it actually fits!
seen from Italy

seen from Ukraine

seen from United States
seen from Venezuela
seen from United States
seen from Türkiye
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from Saudi Arabia
seen from Poland
seen from United Kingdom
seen from Yemen
seen from Argentina
seen from Brazil
seen from United States

seen from United States

seen from Netherlands

seen from United States
it actually fits!

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
This is what happens when you live with 5 dogs that think they are vocalists. #Pupera #houseofdogs
¡AHORA COMPRAR ONLINE
ES MUCHO MAS FACIL!
Ingresa a www.goo.gl/DpfztY
y enterate como!
#MedusaIndumentaria
FOLLOW US ON:
www.instagram.com/medusaindumentaria
www.facebook.com/medusaindumentaria
www.twitter.com/medusaindum
www.pinterest.com/medusaindum
www.facebook.com/medusaindumentaria
Donde?
Estamos en Calle 12 #1143 (e/55 y 56)
#LaPlata, #BuenosAires, #Argentina
Sos del interior?
Enviamos a todo el pais por medio de nuestra #TiendaOnline,
ingresa en www.goo.gl/DpfztY
¡AHORA COMPRAR ONLINE
ES MUCHO MAS FACIL!
Ingresa a www.goo.gl/DpfztY
y enterate como!
#MedusaIndumentaria
FOLLOW US ON:
www.instagram.com/medusaindumentaria
www.facebook.com/medusaindumentaria
www.twitter.com/medusaindum
www.pinterest.com/medusaindum
www.facebook.com/medusaindumentaria
Donde?
Estamos en Calle 12 #1143 (e/55 y 56)
#LaPlata, #BuenosAires, #Argentina
Sos del interior?
Enviamos a todo el pais por medio de nuestra #TiendaOnline,
ingresa en www.goo.gl/DpfztY
Bismillahirahmanirahim day 7/7 . . "......Indeed, Allah will not change the condition of a people until they change what is in themselves." Q.S. Ar-Ra'd:11 . . Galileo said that," You can not teach a man anything, you can only help him find it within himself.. . . Help people in Mulyoharjo Pemalang to find their environmental health problem . #kknundip2017 #kknchallenge #onedayoneayat #quranchallenge2017 #mulyoharjo #Pemalang #PUPERA #sampah

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Cerita Anak Magang - Doorstop Pak Basuki
-cerita ringan dari lapangan-
Saya beberapa kali bertukar pendapat tentang jobtraining dengan seorang teman. Mata kuliah berporsi 2x2 SKS ini memang cukup membuat resah. Dia sering bilang tidak siap menjalani keinginannya jobtraining di Harian Kompas sebagai wartawan foto. Merasa belum cukup ilmu, katanya.
Saya selalu bilang, benturkan saja ketidaksiapan itu. Biarkan ketidaksiapan dan rasa belum cukup ilmu itu bertabrakan dengan kenyataan di lapangan. Pada dasarnya, entah kapan kita akan benar-benar siap. Oke. ‘Siap’ mungkin satu hal, tapi kita tidak akan benar-benar cukup ilmu, karena semakin banyak kita menimba ilmu, semakin kita tahu bahwa kita tidak banyak tahu.
Saya pernah bilang, dari proses magang ini saya merasa paling diuji secara mental. Perkara menulis berita, 5W+1H, saya percaya dosen-dosen sudah mengajarkannya dengan cukup jelas untuk dapat kami serap. Pun saya yakin, dia tahu teknis memotret dengan baik, tahu isu, tahu konteks. Hanya tinggal memperbanyak jam terbang dengan turun ke lapangan. Jam terbang, menurut saya, merupakan satu hal yang akan membentuk sense dan ‘menciptakan’ keberuntungan.
Namun mental bukanlah hal yang cukup dibentuk di dalam ruang kelas.
Kali ini saya ingin bercerita pengalaman saya dengan Pak Bas—sapaan akrab Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU-Pera) Basuki Hadimuljono.
Saya masih ingat dengan jelas: pada suatu Jumat, koordinator liputan menugaskan saya untuk doorstop Pak Bas seusai beliau solat Jumat di masjid KemenPU-Pera dan bertanya terkait penyerapan anggaran yang lambat. Saya menunggu di sisi kanan pintu masjid berbekal hasil googling sekilas demi mendapat gambaran yang mana wajah Pak Bas. Apa daya, saya kehilangan jejak di antara ratusan—atau bahkan ribuan—pegawai kementerian yang bubar jalan keluar dari masjid.
40% putus asa, saya bertanya ke satpam, “Apakah tadi Bapak Menteri di dalam?”
Pak Satpam mengiyakan, lalu mengarahkan saya menuju gedung utama. Di sana, saya bertanya pada resepsionis dan sekuriti. Mereka senada mengatakan, Pak Menteri langsung pergi. Kata mereka, “Bapak ada rapat di istana.”
50% putus asa. Saya berdiri diam. Padahal saya sudah naik taksi dari depan Kementerian Perindustrian di Gatot Subroto menuju KemenPU-Pera di Kebayoran Lama. Habis Rp35 ribu. Paginya saya sudah naik Go-Jek dengan nominal setara. Masa saya pulang dengan tangan hampa?
Tak lama, sebuah mobil mendekat. Entah kenapa mata saya diarahkan melihat warna pelat nomornya. Berwarna merah dengan tulisan RI 34. Inilah titik awal saya memperhatikan pelat nomor meski tidak menghafal nomornya. Ditambah keberadaan polisi bermotor besar (voojrider). Cukup begitu mendeteksi keberadaan pejabat negara.
Pak Bas turun dari mobilnya sambil berbicara dengan seseorang melalui ponselnya, berjalan buru-buru masuk ke dalam lift. Saya bahkan hampir ikut masuk ke lift dan tidak dihalangi oleh siapapun, tapi menahan diri karena bingung dan canggung!
Merasa pasti Pak Bas ada di dalam kantornya, saya memutuskan menunggu. Kantor KemenPU-Pera tidak memiliki ruang tunggu di lobi yang memungkinkan orang yang duduk di situ memantau kedatangan atau kepergian siapapun. Maksud saya, berbeda dengan kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Intermezo ya, lobi kantor Kemenko Perek ini memiliki banyak kursi dan ada stop kontak hingga tidak perlu khawatir ponsel habis daya.
Saya menunggu sekitar tiga jam. Saya merasa pasti Pak Bas akan keluar sebelum pukul 18.00, karena sekuriti bilang ada acara buka puasa bersama di rumahnya. Sekitar pukul 17.00, benar Pak Bas keluar. Saya mendekat, menyodorkan recorder, dan bertanya terkait penyerapan anggaran.
Saat itu, saya benar-benar hanya bertanya capaian penyerapan anggaran, ditambah proyek apa yang akan digenjot. Untung Pak Bas begitu baik dan sabar menjawabnya. Dia juga sangat Njawani.
Mental saya dihajar pertama kali pada hari itu.
Beberapa waktu setelah itu, saya berkesempatan untuk doorstop lagi dengan Pak Basuki. Bersama banyak wartawan lainnya, saya memilih tidak mengajukan pertanyaan sama sekali. Takut pertanyaan saya sudah diajukan sebelumnya dan saya dianggap bodoh. Hmm.
Saya beberapa kali merasa Pak Menteri menujukan pandangan pada saya. Saya merasa ‘seharusnya’ mengajukan pertanyaan.
Minggu lalu, saya akhirnya bertanya kepada Pak Basuki. Terkait dana subsidi selisih bunga (SSB) untuk pembelian rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Sejak pernah menulis tentang kepemilikan properti bagi warga negara asing, entah kenapa perhatian saya selalu ditarik ke sana: penyediaan rumah bagi rakyat.
Hari ini, 20 Agustus, saya bertanya lagi pada Pak Bas. Kali ini, tanpa rasa grogi.
Saya tanya, apa pendapatnya tentang anggaran transfer daerah dan dana desa yang cukup besar berdasar RAPBN 2016. Banyak pihak mengkhawatirkan, daerah tidak mampu hingga berisiko dana mangkrak tidak terserap. Mekanisme seperti apa yang menurutnya bisa dilakukan, terutama terkait pembangunan infrastruktur yang sangat beririsan dengan kementerian yang ia pimpin.
Pak Bas bilang sebelum menjawab, “Pertanyaan yang bagus.”
Saya tidak tahu apakah Pak Bas berbicara dengan tulus.
Saya tidak peduli.
Rasa takut dan grogi telah terbentur dan lebur.
Saya tidak perlu rendah diri. Di lapangan, akan selalu ada pertolongan. Baik dari sesama maupun semesta.
Di lapangan, kita akan menemukan beberapa senior justru bertanya. Pada kita.