Hari ini ditutup dengan konseling seorang remaja perempuan 15 tahun yang tengah mengandung bayi usia 20 pekan. Ia mengenakan jaket abu-abu yang dipadankan dengan jilbab berwarna peach. Aku takjub dengan riasannya, flawless natural merona disempurnakan dengan softlens coklat dan cat kuku warna merah. Cantik, pujiku, ia pun tersenyum sangat manis.
Kemudian ia menceritakan masalahnya, bulir-bulir air mata tak sanggup dibendungnya, membuat riak anak sungai di pipi dan jilbabnya. Ia yang masih anak-anak tak lama lagi juga akan punya anak. Belum lagi permasalahan dengan pasangan, keluarga, saudara, fasenya yang remaja dengan beragam krisis, finansial, hormonal, keputusan harus putus sekolah menjelang akhir SMP untuk mengandung anak. Tak mudah. Ia bahkan membekaskan sayatan benda tajam di lengannya, hingga pikiran-pikiran untuk menyudahi segalanya. Ah, sungguh tak mudah jadi dirinya.
Di akhir sesi aku berterima kasih dan memeluknya erat, karena tetap mempertahankan bayi dalam rahimnya. Kesadaran akan kekhilafan yang telah dilakukan menghalangi ia melanjutkan mata rantai kesalahan-kesalahan lain yang lebih tragis. Ia belajar menerima konsekuensi atas khilaf yang lalu. Semoga edukasi selama konseling membekas dalam ingatannya sebagai upaya mengantisipasi dampak psikologis yang lebih berat, apapun perannya kelak.
Ah, memang tak mudah menjadi anak, apalagi orang tua. Setiap orang, setiap peran, setiap kita, punya medan tempurnya masing-masing. Be kind 🌼
Bpn, 040823



















