Selamat malam, Adam. Hari sudah menuju kehabisannya. Esok tinggal menunggu seperdetak jam lagi. Apa kabar? Rasa-rasa kian lama hubungan kita kian renggang. Entah aku yang terlalu berlebihan atau ini suatu pertanda, kisah kita akan segera usai bukan? Aku melihat tingkahmu berbeda belakangan ini, kau berubah total. Apa aku berbuat salah? Jika ya, tolong katakan, aku benci tiba-tiba ditinggalkan tanpa suatu penjelasan terlebih dahulu; digantung.Â
Adam, tahu tidak? Saat membuat tulisan ini, secara tidak sengaja aku memutar lagu kesukaan kita. Mendadak aku rindu kamu, Dam. Aku rindu saat-saat di mana kita masih diperbudak oleh cinta, haha. Kala kasmaran itu memang terbaik, tiada duanya sungguh. Sekarang, istilah kasmaran entah tertendang kemana, sebab kita sudah terlalu sibuk dengan rutinitas masing-masing, dan mungkin perasaan kita memudar? Ah, jangan sampai!
Selamat pagi, Adam. Coba kau lekas buka tirai jendelamu. Lihat, mentari pagi ini begitu indah, aku tak kuasa melihatnya. Tuhan begitu hebat bukan? Ia dapat membuat mentari pagi yang begitu elok, hingga-hingga aku begitu terpesona. Kamu sudah sarapan? Jangan lupa ya.
Bagaimana tidur semalam? Apa sudah buat letihmu hilang? Jika ya, syukurlah. Dam, aku ingin mengatakan sesuatu. Aku sangat berterima kasih kepada dirimu sebab telah memberitahuku bahwa hidup ini indah. Jika hidup ini tidak hanya berwarna monokrom, masih banyak warna yang belum ku ketahui keindahannya.Â
Adam, kolom obrolan kita nyenyat sekali seperti jenat. Ku semogakan rasamu belum jenat. Aku masih begitu mencintaimu, Dam. Aku berjanji, selepas tahun baru ini, aku âkan menyebrangi pulau demi kamu. Aku akan bersua demi lepas rindu yang sudah terbendung. Jadi jangan berpaling. Aku rela kok menempuh ribuan mil demi kamu.Â
Tidak terasa tahun telah berganti, padahal baru kemarin aku membuat tulisan mengenai kerinduanku. Sekarang, aku tidak tahu tujuan tulisan ini kemana. Seperti kehilangan induknya, tulisan ini tertuju tanpa arah. Jangan tergesa, Adam betulan manusia kok, hanya saja... Sudahlah, tidak penting âtuk dibahas. Sebab, lelaki brengsek tidak berhak untuk dibahas.Â
Baiklah jika kamu memaksa aku akan bercerita. Begini, setelah menulis tulisan kemarin itu, kolom obrolan aku dengannya begitu riuh seperti pasar. Suatu keajaiban bukan? Sudah lama aku dan dia tidak seperti itu. Tiba-tiba ia mengirimiku sebuah kalimat yang membuat jantungku berdebar. Ia bilang, âAku ingin bicara serius.â ia pun meneleponku, lepas mengangkatnya suaranya terdengar parau, dengan panik aku menghunusnya dengan beribu-ribu pertanyaan bawel hingga dia berkata âdiamlahâ aku terdiam. Dia berkata tahun depan dia tidak ingin menghabiskan waktu denganku lagi, ia ingin warna baru di hidupnya, aku terlalu membosankan seperti warna hitam yang benar-benar gelap. Lalu dia terdiam cukup lama dan kembali berucap, âmaaf, aku di sini sudah memiliki yang baru. Sebetulnya, belakangan ini aku tidak terlalu sibuk, hanya saja aku benci jika aku harus tetap berhubungan denganmu dan berpura-pura bahwa segalanya biasa saja. Rasanya terlalu menjijikan. Sungguh maaf, aku tidak bisa melanjutkan hubungan yang entah bagaimana kejelasannya.â Setelah dia berkata hal nelangsa itu, aku tersenyum, mengeluarkan senyum terbaik ku meski aku tahu dia tidak dapat melihatnya. âIya, aku tahu aku membosankan, lagipula lelaki mana yang mau dengan wanita cacat sepertiku? Bicara saja aku masih seperti mengunyah, sedikit-sedikit cengeng, siapa yang âkan tahan? Namun, kenapa kamu harus memiliki seseorang yang baru sebelum merampungkan kisah kita? Apa aku terlalu kotor hingga kamu jijik dengan aku? Adam, apa kamu tahu? Di kala kamu sibuk dengan hidupmu, aku dengan setia menunggu kamu, menanti kabarmu meski hanya satu kalimat saja. Aku begitu merindumu, aku benar-benar menantimu. Nyatanya, selama itu aku menanti seseorang yang sudah berkhianat, seseorang yang menusuk belatinya dengan begitu dalam. Mengapa kau begitu tega? Kenapa?! Padahal, jika kamu memberiku penjelasan terlebih dahulu, aku pasti akan mengerti. Menjalani hubungan jarak jauh memanglah tidak mudah, tapi tidak usah berlagak seperti pria brengsek yang langsung mendapati seorang jalang dan meninggalkan boneka yang sudah jelek ini.â aku terdiam, menahan tangis yang harusnya sedari tadi sudah meledak. âBaik, jika itu memang mau kamu, kita sampai di sini saja. Lagipula, siapa yang mau tetap berdiri di samping pria brengsek sepertimu? Jika ada, tolong katakan bahwa dia itu bodoh!â ku tutup telepon dengan cepat, aku benar-benar tidak ingin mendengar suaranya lagi, aku benar-benar tidak dapat menahan tangisku ini.Â
Berarti, benar ya? Selama ini mengenai dugaanku? Ternyata, rasanya memang tâlah pudar sedari lama. Mengapa aku sebodoh ini? Menanti seseorang yang tidak jelas kabarnya dan tetap berpikir positif? Haha, me? Such a fool!