Scripturient Bodoh #13
Kembali anda akan menyimak hasil dari dorongan menulis mendadak seorang Hilmy Farhan. Apa yang ada di tulisan ini tidak akan pernah benar 100%, pun salah 100%. Anda mungkin setuju, pun tidak setuju. Penulis hanya berharap dari tulisan ini kita bisa bersama mendapat hikmah sebanyak mungkin.
Berbagi sedikit keresahan sebagai bagian dari umat islam, boleh ya?
Tulisan ini ditulis tidak lama sebelum memasuki Ramadan di tahun 2020. Ramadan yang berbeda. Ramadan yang banyak restriksinya. Jadi, jika anda adalah pembaca di masa depan yang mengalami Ramadan yang selumrahnya Ramadan di tahun-tahun sebelum 2020 masehi, semoga tulisan ini bisa menjadi pelajaran bagi anda.
Ramadan di 2020 ini mengalami banyak perubahan. Semua didasari oleh satu kata: pandemi. Penyakit yang mengharuskan manusia untuk memberi jarak justru untuk lebih manusiawi; menolong sesama.
Pandangan pilu ini dimulai dari Masjidil Haram
Sebelum memasuki bulan Ramadan ini, wahai pembaca di masa depan, Masjidil Haram tampak memilukan. Tidak tampak tawaf yang seramai biasanya. Semua saling memberi jarak. Pun, ini adalah perintah Rasulullah seperti di zaman beliau ketika pandemi terjadi. Meski demikian, pandangan pilu dari masjidil haram yang diimpikan oleh jutaan muslim seluruh dunia untuk didekati ini benar-benar melekat di memori.
Pun, dalam rangka memutus rangkai penyebaran penyakit, masjid-masjid semakin banyak diimbau untuk tidak mengadakan pengajian ataupun kumpul-kumpul yang serupa. Bayangkan, masjid yang hanya beberapa meter dari rumah, dihentikan aktivitasnya sementara. Masjid, itu tempat ketenangan yang kuat bagi kita semua, baik secara fisiknya yang berupa lantai yang sejuk, hingga yang mempengaruhi kita secara mental berupa syahdunya suara orang mengaji di dekat pilar yang mengena dari telinga hingga ke hati.
Lalu, bagaimana umat islam Indonesia beribadah dalam kondisi ini?
Edaran Resmi Kementerian Agama
Hingga keluarlah surat edaran no. 6 tahun 2020 dari Kementerian Agama yang menjelaskan ibadah Ramadan dalam kondisi pandemi ini. Mau tidak mau, segala yang meningkatkan risiko penularan, harus dihambat. Kumpul-kumpul sahur atau buka bersama? Dilarang. Peringatan nuzulul qur’an berkumpul di masjid untuk pengajian? Dilarang. Tarawih hari-hari di masjid, pun, dilarang. Semua perkumpulan harus dialihkan ke arah online, tentu dengan menyesuaikan syariat yang ada.
Lalu,Isyarat Apakah Ini?
Mungkin, Ramadan tahun ini dapat lebih menjanjikan banyak pahala, jika kita benar memaknainya. Jika dengan bertemu di masjid, kita baru mengingat Allah, bagaimana dengan kondisi semacam ini? Jika dengan tarawih berjamaah kita merasa dapat kontak dengan Allah, bagaimana dengan ibadah di rumah? Jika kita merasa buka bersama itu lebih terasa sebagai iftar yang sesungguhnya, bagaimana dengan iftar di rumah?
Kalau boleh mengungkapkan dengan metafora, nampaknya kita dilatih Allah untuk dapat dekat dengannya dalam kondisi apapun. Ingat denganNya, bukan lagi terbatas pada waktu dan tempat. Mengutip ayat yang diajarkan Gurunda Ust. Adi Hidayat,
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ - 51:56
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku,”
Ibadah itu hakikat diciptanya kita, manusia. Ketika hidup dan matinya tidak diniatkan untuk ibadah, sejatinya kita meleset dari tujuan kita dicipta. Kalau kata beliau rahimahullah, yaitu menjadikan seluruh aspek dalam hidupnya semata-mata untuk ibadah kepada Allah. Tidurnya, berdoa. Bangunnya, berdoa. Makannya berdoa. Hingga masuk ke kamar mandi, pun, berdoa. Pun, mengutip Emha Ainun Najib, khusyuknya sholat, pun, bukan dilihat ketika takbir hingga salam saja, tapi dari salam hingga takbir lagi.
Ya, pandemi ini berat. Kita memasuki waktu-waktu yang berat, bagi semua manusia, tanpa terkecuali. Keresahan ini tidak dapat dipungkiri. Tapi, bukan berarti resah itu tidak manusiawi. Resah ini bisa kita maknai adanya, sebagai pengingat bahwa kita memang harus belajar memaknai lebih dalam keadaan kehidupan ini.
Yuk, kita harus yakin, bahwa sebagaimana pun keadaannya, rahmat Allah tetap dilimpahkan banyak pada Ramadan, pun pintu ampunan terbuka lebar-lebar bagi kita para pendosa. Itu tidak akan berubah, dalam kondisi apapun pada dunia ini. Allah tetap Maha Pemurah, lagi Maha Bijaksana.
Jadi, untuk pembaca di masa depan, bersyukurlah anda dengan apapun kondisi yang Allah turunkan di saat itu. Mungkin saya ada di barisan anda, pembaca di masa depan. Mungkin, saya sudah terlebih dahulu wafat; kita tidak pernah tahu. Tapi apapun itu, saya harap tulisan ini menjadi pesan yang membawa amal jariyah, supaya saya, dan anda, pembaca di masa depan, yang berbeda waktu dan tempat ini dapat bertemu kelak di taman-taman surga.
Aamiin. Yuk ngeteh bareng nanti di taman surga. Tenang, tidak ada pandemi di sana. Tapi tolong ingat-ingat nama saya ya sebelum masuk di sana. Barangkali, kita masih belum bertemu di depan pintuNya ..
By the way, apa hikmah dari pandemi ini yang dapat anda bagi di sini? Silakan komen!

















