2020: Knowing Your Self
Belum pernah sebelumnya aku merasakan kekecewaan dan kebingungan yang sangat, seperti yang aku alami di tahun 2020 ini. List beberapa impian, target, cita-cita yang aku rancang baik-baik, rupanya tidak benar-benar bisa berjalan dengan baik.Â
Belakangan aku baru betul-betul merasakan makna dan rasa dari putus asa itu bagaimana. Rasa kecewaku dengan keadaan sedikit mulai menumbuhkan perasaan; âKenapa sih harus begini.â, âTuh kan, jadi gabisa melakukan ini dan itu,â, and anything feels. Adaptasi dengan pola kehidupan baru rupanya sulit sekali aku lakukan. Dari yang mulanya kita bisa bebas pergi kesana-kemari, bertemu orang-orang di berbagai event, mengikuti lomba, bepergian dengan kereta atau bus, mengunjungi acara di luar kota, semenjak pandemi berbagai macam batasan dan aturan ketat harus kita hadapi. Faktanya, aku sangat lemah dan tidak sekuat teman-teman lain untuk bisa beradaptasi dengan kehidupan yang baru. Cara hidup yang baru. Melakukan semua hal dengan cara online, bertemu teman-teman secara virtual, belajar virtual, dan sebagainya. Semakin menunjukkan kalau kita sejatinya adalah makhluk individu yang kesepian, guys! Adaptasi dengan cara hidup seperti ini rupanya buat aku adalah hal yang lebih sulit daripada adaptasi saat tinggal di kota atau lingkungan baru.Â
Di dunia ini semua diciptakan berpasangan. Ada siang ada malam. Ada hitam ada putih. Ada atas ada bawah. Begitu pula, ada kesedihan ada pula kebahagiaan. Hidup berpola seperti roda. Sekali-kali di bawah, lain kali di atas. Tahun 2020, meskipun nampaknya (hanya) berisi kesedihan, Alhamdulillah Allah masih mengizinkan aku merasakan apa yang disebut sebagai perasaan bahagia. Kebahagiaan se-sederhana berjumpa dengan kawan yang sekian lama terpisah jarak. Kebahagiaan sekecil tetap bisa berkenalan dengan kawan baru meskipun belum berjumpa secara langsung. Kebahagiaan se-sederhana menghabiskan masa-masa akhir di asrama bersama teman-teman. Meskipun pada akhirnya aku harus menyaksikan mereka pulang satu persatu. Bagaimanapun toh, sekecil apapun alasan bahagia harus tetap disyukuri.Â
Alhamdulillah Allah juga memberiku kesempatan belajar lebih untuk betul-betul bisa mengenal diriku. Ternyata aku belum benar-benar bisa beradaptasi dengan cepat. Biasanya aku akan langsung merasa nyaman ketika tinggal di lingkungan baru, atau wilayah baru, atau kota baru. Kuanggap seisi bumi Allah ini sama. Selama masih berada di bumi Allah, aku tetap harus menjadi diriku sembari berusaha menyesuaikan dengan sekitar. Tapi rupanya menyesuaikan diri dengan pola kehidupan pandemi sungguh lebih menyusahkan. Ketika hanya berdiam diri sekian lama di rumah atau di asrama, melaksanakan segala hal secara online, berkomunikasi sebatas melalui alat yang familiar disebut gadget, kuliah online, diskusi online, minim sekali bertemu dengan sesama homo sapiens. Jauh lebih menjemukan dan sungguh, adalah hal yang cukup sulit untuk beradaptasi dengan kondisi seperti itu.Â
Kejenuhan itu dibarengi dengan beberapa hal yang batal dilakukan karena disebabkan pola kehidupan yang baru. Alhasil, banyak to do list yang tercoret. Bukan karena berhasil dilaksanakan tapi justru karena tidak bisa dicapai goals-nya. Sayangnya, diriku kalah oleh diriku sendiri di part  ini. Namun disini aku justru bisa belajar (kembali mengenal diri) untuk menguatkan diri dan mencoba pergi dari rasa putus asa yang menyerang. Iya, berputus asa pada akhirnya hanya akan membuang-buang waktu. Menghabiskan waktu, tenaga, pikiran, dan perbuatan yang sebetulnya bisa kita manfaatkan untuk beralih kegiatan lainnya. Mencari ide dan alternatif kegiatan yang cukup mengasah kreativitasku. Setidaknya, disini aku bisa berkenalan dengan sikap putus-asa.
Sebetulnya setiap saat setiap waktu adalah hal yang sama. Tidak betul-betul terasa berbeda, bukan? Manusia--diri kita masing-masing--yang membuatnya merasa berbeda. Namun, apakah dengan kondisi kesamaan tersebut lantas kita âmembiarkanâ hidup terasa sama saja? Apakah dengan kesedihan di tahun 2020 lantas kita diam saja dan menurut pada keadaan--bak air yang mengalir sesuai arusnya? Beruntunglah mereka yang selalu mengusahakan yang terbaik untuk hidupnya. Berusaha menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. No matter what. Bagaimanapun kondisi dan keadaannya, manusia harus selalu bergerak maju ke depan. Karena begitulah yang menunjukkan mereka tetap hidup. Apa yang kita alami di 2020, justru akan menjadi pelajaran berharga. Melatih diri untuk cepat beradaptasi dengan kondisi baru. Melatih diri untuk kreatif mencari alternatif baru untuk setiap kegagalan yang dihadapi. Walaupun banyak hal tidak tercapai, tapi bersyukurlah kita masih diberi kesempatan untuk menjadi lebih baik di tahun berikutnya.Â
Selamat berproses bersama. Semoga apa yang disemogakan, tersemogakan:)
ditulis saat langit Yogya sedang menangis bahagia menyambut tahun baru 31 Dec 2020, 21.50













