Suite No. 3 in D BWV 1068
Suite No. 3 in D BWV 1068 mengalun saat aku menulis catatan ini. Entah kenapa tiba-tiba ingin memutar Bach lewat Spotify--sebuah kemudahan yang patut disyukuri karena mendengarkan musik klasik jelas kemewahan yang tak bisa aku dapatkan dulu.
Aku tak tahu mengapa aku memilih mengulang simfoni ini alih-alih yang lain. Beberapa pendapat yang kutemui di mesin pencari mengatakan Bach tak menceritakan apa-apa di sini. Namun entah kenapa, simfoni ini terasa tepat untukku saat ini.
Sudah lewat beberapa bulan sejak aku terakhir menulis di sini. Belakangan, aku mulai menulis lagi di buku catatan, berusaha menuangkan rasa sakit dan pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi pikiran. Tidak mudah karena semua sudah menjadi bak benang kusut.Ā
Perasaan tidak enak hati membayangiku beberapa waktu belakangan. Tak semuanya bisa diuraikan, tapi setidaknya aku sampai pada satu kesadaran, bahwa aku sedang tidak baik-baik saja. Sakit di dada saat menyadari betapa kondisi ini berlangsung sudah cukup lama.
Hari demi hari, pekan demi pekan, bulan berlalu dengan tangis yang semakin lama semakin terjadi dalam diam. Pagi hari menjadi waktu yang berat, sebab kerap kali aku tak kuat dan punya energi untuk bangun dari tempat tidur dan pergi bekerja.
Aku tahu aku memerlukan pertolongan. Sesuatu yang tampaknya kutunda cukup lama. Bukan aku menghindar, tapi karena beberapa masalah teratasi setelah aku membicarakannya dengan mereka yang berkepentingan.Ā
Namun seiring waktu berjalan, persoalan silih berganti dan itu di luar kemampuan serta kendaliku. Aku mulai bertanya-tanya, barangkali masalahnya ada padaku. Mungkin aku yang tak bisa merespons persoalan dengan seharusnya. Mungkin aku terlalu banyak berpikir dan merasa.Ā Sampai aku lupa bagaimana caranya berbahagia.Ā
Pada titik ini, aku pun takut membagi rasa sakit ini kepada orang-orang dekat. Aku takut mereka pun sebenarnya sudah lelah, lalu marah, lalu menjauh.Ā
Aku tahu aku seharusnya mencari pertolongan. Tapi untuk sementara, biarkan catatan ini--dan Suite No. 3 in D BWV 1068--menjadi saksi, bahwa aku berusaha bertahan.














