Tentang Esai Motivasi untuk Beasiswa
Minggu lalu saya memberanikan diri membuka sesi open consultation buat teman-teman follower saya di Instagram yang sedang mempertimbangkan atau dalam proses persiapan untuk lanjut kuliah, baik untuk S-2 maupun S-3.
Dari sana, saya terpikir untuk menuliskan gambaran umum terkait apa saja yang saya sampaikan selama sesi konsultasi. Untuk tulisan ini, saya akan membahas tentang mengapa dan bagaimana seseorang dipilih menjadi awardee atau penerima beasiswa.
Pertama, cari tahu objektif dan gol dari pemberian beasiswa oleh pemilik dana.
Contoh mudahnya adalah beasiswa LPDP. Investasi pemerintah lewat dana abadi yang dikelola oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) memiliki tujuan menyiapkan pemimpin masa depan lewat pembiayaan kuliah yang berfokus pada peningkatan kualitas SDM lintas bidang/sektor yang nantinya mendukung akselerasi pembangunan negara.
Mari kita lihat beberapa kata kunci yang mengindikasikan tipikal atau profil yang dicari oleh LPDP.
Orang sudah punya pengalaman atau kelihatan bibit kepemimpinannya akan mendapatkan nilai plus.
2. Mendukung akselerasi pembangunan negara
Orang yang punya visi dan niat baik untuk membantu pembangunan, khususnya di sektor keahlian atau yang diminatinya. Yang dicari adalah orang yang punya visi untuk berkontribusi untuk bangsa dan negara, bukan individu yang hanya berfokus untuk kesuksesan dan pencapaian pribadi. Orang-orang yang punya pengalaman berkegiatan sosial dan memberi dampak ke masyarakat akan mendapatkan nilai plus.
LPDP memprioritaskan bidang-bidang keahlian yang mencakup pada teknik dan rekayasa, sains, pertanian, hukum, ekonomi, kesehatan, keagamaan dan sosiokultural. Sebenarnya fokusnya tidak fokus-fokus amat. Ayo, bidang keahlian apa yang sama sekali tidak termasuk dalam kategori-kategori tersebut di atas xD
Dari kata lintas sektor (across the fields) setidaknya saya pikir ada dua hal yang bisa jadi pegangan, yaitu orang yang dicari adalah orang yang sudah tahu bidang apa yang ia ingin tekuni; dan bidang keahlian punya kuota masing-masing--sehingga kompetisimu hanya dengan orang-orang sebidangmu.
Setelah mempertimbangkan tiga kata kunci di atas, setidaknya pendaftar bisa menyesuaikan nada (tone) esainya, terutama dalam memilih jurusan/kampus yang sesuai minat, menyortir pengalaman dan pengamatan yang relevan, dan menyusun alur cerita. Lebih banyak pengalaman kerja dan berorganisasi tentunya "material" cerita akan lebih banyak dan kamu akan lebih leluasa dalam membuat alur yang sesuai.
Kedua, tulislah esai motivasi yang straight-forward and well-packaged.
Esai yang ngalor-ngidul akan membingungkan tim penilai. Esai yang melompat-lompat atau terlalu banyak cabangnya juga berpotensi mengaburkan pesan utama yang ingin disampaikan. Jika kamu punya 5-7 why's untuk dituliskan, coba pilih 3 saja yang bisa dibungkus dan terjalin ke dalam satu visi besar.
Biasanya saya akan menyarankan gambaran alur esai motivasi sebagai berikut:
A) Mulai dari memunculkan masalah riil ke permukaan berdasarkan pengamatan dan pengalaman
"Masalah" ini bisa berupa ketidakidealan kondisi (struktural, operasional, manajerial, dll.) saat ini, kesiapan/persiapan dalam melihat tren global, atau pengalaman pribadi yang bisa ditarik menjadi satu hal urgen untuk diselesaikan. Semakin "riil" dan relateable dalam menggambarkan masalah ini, maka semakin terlihat urgensinya. Semakin personal, biasanya, pembaca juga akan semakin mudah untuk tersentuh.
B) Lanjutkan dengan memberi solusi yang memungkinkan (feasible solutions)
Solusi ini bisa berupa satu solusi yang langsung mengena atau satu dari beberapa faktor yang berkaitan untuk mewujudkan suatu perubahan sistemik.
C) Beri tahu bagaimana visi pribadi sejalan dengan "solusi" di atas
Di sini, pendaftar diharapkan memiliki visi yang besar dan impactful, seperti dengan menjadi menteri, menjadi ahli, dan membuat perusahaan atau inisiatif sosial terkait.
D) Tuliskan alur dan langkah-langkah mewujudkan visi itu
Penjabaran hendaknya meyakinkan dengan didukung step by step yang dapat dinalar. Misalnya,
"Melanjutkan kuliah S-2 di School of Photovoltaic and Renewable Energy Engineering, UNSW akan menyiapkan saya secara teoritis untuk nantinya mengembangkan keahlian di bidang sel surya non-silikon yang terjangkau dan relatif minimum initial capital expenditure dalam pendirian industrinya di dalam negeri. Selanjutnya, saya ingin mendalami halide perovskite (salah satu material fotovoltaik generasi baru yang menjanjikan) dengan mengambil studi doktoral di Oxford University yang juga merupakan satu dari beberapa grup riset pionir untuk material ini."
Untuk menuliskan storyline yang baik diperlukan riset informasi terkait dan visualisasi mimpi yang relatif konkret dan (sedikit) ambisius. Riset di sini akan memberikan konteks dalam mimpi-mimpi dan milestone yang ingin dicapai.
Ketiga, there is no harm in self-editing.
Setelah menyelesaikan draf esai, ambillah jeda 2-3 hari. Setelah itu baca lagi draf esai dengan pikiran jernih dan istirahat yang cukup. Biasanya, nanti akan terlihat bagian yang masih bolong, melompat, atau belum koheren. Jika diperlukan argumen atau detail tambahan, tidak ada salahnya untuk melakukan riset lebih lanjut.
Details will make your essay more convincing, coherence will make it readable.
Setelah melalui 1-2 ronde self-editing dan jika masih ada waktu, barulah meminta pendapat dari kolega, teman, atau senior yang dipercaya akan memberikan dampak yang lebih signifikan. Kalau yang mau diminta input masih bingung saat baca esainya karena ngalor ngidul atau melompat, feedback-nya bakalan untuk restructure. Sedangkan jika sudah rapi, feedback-nya akan lebih kepada fine-tuning alias poles dalam pilihan kata supaya lebih nendang dan meyakinkan.
Itu dulu. Semoga bermanfaat!