Akhir pekan ditutup dengan refleksi setelah nonton film A Man Called Otto. Aku tak akan beberkan tentang filmnya di sini, tapi bagi yang ingin menyaksikan langsung, mohon bijak membaca dan mengikuti disclaimer yang dipaparkan sebelum film dimulai.
Kerap, orang-orang yang terlihat menyebalkan, pemarah, sumbu pendek, murung, atau bahkan kondisi yang berkebalikan dari itu, adalah mereka yang paling memerlukan perhatian dan bantuan. Kita tak tahu liku terjal perjalanan yang mereka lalui hingga menjadi seperti hari ini. Maka sapaan hangat, ajakan, pelukan, pemberian makanan atau hadiah, interaksi yang menunjukkan saling membutuhkan dan saling mengisi, atau hanya bentuk perhatian kecil, bisa jadi dapat meluluhkan, atau bahkan menyelamatkan nyawa.
Maka benarlah kata Rasulullah “Janganlah meremehkan kebaikan sekecil apapun, walau hanya bertemu saudaramu dengan wajah berseri” (HR. Muslim)
Tak kalah penting, peluk mereka dalam doa-doa kita; semoga diberi kekuatan, kelembutan hati, kejernihan berpikir. Tunjukkan bahwa kita peduli pada mereka dan akan berupaya ada kapan pun mereka butuh. Bahwa berbagi, bercerita, dan memperlihatkan kerentanan atau sisi vurnerable tak melulu membuat lemah, melainkan menunjukkan sisi manusia yang paling manusiawi. Katakan bahwa mereka berharga dan layak dicintai. Yakinkan bahwa Allah tak akan pernah membebani di luar kapasitas yang sanggup dipikul oleh pundak kita, bahwa masalah kita tak pernah lebih besar dari Maha Besar-Nya. Ingatkan pula bahwa mencari pertolongan, menemui profesional, adalah opsi yang dapat diambil saat merasa kewalahan dan pilihan itu tak berarti kelemahan.
Untukmu yang bergelut dengan ragam masalah, yang berkubang dengan berbagai kesulitan, bertahan ya, yang kuat ya. Bertahanlah sehari lagi, lagi, dan lagi. Peluuuk erat 🫶