejabat yang familiar dengan kapitalisme dan doktrin-doktrin NEP. Pada awal-awal masa Gaige Kaifang, beberapa kapitalis yang memiliki afiliasi dengan Partai Komunis seperti Huo Yingdong dan Rong Yiren diangkat oleh Deng Xiaoping menjadi penasihat ekonomi. Mereka berhasil menjalin jaringan bisnis dengan Tionghoa diaspora dari berbagai pelosok Pecinan di Asia Tenggara dan Eropa. Ini adalah titik balik keberhasilan reformasi Deng Xiaoping. Sementara Barat berseteru dengan Uni Soviet, mereka memperbaiki hubungan dengan Komunis Tiongkok, dan hal ini dimanfaatkan oleh China untuk bangkit dari jurang keterpurukan. Kontribusi Deng untuk ilmu politik dan ekonomi adalah memberikan contoh nyata bahwa pemerintah harus bekerja keras memenuhi kebutuhan rakyatnya terlebih dahulu ketimbang mencoba menegakkan ideologi secara membabi buta. Secara praktis, Deng membebaskan China dari perdebatan "isme-isme" selama masa Mao dan menempatkan fokusnya di perkembangan ekonomi dan sosial. Deng Xiaoping fokus kepada rencana liberalisasi ekonomi secara bertahap, perlahan membawa pasar bebas dari eksperimen-eksperimen zona ekonomi khusus dan mendorong koperasi unit desa (KUD) dan badan usaha milik daerah (BUMD). Di sisi lain, Gorbachev terburu-buru dalam melaksanakan reformasi ekonominya, melupakan fakta sejarah bahwa Rusia bertransisi dari bentuk masyarakat agraris feudal langsung menuju sosialisme. Asumsi Gorbachev saat itu, pertumbuhan ekonomi muncul setelah adanya kebebasan politik. Ternyata, Gorbachev kalah di meja judi.
Apakah Jokowi telah melakukan hal yang sama dengan adanya keterbukaan terhadap penanaman modal asing? Apakah tenaga kerja kita sudah siap dengan reformasi ekonomi dan globalisasi, yang sempat tertunda akibat pandemi? Bagaimana dengan sentralisasi politik Jokowi yang ternyata terlihat lemah selama penanganan pandemi? Apakah Jokowi telah menggunakan alat yang salah (perekonomian) untuk masalah kesehatan? Jawabannya akan segera kita lihat di buku-buku sejarah sepuluh tahun lagi.
Syok politik, kaget demokrasi, dan tekanan dari Barat
Sebuah partai yang bagus adalah Partai yang terus melakukan revolusi sesuai perkembangan zaman. Partai Komunis China memahami sekali hal ini, mereka sadar jika Partai kehilangan kepercayaan dari masyarakat, maka partai kehilangan kekuasaan pula. Kekuatan Partai Komunis China terletak di citranya melegitimasi diri sebagai sebuah ‘dinasti’—seperti para pendahulunya—untuk waktu yang lama. Mereka tidak ingin tenor kekuasaan tersebut menjadi singkat hanya karena tidak mau melakukan kompromi soal ideologi yang terlalu kaku.
Tidak seperti Uni Soviet pada saat itu, Deng Xiaoping naik jabatan untuk mengepalai sebuah komite dan tidak diangkat sebagai seorang pemimpin mutlak. Siapapun yang memegang kekuasaan harus menyeimbangkan dan memperhatikan kepentingan politik dalam Partai Komunis untuk tetap tampak sebagai pucuk pimpinan. Begitu konsensus tercapai dan suara membulat, maka kerja Partai sebagai instrumen pemerintahan menjadi sangat efektif. Deng memiliki karisma dan pengaruh yang sangat besar, karena pengalaman politiknya yang sangat banyak. Ia berhasil mempersatukan Partai Komunis yang hampir kocar-kacir sepeninggal Mao Zedong dan kebijakan-kebijakan kejamnya. Deng tidak pernah mengubah haluan politik negara dan melakukan kampanye de-Maoisasi seperti Khruschev dan penerus-penerus Uni Soviet setelahnya, namun ia makin menjamin kredibilitas dan kepercayaan masyarakat terhadap Partai Komunis dengan konsekuen.
Sebaliknya, Gorbachev berusaha terlalu keras untuk mencontoh demokrasi di negara-negara Barat, mendorong keterbukaan dan mengancam kepentingan politik beberapa pihak. Gorbachev memang membawa angin segar di awal kepemimpinannya (sebelum musibah Chernobyl, tentu saja), tetapi ia gagal mengonsolidasi basis kekuasannya sebelum melakukan reformasi birokrasi politik dan keterbukaan ekonomi. Dalam kata-katanya sendiri saat pengumuman pengunduran diri sebagai Presiden Uni Soviet, ia mengatakan bahwa “sistem yang lama sudah membusuk sebelum sistem yang baru mulai bekerja.” Di akhir masa kekuasaannya, tidak ada pihak-pihak yang siap mendukungnya secara politik, motivasi negara-negara Soviet untuk membangun kembali persatuan dalam perserikatan sudah hilang, semangat reformasi yang ia dengungkan gagal memberikan keuntungan-keuntungan yang diharapkan, dan tragedi runtuhnya Uni Soviet terjadi.
Deng Xiaoping adalah seorang revolusioner yang ditempa sejak awal berdirinya negara. Ia tahu betul karakter bangsa dan masalah yang ia hadapi sebagai pemimpin, dan ia mampu memanfaatkan posisinya di Partai Komunis sebagai orang kepercayaan komite. Empat prinsip utama yang diumumkan Deng Xiaoping bersama kebijakan Gaige kaifang adalah menjaga sosialisme, demokrasi terpimpin, partai komunis, dan Maoisme. Deng yakin bahwa tanpa kekuasaan dan sentralisasi kepamimpinan yang berwibawa, maka negara akan goncang.
Gorbachev gagal paham dengan masalah yang dia temukan karena ia silau dengan perkembangan teknologi negara-negara rivalnya di Barat, sementara Uni Soviet yang dulunya kaya akan industri berat sangat efektif dan efisien sekarang telah menjadi kubangan birokrasi dan sarang koruptor. Ia tidak tahu kalau masalah tersebut juga dapat ditemukan di sistem demokrasi dan kapitalisme bahkan lebih parah (Sementara Deng Xiaoping, yang sempat liburan keliling dunia, tahu betul itu sebenarnya merupakan masalah legitimasi pemerintahan yang tidak kuat). Gorbachev memilih untuk lalai dan melupakan sejarah bahwa di awal berdirinya, Uni Soviet telah berhasil mengangkat statusnya dari salah satu kerajaan gagal dan negara termiskin di Eropa Timur menjadi sebuah raksasa bertenaga yang memenangkan Perang Dunia II. Singkatnya, Gorbachev terlalu cepat putus asa dan tidak berusaha menelisik teliti masalah yang dia hadapi. Di akhir karir politiknya, memang dia mendapatkan Hadiah Nobel Perdamaian, tetapi hal itu tidak lebih tidak kurang dibayar dengan rasa malu yang menghantui seumur hidupnya.
Keduanya berhasil melihat masalah yang ada di negara masing-masing, tetapi Deng memahaminya dalam kacamata historis dan pragmatis: China terlah berhasil menghadapi badai zaman karena mental bangsanya sudah mendarah daging. Selanjutnya China harus membuka diri agar tidak jatuh ke lubang yang sama dengan Dinasti Qing: melakukan perdagangan internasional, belajar dari negara lain, mendapatkan penanaman modal asing, memberikan sponsor beasiswa untuk putra-putri bangsa mengejar studi ke luar negeri, dan secara bersamaan China tetap mempertahankan integritas dan stabilitas domestik dengan cara apapun.
Bangsa Indonesia, seperti nasihat Sukarno, jangan sekali-kali melupakan meninggalkan sejarah. Belajarlah luwes tapi tegas seperti Deng Xiaoping, jangan lalai dan cepat putus asa seperti Mikhail Gorbachev. Kita sebaiknya mulai melihat kekuatan bangsa kita, fokus belajar dan bekerja dengan giat, dan berhenti mengulang-ulang narasi pesimistik kepada negara. Ketika kita berpikir seperti Gorbachev, “Oh, di negara Barat enak, disini susah, kita pindah saja” maka anda adalah pengecut dan layak ditertawakan oleh Rizal Ramli yang lain di masa depan. Setidaknya Dr. Sergei Khruschev, putra dari Nikita, tidak kabur dari negaranya dan berbakti terus hingga keruntuhan Uni Soviet sebelum dia pergi menikmati masa pensiunnya di Amerika Serikat untuk membagikan ‘sisi lain’ dari kisah hidup di balik Tirai Besi.