Catatan Ngaji Gus Baha
Manusia itu walaupun berbuat sebaik apapun pasti akan tetap menyisakan keburukan.
"lho kok bisa Gus?"
Memang demikian cara kerja di dunia ini.
Misal gini, 'ada seseorang yang ingin menjadi dokter dan ia ingin menjadi spesialis yang akan mengobati orang - orang kurang mampu dengan menggratiskan biaya pengobatan.'
Nah itu kan repot jadinya. Kenapa? Karena Gusti Allah harus membuat orang-orang menjadi sakit, plus membuat miskin banyak orang. Bukankah demikian?
Ada juga kisah orang yang berdoa, "Ya Allah, semoga Engkau mengabulkan doa hamba, berikanlah hamba kekayaan, dan hamba akan membuat panti asuhan untuk merawat 1000 orang anak yatim piatu"
Mau sok berkuasa, mau sok berperan aktif dalam mengentaskan kemiskinan, ya berarti Allah harus membuat orang menjadi miskin dahulu.
Meskipun kata repot itu tidak ada dalam kamus Allah, tapi sekiranya cara berfikirnya demikian. Pun juga ini terlepas dari konteks Qodho dan Qodar Allah terhadap makhlukNya.
Saya merenung, dan mulai mengoreksi diri.
Benar juga, bahwa kita di dunia ini memang harusnya bersikap tawadhu', tidak sombong, dan biasa saja.
Karena memang kita di dunia ini hanya untuk bersaksi atas kebesaran Allah, dan luasnya rahmat Allah terhadap seluruh komponen makhluk di dunia.
Adanya kita diberi kemampuan dan kelapangan lebih terhadap suatu rejeki, ya dipergunakan semampunya, "mastathotum" untuk hal kebaikan.
*desclaimer: catatan ini sudah ditulis ulang dengan kalimat saya sendiri.













