Dewa Itu Bernama Narada, Batara Narada
Sekali lagi, saya bukan master pewayangan jawa. Saya cuma maniak, terutama kisah Mahabharata. See? Lakon wayang favorit saya sangat mainstream yang menunjukan bahwa saya sama sekali bukan master apalagi expert.
...oke, bukan itu yang ingin saya bahas di sini.
Saya ingin membahas mahapatih-nya para dewa-dewi di kahyangan, tangan kanannya Batara Guru, "pahlawan" yang setia membantu Pandawa, dan kongkalikong-nya Semar; Batara Narada.
Batara Narada ini luar biasa heroik, ya. Dia mati-matian berusaha mengembalikan Dresnala pada suami sahnya, Raden Arjuna, dari tangan licik Dewasrani dan Betari Durga; dia menyelamatkan Wisanggeni dari dewa-dewi yang tukang bully; dia rela jabatan mahapatihnya dicopot karena tidak ingin terlibat dalam sistem yang dibuat Batara Guru saat raja para dewa-dewi itu memonopoli turunnya Wahyu Tejamaya untuk kepentingan anaknya, Dewasrani; dia tidak ragu memarahi Batara Guru yang ujug-ujug membangunkan dirinya dari tapa yang dalam dan khidmat; pokoknya dia seperti pahlawan yang tidak pernah disebut terang-terangan namanya dalam pewayangan Mahabharata. Saya jauh lebih respek pada Batara Narada dibandingkan dengan Batara Guru.
Mungkin karena istri Batara Guru adalah Dewi Uma alias Betari Durga, ya, makanya saya tidak begitu menyukai Batara Guru. Dewi Uma sangat memanjakan Dewasrani, anaknya; dan Dewasrani sendiri senang dimanjakan. Tidak ada kombo yang lebih menyebalkan daripada ibu yang memanjakan anakanya + anak yang suka dimanjakan.
Salah satu petikan dari Semar Mesem tentang sifat Batara Narada yang tidak kenal takut dan segan pada Batara Guru adalah saat di mana Batara Narada mengkonfrontasi Batara Guru yang mengatakan pada Dewasrani untuk "menghabisi" Pandawa dan Semar.
Batara Narada: ...bahwa kau mengatur muslihat agar Wahyu Tejamaya jatuh ke tangan anakmu di Nusarukmi, Dewasrani. Itu bagiku bukan soal. Tapi kau jagan memprovokasi anakmu supaya menghabisi Pandawa dan Semar Badranaya. Aku menolak keras dan menentang muslihatmu.
Batara Guru : Ooo, alaaah jagat dewa-batara. Hua ha ha ha...!
Batara Narada : Hei, prekencong waru doyong... jangan tertawa seperti itu prekencong prekencong waru doyong kelak mulutmu jadi monyong...
Batara Guru : Ha ha ha ha... jadi itu. Masalah tafsir. Ini tak lebih dari soal tafsir
Batara Narada : Soal tafsir bagaimana?
Batara Guru : Karena itu sejak tadi kukatakan itu tak lebih dari gosip.
Batara Narada : Aah, itu hanya dalihu saja. Kau bisa saja berdalih itu hanya bahasa simbolik, perumpamaan. Tapi sengaja kau gunakan kata itu. Kalaupun anakmu jadi melaksanakan saran dan provokasimu itu, maka sebenarnya kau pun membenarkannya. Begitu, bukan?
Batara Guru : Yaa, apa boleh buat. Tetapi kepada siapa lagi aku mesti bersumpah? Kita ini sesama dewa. Demi kahyangan yang abadi...
Batara Narada : Eit! Stop! Hentikan sumpahmu, Batara Guru. Jangan pakai sumpah-sumpah segala. Karena ini soal sepele. Akui saja. Maka aku pun akan berusaha keras supaya siasat dan muslihatmu itu sia-sia.
Pokoknya, saya suka sekali dengan karakter Batara Narada.
Tapi ada satu sifat Batara Narada yang membuat dia tidak 'semegah' itu. Sifat itu disebutkan Bagong dalam buku Semar Mesem yang baru saja saya baca.
Diceritakan Bagong menyamar menjadi Semar yang menghilang. Di suatu subuh, Bagong dibangunkan oleh kedatangan Batara Narada yang menyampaikan perihal Wahyu Tejamaya. Setelah Batara Narada pergi, Bagong menyambangi kedua saudaranya dengan panik. Ia menyampaikan berita itu dengan terburu-buru. Dengan bingung, bertanyalah saudaranya,
"Kok bisa dewa kayak Batara Narada salah ngenali kamu sebagai Romo Semar?"
Dan Bagong menjawab. "Lha wong dia jalannya ndongak. Ya mana bisa dia bedakan aku atau Romo Semar."
Awalnya saya mengira itu semacam guyonan mengenai bentuk wayang Batara Narada khas Surakarta yang memang dibuat mendongak kepalanya. Kemudian saya teringat mengenai salah satu petikan cerita dari kisah Mahabharata mengenai pusaka Konta milik Karna.
Awalnya pusaka itu ditujukan dewata untuk Arjuna yang melakukan tapa. Namun karena berwajah mirip, Batara Narada salah memberikan pusaka itu kepada adipati kesayangan Kurawa sekaligus saudara satu ibu lain ayah Arjuna, Adipati Karna.
Wah, aneh ya, sifatnya. Saya belum bisa menentukan apakah sindirian 'jalan ndongak' Bagong itu menyiratkan bahwa Batara Narada adalah dewa yang 'sombong' sehingga tidak mau menatap dengan detil lawan bicaranya yang bukan dewa...
...atau dia hanya sekedar ceroboh dan suka terburu-buru.
Entahlah. Saya harus lebih banyak membaca mengenai Batara Narada ini.
Tapi Batara Narada tetap jadi salah satu favorit saya selain Pinten dan Tangsen.