Teruntuk engkau, lelaki berwajah teduh. Padamu aku mencoba menautkan hati yang bertahun-tahun mati. Meski pada kenyataannya, aku takpernah benar-benar mendekati.
Dan Puan, apa yang kamu tautkan hilang di udara terembus oleh angin-angin yang membawa pergi ingin. Seharusnya kamu jangan berhenti. Tetapi, berjalan menyusuri pagi.
Kakiku terlalu kaku untuk berjalan, Tuan. Pun lidahku yang selalu kelu acapkali kita bertemu. Aku tak seberani itu.
Lalu, kamu memilih kalah dan menyerah? Terkadang, manusia butuh lebih dari sekadar tekad untuk mencapai sesuatu; bagimu, ketidakberanian itu yang mencegah maju.
Entahlah, nyaliku menciut saat aku mencoba menyapamu. Tetapi, setidaknya aku sudah berbahagia, meski hanya memandangimu diam-diam, dan membiarkan perasaanku tumbuh kian dalam.
Kata-kata itu tercekat di tenggorokanmu, lalu membeku. Detik bergerak kian maju tanpa aku tahu. Bahwa bisa saja, aku denganmu.
Pada akhirnya, akulah yang bodoh, Tuan, Aku memilih mundur seiring detak berlalu. Ketakutanku membunuhku, pelan, tetapi pasti.
Pilihan memang selalu menyesakkan dada. Inginmu itu mengendap di dalamnya hanya untuk menua, luruh menjadi debu. Dan aku, ialah satu kepergian yang harus kamu relakan.
Sesungguhnya, Tuan. Merelakanmu adalah hal tersulit yang pernah kulakukan. Tetapi, mengikhlaskanmu adalah satu hal yang perlu aku lakukan. Berbahagialah, meski pada akhirnya aku yang terluka.
Kamu yakin, tiada ragu menyusup diam-diam di dadamu itu? Jangan katakan kamu ikhlas, saat basah di sudut matamu masih membekas.
Entahlah, Tuan. Nyatanya, aku sudah kalah. Ketakutan membuatku menciut, meranggas keberanian satu-satu untuk mendekatimu.
Baiklah, bila itu langkah yang kaupilih untuk dijejak, Puan. Pada akhirnya, kamu memilih untuk merutuki dirimu sendiri, melepas kepergian yang ternyata itu aku. Aku takpernah mengatakan “tidak”, tapi kamulah yang memilih untuk memaknainya seperti itu.
Doaku untukmu, semoga kau berbahagia dengan atau tanpaku, Tuan. Toh, jika Tuhan merestui ia akan menyatukan dengan cara yang terbaik menurutNya, bukan?
 Grogol – Kebon Jeruk,
22 Agustus 2017 | #KolaborasiAgustus edisi 10
 Sebuah dialog sederhana antara @ariqyraihan dan @rantingkering