Review Novel Such a Fun Age karya Killey Reid
Penerbit: G.P Putnam’S Sons (imprint dari Penguin Random House LL)
Such a Fun Age merupakan novel debut karya penulis dari Philadelphia, USA, Killey Reid. Novel ini mendapat banyak pujian dari berbagai majalah dan koran, seperti The Atlantic, Mineapolis Star Tribune, The Guradian, Time, The Times (UK), dll. serta berhasil masuk ke daftar panjang The 2020 Booker Prize, yakni penghargaan bergengsi untuk novel berbahasa Inggris yang terbit di UK dan Irlandia. Such a Fun Age terdiri dari 4 bab utama dengan total 28 subab cerita.
Such a Fun Age mengangkat topik mengenai tindakan rasisme dan fenomena kesenjangan kelas yang masih lekat di kalangan masayarakat Amerika. Dalam buku diceritakan bahwa, Emira Tucker, seorang perempuan muda berkulit hitam yang bekerja paruh waktu sebagai baby-sitter di sebuah keluarga kulit putih, mengalami tindakan rasisme ketika bekerja. Pada suatu malam, ketika Emira merayakan ulang tahun salah satu sahabatnya, ia mendapatkan telepon dari Mrs.Chamberlain atau Alix, ibu dari keluarga tempat Emira bekerja. Emira diminta untuk menjauhkan Briar, putri sulung keluarga Chamberlain, sejenak dari insiden kecil yang terjadi di rumah keluarga Chamberlain malam itu, panggilan tersebut memang terjadi di luar jam kerja Emira, namun Emira akan mendapatkan extra –tip jika mengambil tawaran tersebut, karena sedang membutuhkan uang dan memang menyukai gadis kecil keluarga Chamberlain yang tidak rewel, akhirnya Emira menyetujui panggilan tersebut dan Mrs.Chamberlain telah mengatakan tidak keberatan walaupun Emira sedang mengenakan gaun pesta.
Emira dan salah satu sahabatnya yang ikut serta, Zara, akhirnya menjemput Briar menggunakan taksi, kemudian mereka diminta mengajak Briar jalan-jalan ke Market Depot, sebuah supermarket yang banyak dikunjungi masyarakat kelas atas yang tidak jauh dari rumah keluarga Chamberlain. Setelah Zara pergi, tak lama kemudian Emira dituduh menculik Briar oleh petugas keamanan Market Depot akibat seorang pengunjung yang mengadu karena merasa khawatir karena melihat seorang anak kecil berkulit putih bersama dengan seorang perempuan berkulit gelap menjelang tengah malam. Emira menjelaskan bahwa ia seorang baby-sitter yang bekerja karena emergency calling, namun security tersebut tidak percaya sebab Emira tengah tidak mengenakan pakaian baby-sitter dan sedikit berbau alkohol. Insiden tersebut menarik kerumunan, bahkan ada pengunjung yang merekam kejadian tersebut, akibatnya Emira merasa marah, tersudut dan dipermalukan hingga akhirnya Mr.Chamberlain datang untuk mengklarifikasi.
Namun, masalah tidak berhenti sampai di situ, situasi makin menjadi rumit ketika ternyata Emira menjadi dekat dengan Kelley, seseorang yang merekam insiden rasisme yang dialami Emira yang ternyata juga merupakan seseorang dari masa lalu Mrs.Chamberlain. Mrs.Chamberlain dan Kelley berusaha melindungi Emira dengan cara yang menurut sudut pandang masing-masing benar, Emira ibarat seperti ditarik dari kedua sisi yang berlawanan, hal itu membuat Emira yang saat itu tak berdaya secara ekonomi dan tengah berada di masa quarter life crisis merasa terombang-ambing, clueless dan cukup bingung dengan situasi yang dialaminya, namun seiring dengan berjalannya waktu dan dengan berkat dukungan sahabat-sahabatnya, Emira akhirnya berani membuat keputusan yang menurutnya baik untuk hidupnya sendiri.
Poin-poin tentang Such a Fun Age:
(+) Buku ini membuka mataku lebih lebar mengenai isu rasisme, yang nyatanya masih sering terjadi di sekeliling, mungkin bahkan kita sendiri tidak menyadari bahwa hal tersebut merupakan tindakan rasisme, sehingga kita harus benar-benar berhati-hati dalam bertutur ataupun bertindak.
(+) Such a Fun Age ditulis dengan bahasa Inggris yang cukup ringan sehingga mudah dipahami dan cocok dibaca ketika istirahat di waktu-waktu luang
(+) Tersedia pertanyaan-pertanyaan untuk sesi diskusi pembaca di akhir buku yang dapat memantik pola pikir kritis pembaca mengenai isu yang diangkat dalam novel
(-) Karena novel mengambil latar kehidupan sehari-hari, pada saat awal pemaparan konfilk saya merasa sedikit bosan, namun menjelang akhir, novel terasa lebih menarik hingga saya ketagihan untuk terus membalik halaman hingga selesai